Sam Altman Wants to Build Rockets? Is This AI’s Next Power Move or Just Sci-Fi Ego?
Sam Altman Mau Bangun Perusahaan Roket? Ini Langkah Strategis AI atau Cuma Ego Fiksi Ilmiah?

Jadi Sam Altman sekarang lagi cari-cari perusahaan roket? Menurut The Wall Street Journal, dia diam-diam mengeksplorasi kesepakatan bernilai miliaran dolar untuk membiayai atau mengakuisisi penyedia peluncuran—kemungkinan Stoke Space—karena, tampaknya, Bumi sudah terlalu sempit untuk nafsu daya AI.
Visinya? Pusat data antariksa yang didukung tenaga surya luar angkasa. Kedengarannya seperti fiksi ilmiah, tapi Altman sangat serius. Tujuannya: memanfaatkan tenaga surya tak terbatas di orbit, menghindari batasan Bumi seperti lahan dan emisi karbon. Tapi jujur saja—ini bukan cuma soal keberlanjutan. Ini soal menang dalam perlombaan komputasi.
Dan siapa musuh yang jelas? Elon Musk, tentu saja. Hubungan mereka berubah dari bersama mendirikan OpenAI menjadi Perang Dingin 2.0. Ambisi roket Altman bukan cuma menunjukkan arah AI—tapi juga siapa yang sebenarnya ingin dia kalahkan.
Mari turun ke bumi. Permintaan energi dari kluster AI tumbuh secara eksponensial. Jaringan listrik darat tidak bisa berkembang tanpa batas. Energi surya antariksa bukan cuma fiksi ilmiah—itu solusi potensial untuk hambatan nyata. Jika kita ingin AGI dalam skala besar, mungkin kita tak punya pilihan lain.
Oh ayolah. Ini pemutihan hijau dalam skala antarplanet. Alih-alih memperbaiki energi kotor di Bumi, kita malah berfantasi tentang pertanian surya antariksa? Utamakan dekarbonisasi di sini sebelum menjajah orbit dengan pusat data.
Bumi hanyalah server beta. Tempat yang terbatas sumber dayanya, penuh bug, dan sudah waktunya upgrade perangkat keras. Mari bangun infrastruktur asli di angkasa—tanpa birokrasi, tanpa NIMBY, hanya watt surya dan kebebasan.
Ah iya dong, saat chatbot-mu kalah dari Gemini, respons logisnya adalah—bangun roket. Logika startup puncak: abaikan produk, kejar mitosnya.
Cerita sebenarnya bukan infrastruktur—tapi rivalitas. Ini Musk vs. Altman: dua dewa teknologi main catur 4D sementara kita yang lain bahkan belum bisa nyalakan laptop.
Kamu pikir meluncurkan roket lebih mudah daripada memperbaiki jaringan listrik? Setiap peluncuran orbit menelan biaya ratusan juta. Tantangan teknologi sesungguhnya adalah penyimpanan dan distribusi energi, bukan fantasi antariksa.
Tepat sekali. Dan jangan lupa: peluncuran roket sangat mencemari. Kita menukar emisi karbon di Bumi dengan kerusakan atmosfer dari semburan roket? Itu bukan kemajuan.
Kita terlalu fokus pada bisa atau tidak sampai lupa bertanya harus atau tidak. Menjajah ruang angkasa untuk monopoli komputasi bukan inovasi—ini membangun imperium dengan cat hijau.