Valentino Just Posted an AI Ad — And the Internet Is Calling It 'Sloppy'? Is This the Death of Creative Fashion?
Valentino Baru Saja Unggah Iklan Berbasis AI — dan Netizen Bilang 'Asal-asalan'? Apakah Ini Akhir dari Kreativitas Mode?

Valentino baru saja merilis kampanye berbasis AI untuk tas DeVain—dan langsung jadi bahan cemoohan. Video Instagram yang 'surealis' ini menampilkan model menyatu dengan tas emas, logo berubah jadi lengan, lalu menyatu jadi pusaran tubuh abstrak. Kritikus menyebutnya 'murahan', 'mengecewakan', dan ya, 'sampah AI'.
Yah, merek ini memang transparan—menempel stiker 'dibuat oleh AI' di unggahan—tapi itu tidak menyelamatkannya. Orang bukan marah karena teknologinya; mereka marah karena apa yang digantikan. Saat merek mewah menukar seni dengan efisiensi, penggemar merasa dikhianati. Dan jujur? Visualnya mirip mimpi buruk Tumblr tahun 2015.
Kesalahan Valentino bukan karena pakai AI—tapi karena pakainya tanpa konsep. AI itu alat, bukan sutradara kreatif. Saat kamu biarkan AI menghasilkan visual tanpa narasi atau inti emosional, yang muncul adalah kebisingan surealis, bukan cerita. Kemewahan dibangun dari makna, bukan algoritma.
Sebagai seseorang yang menghabiskan 10 tahun belajar rendering dan animasi, ini membuatku marah. Mereka bisa saja berkolaborasi dengan seniman digital sungguhan daripada sekadar memasukkan prompt Midjourney ke dalam kehampaan.
Kemarahan ini mencerminkan kecemasan budaya yang lebih dalam: kita tidak takut pada AI, kita takut pada merek yang berpura-pura bahwa otomatisasi adalah inovasi. Valentino bukan perintis—mereka sedang menghemat biaya. Dan menyebutnya 'proyek kreatif digital'? Itu hanya restyling, bukan pemikiran ulang.
Dulunya, iklan Valentino berarti film sungguhan, model sungguhan, emosi sungguhan. Kini cuma transisi error dan sampah AI. Aku tahu teknologi berkembang. Tapi jiwa? Itu abadi.
Jangan membuang bayi bersama air mandinya. AI bisa jadi artistik. Tapi hanya jika dikendalikan oleh visi. Valentino tidak gagal karena AI—ia gagal karena kurang berani memikirkan ulang makna kemewahan.
Kalian berlebihan. Aku bisa buat yang lebih bagus dalam 10 menit. AI adalah masa depan. Terima saja.
Lucu bagaimana 'masa depan' selalu berarti tenaga kerja lebih murah dan seniman semakin tidak dihargai.
Entahlah, iklannya agak ngeri sih, tapi aku tetap mau beli tasnya. Hype tetap hype.