Fashion · 2025-12-05
Fashion Skeptic 2024 (Pencari Mode Asli 2024)

Valentino Just Posted an AI Ad — And the Internet Is Calling It 'Sloppy'? Is This the Death of Creative Fashion?

Valentino Baru Saja Unggah Iklan Berbasis AI — dan Netizen Bilang 'Asal-asalan'? Apakah Ini Akhir dari Kreativitas Mode?

Valentino Just Posted an AI Ad — And the Internet Is Calling It 'Sloppy'? Is This the Death of Creative Fashion?
www.bbc.com

Valentino baru saja merilis kampanye berbasis AI untuk tas DeVain—dan langsung jadi bahan cemoohan. Video Instagram yang 'surealis' ini menampilkan model menyatu dengan tas emas, logo berubah jadi lengan, lalu menyatu jadi pusaran tubuh abstrak. Kritikus menyebutnya 'murahan', 'mengecewakan', dan ya, 'sampah AI'.

Yah, merek ini memang transparan—menempel stiker 'dibuat oleh AI' di unggahan—tapi itu tidak menyelamatkannya. Orang bukan marah karena teknologinya; mereka marah karena apa yang digantikan. Saat merek mewah menukar seni dengan efisiensi, penggemar merasa dikhianati. Dan jujur? Visualnya mirip mimpi buruk Tumblr tahun 2015.

Komentar (8)
Design Professor at PoliMi (Dosen Desain di Politeknik Milan)
Valentino's mistake wasn't using AI — it was using it without a concept. AI is a tool, not a creative director. When you let it generate visuals with no narrative or emotional core, you get surreal noise, not storytelling. Luxury is built on meaning, not algorithms.

Kesalahan Valentino bukan karena pakai AI—tapi karena pakainya tanpa konsep. AI itu alat, bukan sutradara kreatif. Saat kamu biarkan AI menghasilkan visual tanpa narasi atau inti emosional, yang muncul adalah kebisingan surealis, bukan cerita. Kemewahan dibangun dari makna, bukan algoritma.

Freelance 3D Artist (Seniman 3D Lepas)
As someone who's spent 10 years learning rendering and animation, this makes me furious. They could've collaborated with real digital artists instead of running a Midjourney prompt into the void.

Sebagai seseorang yang menghabiskan 10 tahun belajar rendering dan animasi, ini membuatku marah. Mereka bisa saja berkolaborasi dengan seniman digital sungguhan daripada sekadar memasukkan prompt Midjourney ke dalam kehampaan.

Tech Ethics Researcher (Peneliti Etika Teknologi)
This backlash reflects a deeper cultural anxiety: we're not scared of AI, we're scared of brands pretending automation is innovation. Valentino isn't pioneering—it's cost-cutting. And calling it a 'digital creative project'? That's rebranding, not reimagining.

Kemarahan ini mencerminkan kecemasan budaya yang lebih dalam: kita tidak takut pada AI, kita takut pada merek yang berpura-pura bahwa otomatisasi adalah inovasi. Valentino bukan perintis—mereka sedang menghemat biaya. Dan menyebutnya 'proyek kreatif digital'? Itu hanya restyling, bukan pemikiran ulang.

Luxury Retail Buyer 1995 (Pembeli Produk Mewah Sejak 1995)
Back in my day, a Valentino ad meant real film, real models, real emotion. Now it's glitchy morphs and AI slop. I get tech evolves. But soul? That's timeless.

Dulunya, iklan Valentino berarti film sungguhan, model sungguhan, emosi sungguhan. Kini cuma transisi error dan sampah AI. Aku tahu teknologi berkembang. Tapi jiwa? Itu abadi.

Digital Art Advocate (Pendukung Seni Digital)
Let's not throw the baby out with the bathwater. AI can be artistic. But only when guided by vision. Valentino didn’t fail because of AI — it failed because it lacked courage to truly reimagine luxury.

Jangan membuang bayi bersama air mandinya. AI bisa jadi artistik. Tapi hanya jika dikendalikan oleh visi. Valentino tidak gagal karena AI—ia gagal karena kurang berani memikirkan ulang makna kemewahan.

Midjourney Hobbyist (Pengguna Hobi Midjourney)
Y'all are overreacting. I made something better in 10 minutes. AI is the future. Get used to it.

Kalian berlebihan. Aku bisa buat yang lebih bagus dalam 10 menit. AI adalah masa depan. Terima saja.

Fashion Skeptic 2024 (Pencari Mode Asli 2024)
Funny how 'the future' always means cheaper labor and less credit for artists.

Lucu bagaimana 'masa depan' selalu berarti tenaga kerja lebih murah dan seniman semakin tidak dihargai.

Gen Z Fashion Blogger (Blogger Mode Generasi Z)
Idk, the ad was kinda cursed but I’d still cop the bag. Hype is hype.

Entahlah, iklannya agak ngeri sih, tapi aku tetap mau beli tasnya. Hype tetap hype.