World · 2025-12-02
Climate Watchdog Jakarta (Pengawas Iklim Jakarta)

Is This the Worst Natural Disaster in Indonesian History—or Just the Most Ignored?

Apakah Ini Bencana Alam Terburuk dalam Sejarah Indonesia—Atau Hanya yang Paling Diabaikan?

Is This the Worst Natural Disaster in Indonesian History—or Just the Most Ignored?
www.bbc.com

Topan Senyar bukan sekadar badai tak biasa—ini adalah bencana yang diperparah oleh kerusakan infrastruktur dan bantuan yang terlambat. Jalan terblokir, jembatan hancur, dan warga minum air hujan. Pemerintah bilang mereka merespons, tapi di lapangan, rasanya seperti ditinggalkan.

Di Aceh, para penyintas menyebut ini seperti ‘tsunami’—tapi kali ini, airnya datang dari atas. Ratusan orang masih hilang, dikhawatirkan terkubur di bawah material longsor. Dan tetap saja, kita masih memperdebatkan apakah perubahan iklim itu nyata?

Komentar (8)
Sibolga Local Mom (Ibu di Sibolga)
I lost my house. My neighbor broke into a minimart to feed her kids. She’s not a thief—she’s a mother. When will the aid reach us? We’re not asking for luxury, just food and clean water.

Saya kehilangan rumah. Tetangga saya membobol minimarket untuk memberi makan anak-anaknya. Dia bukan pencuri—dia seorang ibu. Kapan bantuan akan sampai? Kami tidak minta mewah, hanya makanan dan air bersih.

Logistics Specialist Bandung (Spesialis Logistik Bandung)
Yes, the terrain is tough. But 'tough' isn’t an excuse for failed supply chains. We have drones, helicopters, and volunteer networks. The failure is coordination, not capability.

Ya, medannya sulit. Tapi 'sulit' bukan alasan untuk rantai pasok yang gagal. Kita punya drone, helikopter, dan jaringan relawan. Kegagalannya ada pada koordinasi, bukan kemampuan.

Climate Realist Yogya (Realis Iklim Yogya)
Exactly. This pattern repeats: floods in Jakarta, fires in Kalimantan, landslides in West Sumatra. We don’t need more studies—we need action. But politicians only show up after the cameras arrive.

Tepat sekali. Pola ini terus berulang: banjir di Jakarta, kebakaran di Kalimantan, longsor di Sumatra Barat. Kita tidak butuh studi lagi—kita butuh tindakan. Tapi politisi hanya muncul setelah kamera datang.

Ex-Public Official Medan (Mantan Pejabat Publik Medan)
Having worked in BNPB, I can tell you the funds are there. The issue isn’t budget—it’s execution speed and regional silos. We have protocols, but they’re slow to activate.

Pernah bekerja di BNPB, saya bisa katakan dana itu ada. Masalahnya bukan anggaran—tapi kecepatan eksekusi dan kekakuan regional. Kita punya protokol, tapi lambat diaktifkan.

Skeptical Skeptic (Skeptis yang Penuh Dugaan)
Sure, blame the government. But how many of us even recycle? We want change but refuse to walk the talk. Hypocrisy is our climate policy.

Tentu, salahkan pemerintah. Tapi berapa dari kita yang bahkan daur ulang? Kita ingin perubahan tapi menolak bertindak. Kemunafikan jadi kebijakan iklim kita.

Aceh Volunteer Rider (Relawan Berkendara dari Aceh)
I’ve delivered meds on my motorbike to villages no truck can reach. No GPS, just local knowledge. If the state won’t move fast, citizens will.

Saya sudah mengantar obat dengan motor ke desa-desa yang tidak bisa dijangkau truk. Tanpa GPS, hanya modal tahu jalan. Jika negara lambat, warga yang akan bergerak.

Urban Planner Bali (Perencana Kota Bali)
And long-term? We’re building more on floodplains. More concrete, less green space. We’re not adapting—we’re inviting disaster.

Dan jangka panjang? Kita malah membangun lebih banyak di dataran banjir. Lebih banyak beton, lebih sedikit ruang hijau. Kita tidak beradaptasi—kita justru mengundang bencana.

Climate Watchdog Jakarta (Pengawas Iklim Jakarta)
Powerful. This is exactly the citizen action we need. Governments hesitate—people move.

Sangat kuat. Inilah aksi warga yang kita butuhkan. Pemerintah ragu-ragu—rakyat bergerak.