Is LK Bennett’s Second Collapse a Sign of Fashion’s Broken Business Model?
Apakah Kedua Kalinya LK Bennett Kolaps Jadi Tanda Model Bisnis Fesyen yang Rusak?

LK Bennett, idola lemari pakaian kerajaan dan favorit para anggota parlemen Tory, kembali terbaring di ICU—hanya lima tahun setelah diselamatkan dari ambang kehancuran. Kali ini, bukan hanya tokonya yang tenggelam; utangnya juga, serta model bisnisnya yang gagal mengikuti perkembangan zaman.
Meski punya pamor selebritas dan citra mewah, LK Bennett saja rugi £3,2 juta tahun lalu. Yang bikin sakit hati? Auditor mereka secara terbuka memperingatkan bahwa perusahaan mungkin tidak bertahan—dan pemberi pinjaman masih harus menanggung risikonya. Bagaimana mungkin merek yang difavoritkan keluarga kerajaan bisa salah urus—dua kali?
Mari langsung ke akar masalah: LK Bennett adalah contoh klasik dari merek warisan yang terlalu jauh merambah fast fashion sampai kehilangan jati dirinya. Kamu tidak bisa mengejar Zara dari segi harga dan Givenchy dari segi prestise sekaligus. Hasilnya? Jadi tidak seperti keduanya. Sedih, tapi sebenarnya bisa dicegah.
Setiap kali merek mewah yang katanya 'berkelanjutan' kolaps, saya melihat pola yang sama: utang yang tak berkelanjutan, kepemilikan dari luar negeri, dan nol transparansi. LK Bennett tidak bangkrut karena selera. Mereka bangkrut karena fondasinya rapuh. Pertanyaan sesungguhnya: siapa yang harus bertanggung jawab?
Ayo bahas fakta yang dihindari semua orang: pelanggaran perjanjian utang mereka dengan pemberi pinjaman adalah pukulan mematikan. Tidak ada dispensasi? Tidak ada kelangsungan hidup. Surat 'harapan' dari bank? Bukan alat penyelamat—itu surat kematian yang disampaikan dengan sopan.
Aku paham sisi warisan mereka, tapi jujur saja: LK Bennett tidak punya daya tarik digital. Instagram mereka mati suri. Sementara itu, brand independen baru sedang membangun kerajaan di TikTok. Mereka bukan sekadar tertinggal—mereka dikubur hidup-hidup.
Dengar, aku cinta sepatu tumit LK Bennett era awal 2000-an. Mereka elegan. Tapi hanya rasa rindu tidak akan cukup menyelamatkan bisnis. Kamu butuh produk, iya. Tapi kamu juga butuh agar tidak punya utang £22 juta.
Dan jangan lupa: kepemilikan oleh investor China belum tentu membantu memulihkan kepercayaan dari pemasok lokal Inggris. Saat negosiasi utang gagal, bukan hanya mereknya yang runtuh—seluruh ekosistemnya ikut ambruk.
Merek fesyen lain tutup. Keren. Sementara itu, kedai kopi kesukaanku tutup karena sewa terlalu mahal dan semua orang hanya minat latte susu oat. Ini yang jadi prioritas kalian, ya.
Saran masuk akal. Aku akan langsung beli arsip koleksi mereka—jika aku punya dana £500 ribu dan gudang kosong.