Bugonia Ends with Marlene Dietrich and My Sanity in Shards — Is This Yorgos Lanthimos’ Worst Needle Drop or a Masterstroke of Absurdist Horror?
Bugonia Berakhir dengan Marlene Dietrich dan Sisa Kewarasan Saya Hancur — Apakah Ini Drop Musik Terburuk Yorgos Lanthimos atau Justru Kejutan Absurdis yang Ciamik?

Lanthimos kembali dengan Bugonia—film yang dimulai seperti thriller konspirasi tapi berubah jadi sesuatu yang jauh lebih aneh. Emma Stone, sebagai CEO yang sangat rasional diculik dua sepupu gila, berusaha keluar dari ruang bawah tanah lewat logika, sementara realitas di sekitar terasa mulai terkoyak.
Tapi mari bicara soal tiga menit 37 detik terakhir—saat versi menyeramkan Marlene Dietrich dari 'Where Have All the Flowers Gone?' dimainkan utuh, berulang-ulang, sementara kamera berlama-lama di gambar yang repetitif dan nyaris menindas. Apakah ini jenius? Atau ini ekuivalen sinematik dari garam di kopi—tak perlu, mencolok, dan sangat tak diinginkan?
Lanthimos kehilangan jiwanya begitu berhenti menulis bareng Filippou. Bugonia punya estetika tapi tanpa jiwa. Kayak nonton band favorit main konser reunion dengan musisi bayaran—mahir secara teknis, tapi kosong secara emosional.
Saya beneran gak ngerti tadi nonton apa. Adegan akhirnya kayak ada yang matiin subtitle dan meninggalkan saya di alam semesta paralel. Tapi jujur? Saya agak suka. Apa ini hal yang buruk?
Memutar versi Dietrich sepanjang lima bait bukan pamer intelektual—ini perang psikologis. Kamu nggak dengerin lagunya. Lagunya yang dengerin kamu. Itu maknanya.
Adegan Emma Stone sebagai Michelle sangat akurat. Cara bernegosiasi dingin dan terkendali di bawah tekanan? Itulah bahasa kekuasaan yang sesungguhnya. Nggak soal keras, tapi soal ketepatan.
Kalau kamu pergi dari bioskop tanpa ngerasa mungkin kamu juga alien, Lanthimos gagal. Ketidaknyamanan itulah intinya. Masalahnya bukan musiknya. Kamu sendiri yang masalahnya.
Kamu kira kekosongan emosional bikin film jadi ‘dalam’? Itu cuma skenario malas yang disamarkan sebagai kedalaman. Film bagus bikin kamu merasa—meskipun itu rasa tidak nyaman—tapi bukan seperti kamu diremehkan.
Oh, kamu pengen halus? Di film Lanthimos? Hah. Seluruh kariernya adalah sindiran terhadap ‘halus’. Lagu itu bukan kikuk—itu guillotine.
Horornya bukan ruang bawah tanah. Tapi sadar bahwa atasanmu mungkin beneran alien. Dan jujur? Saya bakal percaya.