Wicked: For Good Just Dominated November’s Box Office—But Is Hollywood Running Out of Original Ideas?
Wicked: For Good Menggemparkan Bioskop November—Tapi Apa Industri Film Lagi Kehabisan Ide Asli?

Universal tengah merayakan lagi-lagi Senin dengan pemasukan $14,7 juta untuk Wicked: For Good—angka yang mengungguli semua Senin non-libur tahun ini dan menempati peringkat kedua untuk semua Senin bulan November sepanjang masa. Sekuel ini bukan sekadar mengandalkan gelombang waralaba; ia benar-benar melampaui pendahulunya sejauh 26% pada titik penayangan yang sama. Itu bukan keberuntungan—melainkan momentum yang dibangun dari loyalitas merek, keterlibatan kuat penggemar, dan kenyamanan dari hal yang sudah dikenal.
Tapi inilah ironinya: meskipun Zootopia 2 diperkirakan meraup $125 juta selama Thanksgiving, daya tarik yang lebih luas bisa justru merugikan pertahanan Wicked: For Good. Dan dengan total box office turun 25% dibanding tahun lalu—terutama karena tidak adanya film populer yang menarik penonton pria seperti Gladiator II tahun lalu—kita melihat pola yang mengkhawatirkan. Para studio bukan hanya main aman; mereka mempertaruhkan semuanya pada musikal yang digerakkan perempuan sambil meninggalkan kelompok penonton lainnya.
Anak-anak memaksa saya nonton Wicked: For Good minggu lalu. Saya masuk dengan skeptis, pulang malah bersenandung. Itu dia keajaiban musikal—mereka bukan cuma menghibur, tapi melekat di hati. Siapa peduli kalau ini sekuel lagi? Kalau bisa menyatukan keluarga, harganya sepadan.
Luar biasa, sekuel warisan lagi. Karena dunia pasti butuh lebih banyak Wicked. Studio terus mendaur ulang IP yang sama sementara naskah orisinal mengumpulkan debu di rak. Tapi yaelah, sebut saja $14,7 juta itu ‘sukses’ sementara film indie tak bisa dapat satu kali pemutaran pun.
Sebenarnya, pertumbuhan 26% dibanding film aslinya cukup mengesankan. Kita berada di pasar pasca-pandemi di mana pertahanan lebih dari 20% itu sudah kemenangan. Wicked: For Good bukan cuma selamat—tapi unggul. Konteks itu penting.
Tepat sekali. Ini bukan tahun 2019. Penonton lebih selektif, tiket bioskop lebih mahal, dan perhatian lebih pendek. Mengungguli film asli di pasar yang lebih sulit? Itu bukan kebetulan—melainkan strategi.
Jujur saja—manusia rindu masa lalu. Wicked dan Zootopia bukan cuma film; mereka kapsul waktu emosional. Studio sadar akan hal ini, dan bijak memperkuat ketergantungan itu. Kenapa bikin cerita baru kalau penonton sudah menangis saat nonton trailernya?
Zootopia 2 dapat 53% perempuan vs 47% laki-laki? Lebih luas daripada Moana 2 yang 71%-nya perempuan. Studio kini akan mengejar konten yang digerakkan perempuan tapi menarik semua kalangan. Ini bukan bias—murni ekonomi.
‘Murni ekonomi’ inilah sebabnya kita dapat lima sekuel Wicked dan nol cerita orisinal di 3.000 layar. Tapi yaudah deh, setidaknya trailernya cantik.
Masih ingat saat ‘Musim Panas Disney’ berarti inovasi Pixar? Kini jadi ‘Musim Gugur Sekuel’. Masa keemasan pengambilan risiko digantikan oleh masa platinum eksploitasi data.