Environment · 2025-11-21
Climate Watchdog 2025 (Penjaga Iklim 2025)

Fossil Fuels Are Peaking by 2030... But the US Just Forced the IEA to Pretend Otherwise?

Bahan Bakar Fosil Akan Mencapai Puncaknya pada 2030... Tapi AS Baru Saja Memaksa IEA untuk Berpura-pura Sebaliknya?

Fossil Fuels Are Peaking by 2030... But the US Just Forced the IEA to Pretend Otherwise?
www.carbonbrief.org

Laporan terbaru IEA menegaskan bahwa permintaan batu bara, minyak, dan gas akan mencapai puncaknya sebelum 2035 berdasarkan kebijakan yang dinyatakan pemerintah—berkat lonjakan energi bersih. Tapi ini bagian mengejutkannya: AS mendesak IEA untuk memperkenalkan kembali skenario 'kebijakan saat ini' yang mengasumsikan setiap negara meninggalkan rencana iklim mereka. Tiba-tiba, permintaan minyak dan gas terus naik. Nyaman bagi perusahaan minyak besar, mencurigakan bagi semua orang lain.

Bagian paling memilukan? Skenario 'kebijakan saat ini' ini bukan bisnis biasa—ini fantasi di mana dunia secara sistematis membongkar ambisinya terhadap iklim. Sementara itu, kisah nyatanya adalah ledakan energi bersih: panel surya naik 344%, angin naik 178%, nuklir naik 39%. Masa depan sedang tiba. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita akan berpura-pura tidak melihatnya.

Komentar (7)
Energy Economist at UN (Ekonom Energi di PBB)
Let's be clear: the 'current policies scenario' isn't a neutral baseline. It's a lobbying tool rebranded as analysis. The IEA explicitly says that 'business as usual' would mean clean tech continues expanding. So calling this pessimistic fossil-friendly path 'realistic' is pure political theater.

Mari kita fokus: skenario 'kebijakan saat ini' bukan dasar netral. Ini alat lobi yang dikemas ulang sebagai analisis. IEA secara eksplisit menyatakan bahwa 'bisnis biasa' berarti teknologi bersih terus berkembang. Jadi menyebut jalur pesimistis yang pro-fosil ini 'realistis' adalah teater politik murni.

Texan Oil Rig Consultant (Konsultan Rig Minyak dari Texas)
Finally, a scenario that respects reality. Most countries aren’t meeting their pledges. Renewables are great, but what about grid reliability during a storm? We need gas as a bridge, not fairy tales about peaking oil by 2027.

Akhirnya, skenario yang menghargai realitas. Kebanyakan negara tidak menepati janjinya. Energi terbarukan bagus, tapi bagaimana keandalan jaringan saat badai? Kita butuh gas sebagai jembatan, bukan dongeng tentang minyak yang mencapai puncak pada 2027.

Skeptical Solar Engineer (Insinyur Surya yang Ragu)
Funny how 'grid reliability' only becomes an issue when discussing renewables. Gas plants go offline too. But sure, let’s pretend only solar has intermittency problems while ignoring that new storage cuts downtime by 80%.

Lucu bagaimana 'keandalan jaringan' baru jadi isu saat membahas energi terbarukan. Pembangkit gas juga mogok. Tapi yasudah, mari berpura-pura hanya surya yang punya masalah pasokan sementara mengabaikan bahwa penyimpanan baru memotong waktu henti hingga 80%.

Climate Law PhD Candidate (Kandidat Doktor Hukum Iklim)
This isn’t about data integrity. It’s about narrative control. The CPS isn’t a forecast—it’s a weaponized 'what if' used to delay policy. Just like the tobacco industry’s fake debates in the 1990s.

Ini bukan soal integritas data. Ini soal kendali narasi. CPS bukan prediksi—ini 'bagaimana jika' yang dijadikan senjata untuk menunda kebijakan. Sama seperti perdebatan palsu industri tembakau di tahun 1990-an.

Retired Coal Miner (Pensiunan Penambang Batu Bara)
My town died when the mines closed. Don’t romanticize the decline. Just transition? More like no transition. We got nothing while cities get shiny solar farms.

Kota saya mati saat tambang ditutup. Jangan romantisasi penurunannya. Transisi adil? Lebih seperti tidak ada transisi. Kami tidak dapat apa-apa sementara kota-kota dapat pertanian surya yang mengilap.

Urban Climate Realist (Realis Iklim Perkotaan)
Yes, retraining programs failed. But blaming renewables for a policy failure is like blaming electric cars for bad charging infrastructure. Fix the policy, not the tech.

Ya, program pelatihan ulang gagal. Tapi menyalahkan energi terbarukan atas kegagalan kebijakan sama seperti menyalahkan mobil listrik atas infrastruktur pengisian yang buruk. Perbaiki kebijakannya, bukan teknologinya.

Tech Optimist Blogger (Blogger Optimis Teknologi)
The IEA keeps underestimating solar. Again. They predicted 90% cost drops by 2030—by 2025. We’re not just meeting expectations; we’re shattering them. Growth isn’t linear—it’s exponential. And politicians are still thinking in spreadsheets.

IEA terus meremehkan tenaga surya. Lagi-lagi. Mereka memprediksi penurunan biaya 90% pada 2030—tapi itu sudah terjadi pada 2025. Kita bukan cuma memenuhi ekspektasi; kita menghancurkannya. Pertumbuhan bukan linear—itu eksponensial. Dan politisi masih berpikir pakai spreadsheet.