Fossil Fuels Are Peaking by 2030... But the US Just Forced the IEA to Pretend Otherwise?
Bahan Bakar Fosil Akan Mencapai Puncaknya pada 2030... Tapi AS Baru Saja Memaksa IEA untuk Berpura-pura Sebaliknya?

Laporan terbaru IEA menegaskan bahwa permintaan batu bara, minyak, dan gas akan mencapai puncaknya sebelum 2035 berdasarkan kebijakan yang dinyatakan pemerintah—berkat lonjakan energi bersih. Tapi ini bagian mengejutkannya: AS mendesak IEA untuk memperkenalkan kembali skenario 'kebijakan saat ini' yang mengasumsikan setiap negara meninggalkan rencana iklim mereka. Tiba-tiba, permintaan minyak dan gas terus naik. Nyaman bagi perusahaan minyak besar, mencurigakan bagi semua orang lain.
Bagian paling memilukan? Skenario 'kebijakan saat ini' ini bukan bisnis biasa—ini fantasi di mana dunia secara sistematis membongkar ambisinya terhadap iklim. Sementara itu, kisah nyatanya adalah ledakan energi bersih: panel surya naik 344%, angin naik 178%, nuklir naik 39%. Masa depan sedang tiba. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita akan berpura-pura tidak melihatnya.
Mari kita fokus: skenario 'kebijakan saat ini' bukan dasar netral. Ini alat lobi yang dikemas ulang sebagai analisis. IEA secara eksplisit menyatakan bahwa 'bisnis biasa' berarti teknologi bersih terus berkembang. Jadi menyebut jalur pesimistis yang pro-fosil ini 'realistis' adalah teater politik murni.
Akhirnya, skenario yang menghargai realitas. Kebanyakan negara tidak menepati janjinya. Energi terbarukan bagus, tapi bagaimana keandalan jaringan saat badai? Kita butuh gas sebagai jembatan, bukan dongeng tentang minyak yang mencapai puncak pada 2027.
Lucu bagaimana 'keandalan jaringan' baru jadi isu saat membahas energi terbarukan. Pembangkit gas juga mogok. Tapi yasudah, mari berpura-pura hanya surya yang punya masalah pasokan sementara mengabaikan bahwa penyimpanan baru memotong waktu henti hingga 80%.
Ini bukan soal integritas data. Ini soal kendali narasi. CPS bukan prediksi—ini 'bagaimana jika' yang dijadikan senjata untuk menunda kebijakan. Sama seperti perdebatan palsu industri tembakau di tahun 1990-an.
Kota saya mati saat tambang ditutup. Jangan romantisasi penurunannya. Transisi adil? Lebih seperti tidak ada transisi. Kami tidak dapat apa-apa sementara kota-kota dapat pertanian surya yang mengilap.
Ya, program pelatihan ulang gagal. Tapi menyalahkan energi terbarukan atas kegagalan kebijakan sama seperti menyalahkan mobil listrik atas infrastruktur pengisian yang buruk. Perbaiki kebijakannya, bukan teknologinya.
IEA terus meremehkan tenaga surya. Lagi-lagi. Mereka memprediksi penurunan biaya 90% pada 2030—tapi itu sudah terjadi pada 2025. Kita bukan cuma memenuhi ekspektasi; kita menghancurkannya. Pertumbuhan bukan linear—itu eksponensial. Dan politisi masih berpikir pakai spreadsheet.