Is Salah’s Liverpool Meltdown About to Haunt Egypt at AFCON 2025?
Apakah Krisis di Liverpool Bakal Menghantui Mesir di AFCON 2025?

Statistik Mo Salah untuk Mesir dan Liverpool hampir identik—0,6 gol per 90 menit di kedua tim. Tapi angka tak menangkap drama. Ia datang ke AFCON 2025 setelah dicadangkan saat lawan Leeds dan mengeluarkan pernyataan samar 'Saya butuh waktu untuk berpikir'. Pria ini membawa beban berat.
Mesir sudah dua kali menjadi runner-up dengan Salah sebagai ujung tombak. Kali ini, ia berusia 33 tahun, sedang dalam tren buruk, dan secara emosional rapuh. Apakah ini jalan penebusan atau perlahan menghilang menjadi legenda? Panggung AFCON mungkin akan menulis babak terakhirnya.
Kami sudah mendukung Salah di klub, negara, bahkan budaya. Kini kami minta dia memikul mimpi nasional yang patah lagi? Di usia 33, setelah trauma dicadangkan di Leeds? Beri dia ruang. Ini tak adil.
Statistik Salah tak berbohong. 0,6 gol per 90 untuk klub DAN negara? Itu bukan kebetulan. Pria ini mesin. Jika Mesir mendukungnya, bukan memberi tekanan, dia akan memberi hasil.
Mesin pun bisa macet di bawah tekanan. Bahkan mesin butuh perawatan. Dia bukan sekadar kertas statistik—dia manusia yang baru saja dinomorduakan oleh klubnya di depan umum.
Pertanyaan sesungguhnya bukan soal kondisi mental Salah—tapi ketergantungan Mesir. Mereka tak punya rencana B. Jika Mo diredam, seluruh serangan runtuh. Itu bukan tim—itu pertunjukan satu orang.
Ingat saat El Hadary berusia 45 tahun dan masih membawa kami juara AFCON? Usia cuma angka. Salah di umur 33 lebih muda dari sebagian besar harapan Mesir.
Mo Salah di AFCON? Itu bukan tekanan. Itu takdir. Pria ini tak dilahirkan untuk menang di Anfield—dia lahir untuk jadi firaun.
Keren. Tapi firaun biasanya nggak dicadangkan oleh Arne Slot.
Pada 1998, Ronaldo mencetak 4 gol di Piala Dunia setelah pulih dari cedera ACL. Trauma bisa memicu kehebatan. Mo mungkin hanya butuh percikan itu.