Is History Repeating Itself? This 16th-Century Thinker Saw America’s Political Crisis Coming
Apa Sejarah Sedang Berulang? Pemikir Abad ke-16 Ini Sudah Ramalkan Krisis Politik Amerika

Di Prancis abad ke-16, Katolik dan Protestan saling menyebut sesat, membakar orang hidup-hidup, dan memicu perang saudara selama 36 tahun—semua karena perbedaan teologi. Tapi ada satu suara yang menonjol: Sebastian Castellio, yang berkata, 'Jangan memaksa orang mempercayai sesuatu. Itu kejahatan.' Ia bukan cuma menentang pembunuhan; ia menolak ide bahwa kebenaran bisa dipaksakan dengan kekerasan. Terdengar familiar?
Castellio bukan cuma pembela damai yang naif. Ia pernah melihat Calvin membakar seorang sesat—Michael Servetus—di tiang pancang dan langsung mengkritiknya. Intinya? Anda tak bisa mengklaim superioritas moral sambil melakukan kekejaman. Tapi lihat sekarang: merah vs biru, budaya pembatalan, ruang gema ideologis. Kita sudah mengganti tiang pancang dengan perundungan media sosial, tapi logikanya sama. Kita masih ingin 'memaksa keyakinan.'
Castellio adalah komentator 'kedua belah pihak salah' pertama kali. Tapi jujur saja—dulu, kalau kamu berkata begitu, kamu jadi sasaran kedua kubu. Keberaniannya bukan hanya secara intelektual; ini soal bertahan hidup sungguhan. Bayangkan menyebarkan toleransi sementara tetanggamu sedang mengasah garpu tumbuk.
Kita sudah tidak membakar sesat lagi, tapi melumpuhkan platform, membatalisasi, dan mempermalukan di publik? Itu tiang pancang abad ke-21. Peringatan Castellio tentang 'memaksa keyakinan' sangat relevan. Bahkan jika kamu menang dalam argumen, kamu kehilangan orangnya.
Oke, tapi seberapa besar sebenarnya yang bisa dilakukan Castellio? Ia tak punya tentara, negara, apalagi Twitter. Ia cuma menulis buku. Bukankah itu seperti berteriak ke dalam kehampaan saat itu?
Ya, tapi ide hidup lebih lama dari tentara. Voltaire, Locke, dan para pemikir zaman Pencerahan berdiri di atas bahu Castellio. Tulisannya adalah retakan pertama di bendungan absolutisme agama. Menurutmu tanpa suara-suara itu, kita akan punya kebebasan berbicara hari ini?
Cerita bagus, tapi manusia tak benar-benar ingin toleransi. Mereka ingin menang. Merasa benar itu enak. Memaafkan musuh? Itu berat. Manusia payah dalam berpikir jangka panjang.
Kita tak harus dikutuk oleh sifat manusia. Ya, menang itu enak—tapi rekonsiliasi juga terasa baik. Castellio tidak berhenti menulis hanya karena sulit. Kita juga seharusnya tidak. Mungkin 'buku' kita adalah podcast, cuitan, atau diskusi kelas. Intinya: bersuara.
Toleransi bukan hal gratis. Ia membutuhkan institusi—pengadilan, konstitusi, norma—yang melindungi pandangan minoritas. Castellio punya prinsipnya, tapi bukan sistemnya. Karena itulah butuh 200 tahun. Ide butuh infrastruktur.
Tepat. Dan kita memang punya infrastruktur itu—tak sempurna, tapi nyata. Kebebasan berbicara, hukum hak asasi, pendidikan sekuler. Jangan anggap remeh. Castellio memimpikan ini. Kita sedang menjalaninya. Sekarang, mari lindungi.