India Gets Tons of Sun—So Why Is Everyone Still Vitamin D Deficient?
India Terima Banyak Sinar Matahari—Lalu Kenapa Hampir Semua Orang Masih Kekurangan Vitamin D?

Sudah waktunya diakui: India dibanjiri matahari sepanjang tahun, tapi kekurangan vitamin D tetap merajalela—bahkan pada orang yang duduk dekat jendela sepanjang hari. Dokter bilang kadar di bawah 12 ng/ml bisa merusak sistem imun dan bikin suasana hati seperti musim hujan tanpa henti.
Ironinya? Polusi menghalangi sinar UVB, pekerjaan kantor membuat kita terkurung di dalam ruangan, dan tabir surya—meskipun penting—juga mengurangi produksi vitamin D. Rasanya seperti tubuh kita berjemur di balik kaca berkabut.
Sebagai dokter di Mumbai, saya melihat defisiensi vitamin D pada 9 dari 10 pasien—profesional kota, anak-anak, hingga lansia. Ini bukan cuma soal kelelahan; ada korelasi dengan depresi, nyeri sendi, dan imunitas lemah. Datanya tidak berbohong.
Saya keluar ruangan 5 kali seminggu dan angkat beban, tapi hasil tes darah terakhir menunjukkan 18 ng/ml—masih rendah! Saya kira 'matahari + olahraga' = vitamin D otomatis. Ternyata enggak. Rupanya polusi dan warna kulit lebih penting dari yang saya duga.
Ayo berhenti berpura-pura ini cuma masalah ‘kamu kurang keluar ruangan’. AQI Delhi bisa mencapai 400 di hari buruk. Sinar UVB tak bisa menembus kabut asap. Tubuhmu tak bisa membuat vitamin D kalau cahaya matahari benar-benar terhalang.
Inilah dia. Saya bersepeda ke kantor tapi tetap lelah. Dokter saya hanya mengangkat bahu dan berkata, “Suplemen atau susu diperkaya.” Apa cuma itu solusinya? Menyalahkan korban lalu jual pil?
Kita butuh program fortifikasi D nasional—seperti yang AS lakukan pada susu. Kenapa ini belum jadi kebijakan? Ini bukan cuma soal 'gaya hidup'; ini soal infrastruktur kesehatan masyarakat.
Saya berjemur 40 menit per hari dan tetap kekurangan. Mitos bahwa 'matahari = vitamin D' harus dilenyapkan. Kulitmu, polusi, pakaian, dan waktu siang semua mengganggu. Periksa darahmu.
Saya beri anak-anak saya oat diperkaya dan 20 menit sinar matahari pagi. Itu saja yang bisa saya kendalikan. Antara sekolah, kemacetan, dan gedung ber-AC, ‘lebih banyak sinar matahari’ bukan pilihan gaya hidup—itu khayalan.
Saya bekerja 10 jam sehari di dalam ruangan. Saran ‘cukup keluar sebentar’ adalah nasihat terburuk. Ini bukan kemalasan—ini soal bertahan hidup di kota. Biaya suplemen saya lebih tinggi dari langganan Netflix saya.