Is 'Consumption = Growth' a Myth? Why Economists Like Furman Are Getting It Backwards
Apakah 'Konsumsi = Pertumbuhan' itu Mitos? Kenapa Ekonom seperti Furman Salah Kaprah

Jadi Jason Furman bilang belanja konsumen—yang didorong oleh warga miskin yang makin berhutang dan orang kaya yang jual saham—sedang menggerakkan ekonomi. Tapi tunggu: bukankah konsumsi adalah hal yang kita lakukan setelah berproduksi? Kalau anak saya menghabiskan uang hadiahnya sebelum dapat uang jajan, dia bukan 'mendorong pertumbuhan rumah tangga'—dia sedang menumpuk masalah.
Skandal sebenarnya bukan pada analisis yang buruk—tapi pada fakta bahwa kalimat sederhana Hazlitt, 'Apa yang merugikan individu pasti merugikan negara,' belum jadi dogma buku pelajaran. Sekiranya ini jadi akal sehat, dongeng 'efek kekayaan' tadi sudah ditertawakan keluar dari departemen ekonomi bertahun-tahun lalu.
Saya urus pajak untuk mencari nafkah dan ini benar-benar nyata. Saat keluarga hidup dari kredit bertahun-tahun, pesta itu takkan berlangsung lama. Cukup kehilangan satu pekerjaan dan semuanya runtuh. Menyebut itu 'pertumbuhan ekonomi' sama seperti menyebut kartu kredit habis terpakai sebagai 'kebugaran finansial'.
Ayo dong. Orang-orang merasa lebih kaya saat saham naik. Mereka belanja lebih banyak. Itu menciptakan permintaan. Permintaan memicu bisnis. Itulah pertumbuhan!
Anda mencampuradukkan rasa nyaman psikologis dengan modal nyata. Merasa kaya bukan berarti benar-benar kaya. Untuk setiap dolar yang dibelanjakan dari keuntungan saham, seseorang harus menjual. Uang itu tidak diciptakan—hanya berpindah tangan. Tidak ada kekayaan baru, tidak ada pertumbuhan nyata.
Masalah sesungguhnya? Semua orang mengabaikan risiko. Kredit mudah terasa enak sekarang, tapi tunggakan akan tiba waktunya. Dan ketika musik berhenti, bank yang pegang pinjaman macet. Warga yang bayar tagihannya.
Mudah bagimu bicara begitu. Gue kerja $75 ribu setahun, cuma ngekos kamar kecil. Portofolio saham gue $400. 'Efek kekayaan'? Gue harus punya kekayaan dulu kali ya.
Poin Hazlitt lebih dalam: negara tidak benar-benar ada. Hanya individu yang ada. Jadi kalau ceroboh bagi satu orang hidup di luar kemampuan, bagaimana bisa jadi bijak bagi jutaan orang?
Tepat sekali. 'Efek kekayaan' seharusnya disebut 'maya keuntungan kertas'. Belanja keuntungan saham artinya menjual aset. Itu menguras modal, bukan menciptakan pertumbuhan. Kita butuh pembangun, bukan pembeli.
Ngapain ribet. Politisi suka angka belanja. Media suka berita 'pasar naik!'. Nggak ada yang diuntungkan dari bilang 'tenang dulu' kalau ketakutan dan keserakahan yang laku.