Why Are Doctors Still Failing High-Risk Patients on PrEP? It Took 'Older Gay Friends' to Save This Man’s Health
Kenapa Dokter Masih Gagal Memberi Tahu Pasien Risiko Tinggi soal PrEP? Malah Teman Gay yang Lebih Tua yang Menyelamatkan Kesehatannya

Scott Frenzel pernah berobat dua kali karena PMS di klinik Nashville—tapi tidak satupun tenaga medis menyebutkan PrEP, padahal dia jelas-jelas masuk kategori risiko tinggi. Malah dia tahu dari teman gay yang lebih tua. Renungkan sebentar: pengetahuan komunitas lebih baik daripada layanan klinis dalam pencegahan HIV.
PrEP 99% efektif jika digunakan dengan benar, tapi aksesnya masih tidak merata. Stigma, minimnya pengetahuan penyedia layanan, dan batas resep tiga bulan yang birokratis membuat orang sulit mendapat perlindungan konsisten. Ini bukan kelalaian medis—ini kelalaian sistemik.
Saya mengerti soal stigma. Banyak tenaga medis masih menghubungkan PrEP dengan 'hidup serong'—seolah mencegah penyakit itu bermasalah secara moral. Tapi kita sudah di 2024. Kenapa kita masih bahas ini? PrEP itu dasar kesehatan masyarakat.
Saya bukan bagian dari kelompok berisiko, tapi ini menakutkan. Kalau dokter bisa mengabaikan alat pencegahan kritis untuk kasus yang jelas, apa artinya bagi pasien biasa seperti saya?
Sebagai perawat IGD, saya pernah rawat pasien stadium akhir HIV. Sebagian besar tidak tahu soal PrEP—dan tidak satupun ditawari. Sangat absurd melihat orang meninggal karena penyakit yang bisa dicegah hanya karena kita tidak mau normalisasi pencegahan.
Kita butuh lebih banyak navigator PrEP—petugas kesehatan komunitas yang membantu pasien mencari resep, urus asuransi, dan melawan stigma. Studi menunjukkan mereka mampu meningkatkan penggunaan drastis.
Jangan pura-pura ini bukan soal uang. Perusahaan asuransi membatasi akses PrEP, dan klinik tidak dibayar cukup untuk perawatan preventif. Tanpa insentif = tanpa tindakan.
Tepat sekali. Dan sampai fakultas kedokteran menempatkan kesehatan masyarakat dan pelatihan antistigma sebagai prioritas, kita akan terus luluskan dokter yang melihat pasien dari sudut moral, bukan medis.
Saya minta PrEP ke dokter saya. Dia menatap saya seolah saya minta izin seks. Saya biseksual, bukan tidak bertanggung jawab. PrEP bukan izin—tapi perlindungan.
Ini mengubah cara saya memandang kunjungan dokter saya. Kalau mereka melewatkan protokol penting untuk orang lain, apa yang mungkin mereka lewatkan untuk saya?