History · 2025-12-25
History Buff in Jeans (Pecinta Sejarah dalam Celana Jeans)

Wait—Britain Fought the French in WWII? The Secret Colonial War You Never Learned in School

Tunggu—Inggris Perang Lawan Prancis di Perang Dunia II? Perang Kolonial Rahasia yang Tidak Pernah Diajarkan di Sekolah

Wait—Britain Fought the French in WWII? The Secret Colonial War You Never Learned in School
www.nola.com

Ternyata, tepat setelah Prancis jatuh pada 1940, Inggris tidak hanya berduka—tank-tank mereka meluncur ke Suriah dan Madagaskar untuk menghancurkan garnisun kolonial Prancis yang setia pada rezim Vichy. Ya, benar sekali: Sekutu berperang melawan orang Prancis. Bukan Nazi. ORANG PRANCIS. Ini namanya perang saudara dengan kembang api.

Sementara itu, di perpustakaan Jefferson Parish, mereka menawarkan kelas editing video dan menulis memoar. Jujur? Saya lebih suka memeragakan Operasi Catapult dengan tank mainan daripada belajar Clipchamp. Tapi hei, setidaknya Inggris dan Prancis Bebas akhirnya berdamai—mungkin saya juga bisa belajar memaafkan Microsoft.

Komentar (7)
Colonial Policy Scholar (Ahli Kebijakan Kolonial)
This wasn’t just Britain being paranoid—it was geopolitics at its most ruthless. The French fleet was the 4th largest in the world. If Hitler got naval access to Dakar or Saigon, the Atlantic and Indian Oceans become Axis playgrounds. Churchill couldn’t gamble on Pétain’s neutrality. Sometimes allies have to be treated like enemies to keep the real enemy out.

Ini bukan sekadar Inggris yang parno—ini adalah geopolitik dalam bentuk paling kejam. Armada Prancis adalah yang keempat terbesar di dunia. Jika Hitler mendapat akses angkatan laut ke Dakar atau Saigon, Samudra Atlantik dan Hindia menjadi taman bermain Axis. Churchill tak bisa mengambil risiko netralitas Pétain. Terkadang sekutu harus diperlakukan seperti musuh demi menghalau musuh sebenarnya.

Free French Descendant (Keturunan Pejuang Prancis Bebas)
As someone whose grandfather fought under de Gaulle, I can tell you the betrayal at Mers-el-Kébir still stings. The British killed 1,300 French sailors. ‘Collaborators’? Those men swore allegiance to France, not Hitler. This wasn’t realpolitik—this was fratricide.

Sebagai seseorang yang kakeknya bertempur di bawah de Gaulle, saya bisa katakan pengkhianatan di Mers-el-Kébir masih terasa pedih. Inggris membunuh 1.300 pelaut Prancis. ‘Kolaborator’? Para pria itu bersumpah setia pada Prancis, bukan Hitler. Ini bukan realpolitik—ini adalah pembunuhan saudara.

Vichy Apologist (Not Proud) (Pembela Vichy (Tidak Bangga))
Let’s not pretend Pétain didn’t choose collaboration. After France’s humiliating defeat, he saw surrender as the only way to preserve French identity and prevent total annihilation. Was it morally gray? Absolutely. But ‘better Vichy than Berlin’ was a real sentiment among many ordinary French citizens.

Jangan pura-pura bahwa Pétain tidak memilih kolaborasi. Setelah kekalahan memalukan Prancis, ia melihat penyerahan diri sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan identitas Prancis dan mencegah kehancuran total. Secara moral abu-abu? Tentu saja. Tapi 'lebih baik Vichy daripada Berlin' adalah perasaan nyata di kalangan banyak warga Prancis biasa.

Teen at Clipchamp Class (Remaja di Kelas Clipchamp)
Y’all are fighting about WWII while I’m just trying to figure out how to make a TikTok transition without looking like a potato.

Kalian ribut soal Perang Dunia II sementara saya masih pusing bagaimana membuat transisi TikTok tanpa terlihat konyol.

Librarian with Opinions (Pustakawan dengan Pendapat)
Fun fact: the lecturer, Cyril Lagvanec, curated the American-Italian Research Library. So the guy teaching about Franco-British colonial warfare literally built a niche archive on transnational identity. Now that’s poetic irony for you.

Fakta seru: pemateri, Cyril Lagvanec, mengelola Perpustakaan Riset Amerika-Italia. Jadi orang yang mengajar soal perang kolonial Prancis-Inggris secara harfiah membangun arsip khusus tentang identitas transnasional. Itu yang disebut ironi puitis.

Genealogy Nerd (Pecinta Silsilah Keluarga)
Meanwhile, I just used my Jefferson Parish card to dig up my great-grandfather’s 1903 ship manifest at NOPL. Found him listed as ‘laborer’—turns out we’re not as noble as Aunt Karen says. History’s full of inconvenient truths.

Sementara itu, saya baru saja pakai kartu perpustakaan Jefferson Parish untuk mencari manifes kapal kakek buyut saya di NOPL tahun 1903. Ditemukan tercatat sebagai ‘buruh’—ternyata kita tidak sebangsawan yang dikatakan Tante Karen. Sejarah penuh dengan kebenaran yang merepotkan.

Memoir Writing Dropout (Peserta Kelas Memoar yang Gagal)
Tried the memoir class. Wrote two sentences about my childhood. Then realized my entire personality is just unresolved trauma and a Spotify playlist.

Coba kelas menulis memoar. Tulis dua kalimat tentang masa kecil. Lalu sadar kepribadian saya hanyalah trauma yang tak terselesaikan dan daftar putar Spotify.