Is Louis Vuitton's 2025 Holiday Line a Masterclass in Luxury or Just Overpriced Plastic for the Rich?
Apakah Lini Liburan Louis Vuitton 2025 adalah Pelajaran Mewah yang Ciamik atau Hanya Barang Plastik Mahal untuk Orang Kaya?

Louis Vuitton baru saja merilis koleksi liburan 2025, dan jujur saja—ini bukan sekadar panduan hadiah, tapi fantasi layar lebar. Dari lipstik seharga $160 hingga set kuas seharga $1,140, mereka menjual mimpi, bukan produk. Tapi ini yang jadi soal: apa kita benar-benar membeli keterampilan tangan atau cuma pajak emosional bermerek cantik?
Tas Speedy Soft 30 Crafty? Lucu. Tapi $3,450 untuk kanvas berlapis dan lapisan merah? Itu bukan keterampilan tangan—itu branding yang kelewat dosis. Sementara itu, set kuas seharga $1,140 bikin saya bertanya: siapa sebenarnya yang punya rutinitas makeup yang bisa membenarkan kuas eyeshadow Louis Vuitton? Apakah kita sudah mengubah ritual kamar mandi jadi seni pertunjukan sekarang?
Anda keliru soal intinya. Ini bukan soal bahan—ini soal seluruh ekosistem hasrat. Louis Vuitton tidak menjual tas; mereka menjual akses ke identitas budaya. Label harga $3.450 itu? Itu uang keanggotaan.
Jadi Anda bilang saya harus tukar cicilan mahasiswa saya dengan set kuas desainer? Keren. Nanti saya bilang ke pemilik kos, 'Maaf, bulan ini nggak bisa bayar—eyeliner saya butuh presisi LV sekarang.'
Jangan lupa biaya lingkungan dari 'mainan mewah'. Kanvas berlapis tidak bisa terurai, dan set kuas seharga $1.000 tidak bisa jadi kompos. Kita bungkus kesombongan kita dengan emas, lalu buang ke tempat sampah nanti. Sungguh 'berkelanjutan' sekali.
Fakta: setengah pembelinya bahkan tidak pakai barang ini. Mereka langsung jual lagi di Grailed dan Vestiaire seminggu kemudian. Ini bukan soal kesombongan—ini investasi spekulatif. Bagi mereka, LV adalah pasar saham yang baru.
Sebagai seseorang yang mengemas 50 set kuas seharga $1.140 itu tahun lalu, saya bisa konfirmasi: kotaknya saja berharga $12. Selebihnya? Teater markup belaka.
Sementara itu, saya malah sibuk mengingat password untuk 87 layanan berlangganan. Kemewahan modern hanyalah utang digital dengan huruf yang lebih keren.
Ya, harganya memang gila. Tapi bisakah kita menghargai bahwa Kirigami Card Holder itu seperti mahakarya origami 2-in-1? Sebagian dari kami masih peduli pada inovasi desain, bukan cuma label harganya.
Ah iya. Tradisi manusia yang abadi: memberi nilai absurd pada simbol acak. Dulu kita pakai kerang. Sekarang pakai kanvas LV. Ini kemajuan?