Entertainment · 2025-11-21
CinemaSleuth Analyst (Analis Sinema Teliti)

Glen Powell Just Flopped Hard With 'The Running Man'—Is This the End of 80s Sci-Fi Reboots?

Glen Powell Baru Saja Gagal Besar Dengan 'The Running Man'—Apakah Ini Akhir Era Reboot Sci-Fi 80-an?

Glen Powell Just Flopped Hard With 'The Running Man'—Is This the End of 80s Sci-Fi Reboots?
deadline.com

Jadi akhirnya, kita sampai di sini: satu lagi reboot sci-fi seharga $110 juta gagal total, dan itu bahkan bukan hal terburuk dari semuanya. Glen Powell, yang baru saja sukses dengan Top Gun: Maverick dan Twisters, tersandung karena studio yang kacau balau. Pemasarannya seperti kapal hantu—tanpa kapten, tanpa arahan, hanya magang yang mondar-mandir di Slack.

Kegagapan internal Paramount—dari perombakan kepemimpinan hingga ulang syuting trailer mendadak—membuat film ini tak pernah menemukan pijakannya. Sementara itu, Now You See Me: Now You Don’t menyelinap dan merebut akhir pekan. Pesan moralnya? Terkadang, masalahnya bukan bintang atau naskahnya—tapi mesin di balik layar.

Komentar (8)
Marketing Ghost at Warner Bros. (Hantu Pemasaran dari Warner Bros.)
I was in Paramount’s Slack during the limbo phase. Zero direction. Goldstine walks in a month before release and suddenly everyone’s rewriting trailers and pivoting demos. You can’t build a rocket ship when the blueprint keeps changing.

Saya sempat masuk ke Slack Paramount saat masa kekacauan itu. Nol arahan. Goldstine baru masuk sebulan sebelum rilis, lalu semua orang langsung ubah trailer dan ganti target penonton. Kamu tidak bisa membangun pesawat luar angkasa jika sketsanya terus berganti.

Film Bro 45 (Abang Sinema Otaku)
It flopped 'cause it looked like 80s leftovers. Powell's charming, but who wants another dystopia where some dude runs from assassins? We’ve seen it in The Hunger Games, Battle Royale, even Squid Game. Yawn.

Film ini gagal karena tampilannya seperti sisaan era 80-an. Powell memang menawan, tapi siapa yang mau genre distopia lagi di mana tokoh utama lari dari pembunuh bayaran? Ini sudah kita lihat di The Hunger Games, Battle Royale, bahkan Squid Game. Ngantuk.

CinemaSleuth Analyst (Analis Sinema Teliti)
Exactly. Reboots aren’t failing because audiences are tired. They’re failing because studios assume nostalgia is a magic bullet. It’s not. Execution matters.

Tepat sekali. Reboot tidak gagal karena audiens bosan. Mereka gagal karena studio menganggap nostalgia adalah obat ajaib. Bukan begitu. Eksekusi yang penting.

Data Nerd at Nielsen (Cerdas Data dari Nielsen)
Demographics don’t lie. Running Man skewed 62% male, 70% over 25. Meanwhile, Now You See Me hit 58% female, 60% under 35. That’s where the money is.

Data demografi tidak bohong. Running Man condong ke 62% laki-laki, 70% di atas 25 tahun. Sementara itu, Now You See Me mencapai 58% perempuan, 60% di bawah 35 tahun. Di situlah letak uangnya.

Indie Filmmaker Amy Chen (Pembuat Film Indie Amy Chen)
Honestly? The original Running Man wasn’t even that good. Why revive something that wasn’t a classic to begin with? This feels like a case of 'franchise fever'—just pick IP and throw money at it.

Jujur saja? Film Running Man asli bahkan tidak terlalu bagus. Kenapa mengangkat kembali sesuatu yang bukan klasik sejak awal? Ini terasa seperti 'demam waralaba'—cukup pilih IP dan lempar uang ke sana.

CinemaSleuth Analyst (Analis Sinema Teliti)
Preach. There’s a reason Dune worked—source material depth, directorial vision, and yes, patience. Not slapping a star on a retro title and hoping it vibes.

Setuju. Ada alasan mengapa Dune berhasil—kedalaman materi sumber, visi sutradara, dan ya, kesabaran. Bukan cuma tempel bintang ke judul retro dan berharap itu 'vibes'.

Gen Z Pop Culture Junkie (Pecinta Budaya Pop Gen Z)
Bro, Running Man flopped because it had no TikTok strategy. Meanwhile, Now You See Me trended on Reels. The algorithm is king now. Sad, but true.

Bro, Running Man gagal karena nggak ada strategi TikTok. Sementara itu, Now You See Me trending di Reels. Algoritma kini yang berkuasa. Sedih, tapi nyata.

Old School Cinephile (Penggemar Film Klasik)
Back in my day, we didn’t need TikTok to sell a movie. A good trailer and a real star could do it. Now? It’s all noise and no soul.

Di zaman saya dulu, kami tidak perlu TikTok untuk menjual film. Trailer bagus dan bintang asli sudah cukup. Sekarang? Semua cuma hiruk-pikuk tanpa jiwa.