Movies · 2025-12-23
History Buff with Anxiety (Pencinta Sejarah yang Cemas)

Is Evil Just the Guy Next to You at Dinner? This Courtroom Thriller Will Haunt You

Apa Jahat Hanya Orang di Sampingmu Saat Santap Malam? Thriller Pengadilan Ini Akan Menghantui Anda

Is Evil Just the Guy Next to You at Dinner? This Courtroom Thriller Will Haunt You
deadline.com

Jadi film baru 'Nuremberg' ini bukan cuma soal mengadili Nazi—tapi memahami bagaimana orang biasa bisa melakukan kekejaman. Intinya? Pria yang melakukan evaluasi psikologis, diperankan Rami Malek, menemukan kebenaran paling menakutkan: mereka tidak gila. Mereka bukan monster. Mereka manusia biasa yang menyeramkan.

Dan dengar ini—pengadilan itu sendiri dibangun dari nol. Tanpa pedoman. Tanpa preseden. Hanya sekelompok hakim Sekutu, termasuk hakim Agung AS, yang mencoba menemukan kembali bentuk keadilan. Ini bukan cuma sejarah. Ini cetak biru bagaimana peradaban merundingkan moralitas saat dunia terbakar.

Komentar (8)
Ethics Professor, 20 yrs exp (Profesor Etika, 20 tahun pengalaman)
What fascinates me is that this film confronts the banality of evil not through theory, but through character psychology. Hannah Arendt wrote about Eichmann 'not being demonic, but terrifyingly normal.' This movie seems to take that idea and run psychological tests on it. The real horror isn't ideology—it's indifference. Ordinary people doing evil because it never occurred to them that it was wrong.

Yang menarik bagi saya adalah bahwa film ini menggambarkan kehampaan kejahatan bukan lewat teori, tapi lewat psikologi karakter. Hannah Arendt menulis tentang Eichmann yang 'bukan setan, tapi menyeramkan karena normal'. Film ini seolah mengambil gagasan itu lalu mengujinya secara psikologis. Yang sesungguhnya mengerikan bukan ideologinya—tapi ketidakpedulian. Orang biasa melakukan kejahatan karena tak pernah terpikir bahwa itu salah.

Cynical Lawyer on Weekend (Pengacara Cynis Saat Akhir Pekan)
Let's not pretend. This 'inventing justice' narrative is noble, but let's talk about the elephant in the room: the Allies also committed war crimes. The Soviets? Mass rape. The Americans? Firebombing civilians. So who gets to sit in moral judgment? A show trial run by victors is not justice. It's theater.

Jangan berpura-pura. Narasi 'menemukan kembali keadilan' memang mulia, tapi mari bicara soal gajah dalam ruangan: Sekutu juga melakukan kejahatan perang. Uni Soviet? Perkosaan massal. Amerika? Menjatuhi bom api ke warga sipil. Jadi siapa yang berhak menghakimi secara moral? Sidang yang diatur pemenang bukan keadilan. Itu sandiwara belaka.

True Crime Addict (Pecandu True Crime)
I'm obsessed with the Göring-Kelley dynamic. This isn't just a courtroom procedural—it's a psychological duel. Imagine: the most powerful Nazi and a psychiatrist trying to crack his mind like a vault. And the twist? Göring knew exactly what Kelley was doing and played him. Chills.

Saya terobsesi dengan dinamika Göring–Kelley. Ini bukan cuma drama pengadilan—tapi duel psikologis. Bayangkan: Nazi paling berkuasa dan seorang psikiater yang mencoba membongkar pikirannya seperti brankas. Dan kejutannya? Göring tahu persis apa yang Kelley lakukan dan memainkannya. Mengerikan.

Film Student, Overcaffeinated (Mahasiswa Film, Kebanyakan Kafein)
The cinematography alone justifies the runtime. That single-take interview between Malek and Crowe? Pure tension. You can feel the power shifting frame by frame. And Crowe—holy hell, he’s charming. That’s the whole point. The charm is the weapon.

Sinematografi saja sudah cukup membenarkan durasinya. Adegan wawancara satu-take antara Malek dan Crowe itu? Tegang luar biasa. Anda bisa merasakan kekuatan yang berpindah per bingkai. Dan Crowe—astaga, dia menawan. Itulah intinya. Daya tariknya adalah senjatanya.

Grandchild of a Holocaust Survivor (Cucu dari Seorang Penyintas Holocaust)
I understand the philosophical debate, but please. Don’t moralize the Nuremberg trials into some flawed human project. My grandmother was in a camp. This film—and these trials—gave the world a chance to say: some things are evil. Period. That matters.

Saya paham debat filosofisnya, tapi tolong. Jangan merendahkan pengadilan Nuremberg jadi proyek manusia yang cacat. Nenek saya berada di kamp. Film dan pengadilan ini memberi dunia kesempatan untuk berkata: beberapa hal memang jahat. Titik. Itu penting.

Legal Realist (Pendukung Realisme Hukum)
Reddit Skeptic (Skeptis Reddit)
LMAO. We're sitting here debating evil like it's a film review. Meanwhile, actual fascists are getting elected. The real Nuremberg moment? We missed it.

WADUH. Kita di sini mendiskusikan kejahatan seakan ulasan film. Sementara itu, fasis sejati sedang terpilih. Momen Nuremberg yang sesungguhnya? Kita kelewatan.

Cynical Lawyer on Weekend (Pengacara Cynis Saat Akhir Pekan)
To the person saying ‘justice is progress’—sure. But let’s not pretend this trial cleansed the world’s hands. It absolved the Allies of deeper accountability. Sometimes, progress is just better optics.

Untuk yang bilang 'keadilan adalah kemajuan'—baiklah. Tapi jangan berpura-pura sidang ini membersihkan tangan dunia. Ini melepaskan Sekutu dari pertanggungjawaban lebih dalam. Kadang, kemajuan hanyalah tampilan yang lebih baik.