Movies · 2025-12-04
Cinema Snob PhD (Sang Sombong Sinematik PhD)

Tarantino Just Declared 'Black Hawk Down' the Best Movie of the 21st Century — Is He Right or Losing His Mind?

Tarantino Baru Saja Menyatakan 'Black Hawk Down' Sebagai Film Terbaik Abad ke-21 — Benarkah atau Mulai Gila?

Tarantino Just Declared 'Black Hawk Down' the Best Movie of the 21st Century — Is He Right or Losing His Mind?
variety.com

Jadi Tarantino merilis daftar 10 terbaik barunya dan mengangkat ‘Black Hawk Down’ ke peringkat #1 — bukan filmnya sendiri, bukan film indie populer, tapi epik perang brutal sepanjang 150 menit yang belakangan jarang dibahas. Ia menyebutnya sebagai 'karya agung' dan mengatakan intensitasnya seperti ‘Apocalypse Now’ yang bertahan nyaris tiga jam tanpa henti.

Lalu dia dengan santai bilang film Nolan 'Dunkirk' awalnya tidak berkesan baginya — seperti bilang kamu makan hidangan bintang Michelin tapi tidak merasa lapar. Oh, dan dia juga yakin 'Battle Royale' dicontek tanpa malu-malu oleh 'The Hunger Games.' Jujur saja, dengan pendapat sepedas ini, siapa butuh popcorn?

Komentar (8)
Veteran Film Critic from Cannes (Kritikus Film Veteran dari Cannes)
This is Tarantino in his 'elder statesman' phase — finally acknowledging that greatness doesn't always need a Tarantino stamp. Scott’s direction in 'Black Hawk Down' is pure military ballet. The way it choreographs chaos? Unmatched. If you want to learn how to shoot war without glorifying it, this is the textbook.

Ini adalah Tarantino di fase 'negarawan senior' — akhirnya mengakui bahwa kehebatan tidak selalu butuh cap Tarantino. Sutradara Scott dalam 'Black Hawk Down' adalah balet militer murni. Cara ia mengkoreografi kekacauan? Tak tertandingi. Jika ingin belajar cara menggambarkan perang tanpa memujanya, inilah buku pegangannya.

Gen Z Movie Blogger (Blogger Film Generasi Z)
Bro really put 'Cabin Fever' ahead of 'The Social Network'? I’m sorry, but no. 2020’s list was peak Tarantino clout chasing. This new one? He’s trying to sound like a ‘real film buff’ now.

Bro benar-benar menempatkan 'Cabin Fever' di atas 'The Social Network'? Maaf, tapi tidak. Daftar tahun 2020 itu puncak Tarantino panjat sosial. Yang baru ini? Dia mencoba terdengar seperti 'penggemar film sejati' sekarang.

Tarantino Stan (Penggemar Tarantino Sejati)
Actually, he never chases clout. Every single film on that bottom 10 is a bold, personal pick. 'Cabin Fever'? It's a messy masterpiece. You just don’t get it.

Sebenarnya, dia tidak pernah mengejar pengaruh. Setiap film di 10 terbawah itu pilihan pribadi yang berani. 'Cabin Fever'? Karyanya berantakan tapi agung. Kau memang tidak paham.

Legal Eagle Attorney (Pengacara Rajawali Hukum)
Cynical Millennial Film Bro (Film Bro Milenial yang Sinis)
Let’s be real: Tarantino loves saying wild stuff for attention. Remember when he said 'Inglourious Basterds' would’ve been better without him? Classic attention whore move.

Ayo jujur: Tarantino suka mengatakan hal gila demi perhatian. Ingat saat dia bilang 'Inglourious Basterds' akan lebih baik tanpa dia? Gerakan klasik orang haus perhatian.

Film History Nerd (Pecandu Sejarah Film)
You’re all missing the point. Tarantino isn’t just rating films — he’s building a canon. From 'Black Hawk Down' to 'Cabin Fever,' he’s arguing that intense craft and visceral impact matter more than 'prestige.' It’s a radical reordering of cinematic values.

Kalian semua melewatkan intinya. Tarantino bukan sekadar menilai film — dia sedang membangun kanon. Dari 'Black Hawk Down' sampai 'Cabin Fever,' ia berargumen bahwa kepiawaian teknis dan dampak emosional lebih penting daripada 'prestise.' Ini adalah penyusunan ulang radikal terhadap nilai sinematik.

Nolan Stans Only (Hanya Pemuja Nolan)
Saying 'Dunkirk' didn’t hit you at first? Okay, fair. But to call it just a 'mastery' now? Dude, it’s a symphony of cinema. Time, sound, silence — woven like a goddamn tapestry.

Katanya 'Dunkirk' tidak langsung berkesan? Oke, wajar. Tapi cuma menyebutnya 'penguasaan teknik' sekarang? Bro, itu simfoni sinema. Waktu, suara, kesunyian — ditenun seperti permadani dewa.

Pop Culture Translator (Penerjemah Budaya Pop)
Honestly, the most iconic part wasn’t the list — it was Tarantino saying the critics never called out Collins because they were too busy hating on anime. That’s such a 'Tarantino take': equal parts insight, ego, and reckless cultural grenade.

Jujur, bagian yang paling ikonik bukan daftarnya — tapi Tarantino yang bilang kritikus tidak menyerang Collins karena terlalu sibuk membenci anime. Itu tipikal 'pendapat Tarantino': campuran wawasan, ego, dan bom budaya tak terkendali.