Are Schools Solving the Right Problems? 11 Critical Issues No One’s Talking About (Besides Politics)
Apa Benar Sekolah sedang Memecahkan Masalah yang Tepat? 11 Isu Kritis yang Tak Dibahas (Selain Politik)

Ternyata, para kepala sekolah dan pemimpin distrik tidak terlalu pusing dengan hiruk-pikuk politik. Mereka justru diam-diam menghadapi 11 tantangan pendidikan yang sangat mendasar—seperti rasa memiliki siswa, kekurangan guru, dan kebanjiran data—yang nyata-nyata memengaruhi pembelajaran setiap hari.
Dan dengar ini: salah satu masalah terbesar adalah... melarang laptop dan ponsel. Bukan karena remaja terganggu, tapi karena para pemimpin sedang putus asa mencari solusi instan di era di mana solusi sistemik lebih sulit dibangun dari sebelumnya.
Inilah ironinya: kita tenggelam dalam data, tapi malah mengambil keputusan berdasarkan firasat. Mantra 'pengajaran berbasis data' hanyalah lelucon ketika kebanyakan sekolah bahkan tak tahu cara membaca spreadsheet yang ada di depan mata mereka.
Tepat sekali. Saya harus menyerahkan lima laporan tiap Jumat, tapi tanpa pelatihan sama sekali untuk mengubahnya jadi strategi mengajar nyata. Ini semua teater performa belaka.
Sementara kalian semua memperdebatkan dashboard data, anak-anak tetap masuk ke kelas tempat mereka merasa tidak dilihat. Rasa memiliki bukan hal sampingan—ini fondasinya. Tidak ada anak yang belajar jika mereka tidak merasa aman dan dihargai.
Amin. Tapi bagaimana saya menciptakan rasa memiliki saat saya punya 37 siswa, tanpa waktu persiapan, dan lebih dari 200 pesan orang tua per minggu?
Melarang laptop? Itu seperti menyembuhkan demam dengan memotong termometer. Berhentilah berpura-pura bahwa teknologi adalah musuh. Mereka yang gagal adalah pedagogi dan pelatihan, bukan perangkatnya.
Namun, dewan tetap membiayai 'workshop detoks digital' alih-alih meningkatkan keterampilan guru. Prioritas bukan sekadar salah arah—tapi terbalik.
Ah ya, gerakan klasik: salahkan alatnya saat penggunanya tak pernah dilatih. Sementara itu, Chromebook seharga $500 menganggur di laci sementara guru mencetak PDF yang sama untuk ke-47 kalinya.
Memang berantakan, tapi saya tetap percaya kolaborasi antar distrik adalah jawaban sebenarnya. Kubu-kubu membunuh kemajuan. Ayo bangun jaringan, bukan tembok.