Is a 15.9% Water Hike Really a National Security Threat? This Labour Expert Says Yes
Naikkan Tarif Air 15,9% Bisa Jadi Ancaman Keamanan Nasional? Ahli Buruh Ini Bilang Iya

Jadi pemerintah menaikkan tarif air sebesar 15,9% ke rakyat sambil menyuruh serikat buruh 'sabar'—dan seorang konsultan ketenagakerjaan malah menyebut ini ancaman keamanan nasional? Jujur saja, tak perlu krisis besar untuk sadar bahwa saat rakyat tak mampu bayar kebutuhan dasar, kontrak sosial mulai retak.
Yang membuat geleng kepala adalah pekerja yang memperjuangkan tarif lebih rendah justru orang-orang yang menjaga sistem tetap berjalan. TUC bukan cuma negosiasi gaji—mereka menyeimbangkan dinamika ekonomi tingkat makro. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap kenaikan tarif layanan seperti naik harga sayur, dan mulai melihatnya sebagai titik tekanan sosial.
Saya sudah 14 tahun merawat trafo, dan percayalah—saat listrik padam, kami yang memanjat tiang di tengah hujan. Kami bukan minta mewah, cuma penyesuaian biaya hidup yang nggak langsung lenyap gara-gara tagihan air naik 15,9%.
Layanan publik butuh pendapatan buat jalan. Kalau kita nggak bayar lebih, perawatan tertunda, padam listrik makin sering, dan lima tahun lagi kita malah memohon kenaikan tarif cuma buat nyalain lampu lagi. Iya, memang menyebalkan sekarang—tapi kurang dana sekarang berarti bencana nanti.
Tepat sekali. Musuh sebenarnya bukan pekerja yang minta upah adil—tapi kurangnya investasi struktural. Kita terus bereaksi pada krisis, bukannya selesaikan akar masalah. Andai dulu kita sudah modernisasi jaringan listrik 10 tahun lalu, kita nggak bakal berdebat kayak gini sekarang.
Lagi-lagi. Pemerintah salahkan inflasi, serikat salahkan pemerintah, dan tagihan air saya bulan ini kayak kontrakan. Kapan kita mulai salahkan orang-orang yang bikin keputusan ini?
Gamey benar—ini bukan sengketa upah. Ini negosiasi tripartit soal ketahanan nasional. Pekerja utilitas adalah buruh sekaligus penyedia layanan esensial. Peran ganda mereka membuat konflik ini unik, di mana empati dan pragmatisme harus berjalan beriringan.
Mari jelas: tarif tanpa dialog itu otoritarianisme fiskal. Anda tak bisa sepihak menetapkan harga layanan esensial lalu menyebutnya sebagai tata kelola. Ini bukan ekonomi—ini politik kekuasaan berbalut spreadsheet.
Bro, kalau tagihan AC saya lebih mahal dari Netflix, saya ikut barisan mogok. Nggak ada spreadsheet yang sebanding sama rasa sakit kayak gitu.
Saya paham frustrasinya, tapi jangan pura-pura TUC sempurna. Kapan terakhir mereka rilis anggaran transparan? Solidaritas itu bagus, tapi transparansi fiskal juga penting.