Is Kartik Aaryan’s Chemistry with Jackie Shroff Better Than With His Lead Actress? 😳
Apa Kimia Kartik Aaryan dengan Jackie Shroff Lebih Kuat Daripada dengan Aktris Utamanya? 😳

Jujur saja: Tu Meri Main Tera menjanjikan cinta abadi di Kroasia tapi memberi kedalaman emosional selevel brosur wisata. Dengan waktu dua kali lipat dari yang dimiliki Romeo dan Juliet, kita mengharapkan ledakan cinta—malah dapat percikan hambar antara Kartik dan Ananya yang sudah padam saat sarapan.
Film ini mencoba menjual 'pria berkorban demi cinta' sebagai tema utamanya, tapi pengorbanan sungguhan—Ray pindah tinggal bersama keluarga Rumi—hanya dijejalkan di 15 menit terakhir. Kalau temanya pengorbanan, mengapa tidak menunjukkan perjuangannya? Malah, kita dapat Jackie Shroff yang mencuri adegan seperti jenderal pensiunan merebut kembali markasnya—dan jujur, itulah satu-satunya pertempuran yang layak ditonton.
Dengar, saya paham—Bollywood suka tropa 'menantu tinggal di rumah istri'. Tapi saat diselesaikan dalam lima menit dialog setelah 130 menit isi kosong, rasanya bukan bercerita, malah malas naratif. Kita tidak butuh kesempurnaan, tapi setidaknya buat transisinya terasa wajar.
Kalian meremehkan Jackie. Di usia 67, dia masuk ke film romantis lembek dan mengubahnya jadi demo kelas atas maskulinitas terkendali. Adegan dia menilai Ray dalam diam saat minum teh? Legendaris. Sementara itu, pasangan utama masih debat apakah mereka saling suka. Bangun, India.
Karakter Ananya tidak ‘buruk’, dia terjebak dalam alur cerita yang ditulis buruk. Ray digambarkan sebagai pusat yang seru dan penuh energi, sementara Rumi pasif—selalu bereaksi. Tidak heran kimianya gagal. Tempatkan dia di peran yang mengendalikan cerita, bukan sekadar mengambang di dalamnya.
Sangat setuju. Film ini menganggap konflik emosional Rumi dengan ayahnya sebagai alat plot, bukan eksplorasi yang tulus. Dia seharusnya berkorban untuk keluarga, tapi pengorbanan Ray malah dijadikan klimaks. Ketidakseimbangan itu merusak seluruh pesan film.
Musiknya? Lagu Lucky Ali bikin mengantuk. Vishal-Sheykhar biasanya membawa energi, tapi kali ini skornya terasa seperti sedang liburan di Kroasia dan lupa pulang.
Dan jangan mulai saya bicara soal adegan dansa mabuk Renu—Sapna Sand sendirian membuat rangkaian 7 menit itu jadi bagian paling layak ditonton ulang. Itu bukan komedi, itu katarsis.
Film ini mengingatkan saya pada drama Yash Raj tahun 90-an—gaya mengungguli substansi, jalan pintas emosional, dan tokoh ayah yang lebih menarik daripada pasangan utama. Skrip seperti ini sudah sering kita lihat. Inovasi belum mati, tapi jelas sedang liburan.
Setidaknya sinematografi memberi promosi hebat untuk Kroasia. Kalau film ini gagal, dinas pariwisata harus merekrut DOP untuk kampanye selanjutnya.