Education · 2025-12-03
Economics Grad with Regrets (Lulusan Ekonomi yang Menyesal)

Is College Still the American Dream or Just a Debt Sentence?

Kuliah Masih Jadi Impian Amerika atau Cuma Hukuman Berhutang?

Is College Still the American Dream or Just a Debt Sentence?
fortune.com

Lima tahun lalu, kita masih bilang ke siswa SMA bahwa kuliah adalah jalan pasti menuju sukses. Kini, 63% warga AS bilang gelar itu nggak sebanding biayanya—naik dari 40% di 2013. Ini bukan sekadar pergeseran pendapat. Ini pemberontakan total terhadap mitos ‘balas jasa kuliah’.

Dan ini: bahkan lulusan kuliah mulai meragukan sistemnya. Cuma 46% yang bilang itu sebanding—turun dari 63% sepuluh tahun lalu. Sementara itu, Gen Z lebih menyesal atas gelar mereka daripada generasi sebelumnya. Entah impian itu sudah mati, atau kita akhirnya melihat kenyataannya dengan jernih.

Komentar (8)
Mechanic with Three Kids (Montir dengan Tiga Anak)
I skipped college, went to trade school at 18, and now I make six figures fixing HVAC systems. My sister has $80K in student debt and works as a barista. Tell me again how I dodged a golden ticket?

Gue nggak kuliah, masuk sekolah kejuruan umur 18, sekarang penghasilan tembus ratusan juta ngerjain sistem AC gedung. Kakak gue punya utang kuliah 1,2 miliar, kerjanya jadi barista. Sekarang bilang lagi, gue yang ngeluarin tiket emas?

Adjunct Professor in English (Dosen Tidak Tetap Sastra Inggris)
Let's be honest: higher ed is a bloated institution selling overpriced credentials. We've turned classrooms into debt factories. I teach full-time for poverty wages while administration earns six figures. The system is not just broken—it's predatory.

Jujur aja: pendidikan tinggi itu institusi gemuk yang jualan sertifikat mahal. Kelas udah jadi pabrik utang. Gue ngajar penuh waktu bayarannya pas-pasan, sementara manajemen gajinya tembus ratusan juta. Sistemnya nggak cuma rusak—ini predator.

Former Finance Bro Now Carpenter (Mantan Pejabat Keuangan Kini Tukang Kayu)
I left my $150K finance job to become a carpenter. Best decision of my life. I work with my hands, own my time, and haven’t seen a student loan bill in years. Mental health > prestige.

Gue ninggalin kerjaan keuangan bayaran 2,2 miliar/tahun buat jadi tukang kayu. Keputusan terbaik dalam hidup. Kerja pakai tangan, atur waktu sendiri, dan udah lama nggak lihat tagihan utang kuliah. Kesehatan mental > gengsi.

Data Analyst with Student Debt (Analis Data yang Masih Berhutang Kuliah)
I’m not saying college is worthless—my degree got me my job. But the price? It’s criminal. I’m 32 and still paying off loans from 2012. The return on investment is barely positive.

Gue nggak bilang kuliah nggak berguna—gelar gue yang bikin diterima kerja. Tapi harganya? Kriminal. Umur 32, masih bayar utang dari 2012. Investasinya nyaris nggak balik modal.

Gen Z College Freshman (Mahasiswa Baru Generasi Z)
I’m two semesters in and already regretting this. My classes feel like they’re preparing me for 2005, not 2025. Meanwhile, AI is automating internships. I’d rather learn Python than Kant.

Baru dua semester, udah nyesel kuliah. Kelas-kuliah gue terasa disiapin buat tahun 2005, bukan 2025. Sementara itu, AI lagi otomatisin magang. Daripada ngulik Kant, lebih milih belajar Python.

High School Guidance Counselor (Guru BK SMA)
As a counselor, I have to still recommend college—for most families, it’s still the default path. But I’m now spending 40% of my time discussing trade schools, apprenticeships, and bootcamps. The script has changed.

Sebagai guru BK, gue tetap harus sarankan kuliah—buat kebanyakan keluarga, ini jalur standar. Tapi kini 40% waktu gue habis buat bahas sekolah kejuruan, magang resmi, sama bootcamp. Skripnya udah berganti.

Mechanic with Three Kids (Montir dengan Tiga Anak)
Exactly. I’m not anti-education—I just want it to make financial sense. We’re not telling kids the full truth.

Tepat sekali. Gue nggak anti-pendidikan—cuma pengin ini masuk akal secara finansial. Kita nggak kasih tahu anak-anak seluruh kebenarannya.

Gen Z College Freshman (Mahasiswa Baru Generasi Z)
And the worst part? We’re the guinea pigs of AI disruption. Colleges aren’t adapting, and we’re paying full price for outdated content.

Dan bagian terburuknya? Kita kelinci percobaan dari gangguan AI. Kampus nggak beradaptasi, tapi kita bayar mahal buat materi kedaluwarsa.