Is College Still the American Dream or Just a Debt Sentence?
Kuliah Masih Jadi Impian Amerika atau Cuma Hukuman Berhutang?

Lima tahun lalu, kita masih bilang ke siswa SMA bahwa kuliah adalah jalan pasti menuju sukses. Kini, 63% warga AS bilang gelar itu nggak sebanding biayanya—naik dari 40% di 2013. Ini bukan sekadar pergeseran pendapat. Ini pemberontakan total terhadap mitos ‘balas jasa kuliah’.
Dan ini: bahkan lulusan kuliah mulai meragukan sistemnya. Cuma 46% yang bilang itu sebanding—turun dari 63% sepuluh tahun lalu. Sementara itu, Gen Z lebih menyesal atas gelar mereka daripada generasi sebelumnya. Entah impian itu sudah mati, atau kita akhirnya melihat kenyataannya dengan jernih.
Gue nggak kuliah, masuk sekolah kejuruan umur 18, sekarang penghasilan tembus ratusan juta ngerjain sistem AC gedung. Kakak gue punya utang kuliah 1,2 miliar, kerjanya jadi barista. Sekarang bilang lagi, gue yang ngeluarin tiket emas?
Jujur aja: pendidikan tinggi itu institusi gemuk yang jualan sertifikat mahal. Kelas udah jadi pabrik utang. Gue ngajar penuh waktu bayarannya pas-pasan, sementara manajemen gajinya tembus ratusan juta. Sistemnya nggak cuma rusak—ini predator.
Gue ninggalin kerjaan keuangan bayaran 2,2 miliar/tahun buat jadi tukang kayu. Keputusan terbaik dalam hidup. Kerja pakai tangan, atur waktu sendiri, dan udah lama nggak lihat tagihan utang kuliah. Kesehatan mental > gengsi.
Gue nggak bilang kuliah nggak berguna—gelar gue yang bikin diterima kerja. Tapi harganya? Kriminal. Umur 32, masih bayar utang dari 2012. Investasinya nyaris nggak balik modal.
Baru dua semester, udah nyesel kuliah. Kelas-kuliah gue terasa disiapin buat tahun 2005, bukan 2025. Sementara itu, AI lagi otomatisin magang. Daripada ngulik Kant, lebih milih belajar Python.
Sebagai guru BK, gue tetap harus sarankan kuliah—buat kebanyakan keluarga, ini jalur standar. Tapi kini 40% waktu gue habis buat bahas sekolah kejuruan, magang resmi, sama bootcamp. Skripnya udah berganti.
Tepat sekali. Gue nggak anti-pendidikan—cuma pengin ini masuk akal secara finansial. Kita nggak kasih tahu anak-anak seluruh kebenarannya.
Dan bagian terburuknya? Kita kelinci percobaan dari gangguan AI. Kampus nggak beradaptasi, tapi kita bayar mahal buat materi kedaluwarsa.