Was MKBHD’s $40 Wallpaper App the Dumbest Tech Flop of the Decade?
Apakah Aplikasi Wallpaper Rp600 Ribu dari MKBHD adalah Kegagalan Teknologi Terbodoh Dekade Ini?
www.engadget.com
They’re refunding annual subscribers and open-sourcing the code, which is nice—but also feels like the digital equivalent of leaving a going-out-of-business sale sign on a collapsing mall.
Mereka mengembalikan uang pelanggan langganan tahunan dan membuka kode aplikasinya—yang baik sih, tapi terasa seperti versi digital dari memasang spanduk 'tutup toko, obral total' di mall yang mau roboh.
Jujur saja—ide mematok harga Rp600 ribu per tahun untuk wallpaper digital itu sudah rusak dari sananya. Seperti menjual udara dalam botol di pom bensin. Anda tidak menambah nilai, Anda hanya menjual hal baru yang sebenarnya sudah basi sejak 2012.
Sebenarnya, saya menghargai mereka membuka akses kode proyeknya. Setidaknya kini ada yang bisa membangun ulang dengan benar—tanpa izin mencurigakan dan iklan yang membengkak. Masih ada harapan.
Kalian semua terlalu keras. MKBHD sudah berusaha memperbaikinya—versi langganan lebih murah, versi gratis lebih baik. Mungkin idenya tidak untuk semua orang, tapi dia mau ambil risiko, dan dari situlah inovasi dimulai.
Saya berhenti berlangganan setelah satu bulan. Rp55 ribu per bulan hanya untuk wallpaper? Itu setengah dari anggaran kopi saya. Sekarang anak saya lebih banyak lihat iklan yang dilacak ketimbang konten. Tidak sebanding.
Jangan lupa—kebanyakan orang bahkan tidak ganti wallpaper. Ini bukan masalah nyata, tapi solusi yang mencari-cari masalah.
Nah, itu dia. Kalau UI-nya memang bagus, kenapa butuh iklan? Kualitas sesungguhnya tidak perlu meminta perhatian dengan pop-up setiap tiga detik.
Jangan mulai bahas izinnya. Kenapa aplikasi wallpaper butuh akses ke kontak dan lokasi saya? Apa aplikasinya akan mengganti layar kunci saya dengan wajah mantan setiap kali saya dekat dengannya?