Is Lebanese Resilience Just Trauma Porn for Western Designers?
Apa Ketahanan Lebanon Hanya 'Trauma Porn' bagi Desainer Barat?

Saya hampir mundur dari pameran We Design Beirut, takut dengan peringatan Level Empat dari Departemen Luar Negeri AS: 'Jangan Bepergian.' Tapi pergi justru menjadi pengalaman desain paling menyadarkan dalam hidup saya—bukan karena glamornya, tapi karena acara ini menolak menutup mata terhadap penderitaan sambil tetap merayakan kreativitas.
Dari Permandian Romawi yang dipenuhi instalasi marmer hingga menara penembak jitu yang diubah jadi pameran seni mahasiswa, Beirut bukan sedang mempertunjukkan desain—tapi sedang membangun kembali budaya. Pameran ini bukan menjual sofa; ini pernyataan penuh keberanian: kami masih ada, dan kami yang membentuk masa depan.
Sebagai warga Beirut, saya muak dengan kata 'ketahanan' jadi kata ajaib favorit Barat. Mereka tak melihat kami sebagai desainer—kami hanya pameran trauma dengan jarum jahit. Tapi We Design Beirut bukan untuk turis; ini terapi bagi bangsa dengan luka terbuka selama 50 tahun.
Tunggu—desainer Barat mengidolakan 'desain konflik' sambil mengabaikan kekerasan sistemik mereka sendiri. Di mana pamerannya soal kekerasan senjata di Chicago? Atau pencurian tanah adat? Ini bukan empati, ini eksotisme.
Tepat. Kalian datang seminggu, foto reruntuhan, kutip Fanon, lalu pulang merasa tercerahkan. Kami hidup ini. Nenek kami pengungsi sebelum ibu kami lahir.
Kebanyakan 'desain berkelanjutan' di Eropa terasa seperti greenwashing. Tapi di sini, melestarikan setiap batu bukan strategi pemasaran—tapi memori.
Keramik yang pecah disusun kembali dalam tanah liat? Itu bukan metafora. Itu buku teks pemulihan trauma. Indah dan menyayat hati.
Saya terus memikirkan unggahan Strava Hijazi setelah pengeboman. Dia tak mempertunjukkan trauma. Dia hidup—berlari. Itulah ketahanan yang tak bisa ditangkap diskusi panel mana pun.
Sekarang saya cek Instagram-nya tiap hari. Lihat matahari terbenam. Tarik napas. Tetap tak bisa bayangkan membesarkan anak di sana. Tapi saya tak akan pura-pura tahu lebih baik.
We Design Beirut harus jadi wajib bagi semua sekolah desain. Bukan karena estetikanya—tapi karena mengajarkan bagaimana desain bertahan saat dunia runtuh.