Why Do Instagram’s ‘Interior Porn’ Spaces Feel So Addictive—And So Unlivable?
Kenapa Ruang 'Interior Porn' di Instagram Bikin Ketagihan—Tapi Justru Nggak Nyaman Dihuni?

Jujur aja—ngelihat-lihat Soho House atau kedai kopi minimalis di Bali nggak bikin gue pengen tinggal di sana. Gue malah pengen buat buku gaya di sana. Setiap permukaan dihitung matang, setiap vas diletakkan seperti bidak catur. Ini desain sebagai seni pertunjukan, bukan tempat tinggal.
Kita dibombardir estetika yang disamarkan sebagai gaya hidup. Dan tebak apa? Gue nggak bisa masak makan malam di atas meja marmer yang dipenuhi buku koleksi. Daya tarik emosionalnya memang kuat—tapi fungsinya? Nol besar. Kayak diajak makan mewah di museum. Indah, tapi dikunci rapat.
Dampak lingkungan dari tren ini gila. Kebanyakan ruang pakai kayu langka, batu impor, dan dekorasi sekali pakai. Ini bukan cuma nggak nyaman, tapi juga nggak berkelanjutan. Kita malah menganggap normal konsumsi berlebihan yang disamarkan sebagai selera tinggi.
Sebagai ibu dua anak, ini bikin gue ketawa. Coba tumpahkan saus apel ke sofa linen warna krem. Ya kan. Fantasinya emang buat zona bebas anak. Gue oke-oke aja—tapi jangan bilang ini 'kehidupan nyata'.
Ini cuma pelarian digital dengan aksen Skandinavia. Bukan soal hidup lebih baik—ini soal merasa tenang selama 27 detik saat lo menggeser layar dengan murung. Fungsi sebenarnya? Hanya suntikan dopamin yang disamarkan sebagai sumber inspirasi.
Tunggu—bukannya kita semua ikut bersalah? Gue screenshot 3 ruangan seminggu. Gue juga bagian dari mesinnya. Tapi nih, kocaknya: walau tahu ini bohong, gue tetep pengen. Dalam banget pengaruh pencucian estetika ini.
Sebenernya, Stray Dog malah dapat banyak pengunjung karena cocok buat unggahan Instagram. Orang datang buat foto, tinggal karena kopinya enak. Estetika bukan musuh—yang bodoh itu kalau pura-pura ini nggak ngaruh ke bisnis.
Lucu ya, toko seperti Ami Amalia pakai 'beton mentah' dan 'tepi tidak rapi' untuk jual kemewahan. Di tahun 80-an, itu cuma apartemen mahasiswa kere. Sekarang meja yang sengaja dikikis harganya $500. Ini kerjaan semiotika kelangkaan.
Iya, memang nggak realistis. Tapi salahnya apa bermimpi? Ruang-ruang ini kayak puisi visual. Nggak harus ditinggali buat jadi bermakna. Nggak semua hal harus fungsional buat berharga.
Spoiler: nggak ada orang beneran hidup kayak gini. Bahkan influencernya juga nggak. Mereka bayar dekorator set, abadikan pas jam emas. 'Gaya hidup' itu cuma sesi foto 3 jam. Selebihnya? Pesan antar dan baju kotor berserakan.