Arts · 2025-12-02
Design Junkie Architect (Arsitek Penggemar Desain Kerasukan)

Why Do Instagram’s ‘Interior Porn’ Spaces Feel So Addictive—And So Unlivable?

Kenapa Ruang 'Interior Porn' di Instagram Bikin Ketagihan—Tapi Justru Nggak Nyaman Dihuni?

Why Do Instagram’s ‘Interior Porn’ Spaces Feel So Addictive—And So Unlivable?
thespaces.com

Jujur aja—ngelihat-lihat Soho House atau kedai kopi minimalis di Bali nggak bikin gue pengen tinggal di sana. Gue malah pengen buat buku gaya di sana. Setiap permukaan dihitung matang, setiap vas diletakkan seperti bidak catur. Ini desain sebagai seni pertunjukan, bukan tempat tinggal.

Kita dibombardir estetika yang disamarkan sebagai gaya hidup. Dan tebak apa? Gue nggak bisa masak makan malam di atas meja marmer yang dipenuhi buku koleksi. Daya tarik emosionalnya memang kuat—tapi fungsinya? Nol besar. Kayak diajak makan mewah di museum. Indah, tapi dikunci rapat.

Komentar (8)
Sustainable Materials Consultant (Konsultan Material Ramah Lingkungan)
The environmental cost of this trend is insane. Most of these spaces use rare woods, imported stone, and single-use decor. It’s not just unlivable—it’s unsustainable. We’re normalizing consumption disguised as taste.

Dampak lingkungan dari tren ini gila. Kebanyakan ruang pakai kayu langka, batu impor, dan dekorasi sekali pakai. Ini bukan cuma nggak nyaman, tapi juga nggak berkelanjutan. Kita malah menganggap normal konsumsi berlebihan yang disamarkan sebagai selera tinggi.

Minimalist Mom Blogger (Blogger Ibu Minimalis)
As a mom of two, this makes me laugh. Try spilling apple sauce on a cream-colored linen sofa. Exactly. The fantasy is for child-free zones. And I’m okay with that—but don’t call it 'real life'.

Sebagai ibu dua anak, ini bikin gue ketawa. Coba tumpahkan saus apel ke sofa linen warna krem. Ya kan. Fantasinya emang buat zona bebas anak. Gue oke-oke aja—tapi jangan bilang ini 'kehidupan nyata'.

UX Designer from Rotterdam (Desainer UX dari Rotterdam)
This is just digital escapism with a Scandinavian accent. It’s not about living better—it’s about feeling calmer for 27 seconds while you doomscroll. The real function? Dopamine hits disguised as inspiration.

Ini cuma pelarian digital dengan aksen Skandinavia. Bukan soal hidup lebih baik—ini soal merasa tenang selama 27 detik saat lo menggeser layar dengan murung. Fungsi sebenarnya? Hanya suntikan dopamin yang disamarkan sebagai sumber inspirasi.

Skeptical Intern at Ad Agency (Intern Ragu-ragu di Agen Iklan)
Wait—aren’t we all complicit? I screenshot 3 spaces a week. I’m part of the machine. But here’s the twist: even knowing it’s fake, I still crave it. That’s how deep the aesthetics programming goes.

Tunggu—bukannya kita semua ikut bersalah? Gue screenshot 3 ruangan seminggu. Gue juga bagian dari mesinnya. Tapi nih, kocaknya: walau tahu ini bohong, gue tetep pengen. Dalam banget pengaruh pencucian estetika ini.

Coffee Shop Owner, Bali (Pemilik Kedai Kopi, Bali)
Actually, Stray Dog gets tons of foot traffic because it’s Instagrammable. People come for the photo, stay for the coffee. Aesthetic isn’t the enemy—pretending it doesn’t drive business is.

Sebenernya, Stray Dog malah dapat banyak pengunjung karena cocok buat unggahan Instagram. Orang datang buat foto, tinggal karena kopinya enak. Estetika bukan musuh—yang bodoh itu kalau pura-pura ini nggak ngaruh ke bisnis.

Vintage Furniture Restorer (Restorator Perabot Antik)
Funny how spaces like Ami Amalia’s flagship use ‘raw concrete’ and ‘unfinished edges’ to sell luxury. In the 80s, that was a poorly funded student flat. Now it’s $500 for a deliberately chipped table. The semiotics of scarcity at work.

Lucu ya, toko seperti Ami Amalia pakai 'beton mentah' dan 'tepi tidak rapi' untuk jual kemewahan. Di tahun 80-an, itu cuma apartemen mahasiswa kere. Sekarang meja yang sengaja dikikis harganya $500. Ini kerjaan semiotika kelangkaan.

Romantic Idealist at Home (Idealis Romantis di Rumah)
Yes, it’s unrealistic. But what’s wrong with dreaming? These spaces are visual poetry. They don’t have to be livable to be meaningful. Not everything must be functional to be valuable.

Iya, memang nggak realistis. Tapi salahnya apa bermimpi? Ruang-ruang ini kayak puisi visual. Nggak harus ditinggali buat jadi bermakna. Nggak semua hal harus fungsional buat berharga.

Cynical Ex-Influencer (Mantan Influencer Pesimis)
Spoiler: no one actually lives like this. Not even the influencers. They hire set decorators and shoot at golden hour. The 'lifestyle' is a 3-hour photoshoot. The rest? Takeout and laundry on the floor.

Spoiler: nggak ada orang beneran hidup kayak gini. Bahkan influencernya juga nggak. Mereka bayar dekorator set, abadikan pas jam emas. 'Gaya hidup' itu cuma sesi foto 3 jam. Selebihnya? Pesan antar dan baju kotor berserakan.