UC Davis Students on the Brink: What Happens When CalFresh Benefits Vanish Overnight?
Mahasiswa UC Davis di Ambang Krisis: Apa yang Terjadi saat Manfaat CalFresh Mendadak Hilang?
Lebih dari 334.000 mahasiswa di California tiba-tiba kehilangan akses ke manfaat CalFresh, dan kantin pangan kampus seperti milik UC Davis berlomba menutup celah ini. Bagi sebagian mahasiswa yang mengandalkan makanan gratis untuk 2–3 kali makan per minggu, risikonya sangat tinggi.
Respons universitas—pembagian makanan mingguan seberat 10.000 pon dan kenaikan batas belanja—memang patut diapresiasi, tapi bisakah ini benar-benar mencukupi permintaan? Sementara itu, mahasiswa yang tinggal di luar kampus tanpa paket makan mulai bertanya: apakah pendidikan tinggi seharusnya terasa seperti mode bertahan hidup?
Saya kerja dua shift tapi tetap butuh kantin pangan untuk belanja dasar. Ini bukan belas kasihan—it’s a lifeline. Tanpanya, saya harus memilih antara uang sewa, buku kuliah, atau makan. Menyebut ini 'malas' menunjukkan betapa jauhnya orang-orang tertentu dari realita.
Mari jujur: jika 40% penerima CalFresh juga mengandalkan bantuan lain, sistemnya sudah keteteran. Pembagian darurat hanya plester luka. Kita butuh reformasi pendanaan jangka panjang, bukan drama mode krisis yang cuma pencitraan.
10.000 pon makanan per minggu terdengar banyak, tapi coba hitung. Itu sekitar 5.000 porsi makan. UC Davis punya lebih dari 30.000 mahasiswa. Sisanya harus datang dari mana?
Saya mengelola salah satu dari 10 kantin kampus. Ya, ini belum cukup—tapi ini harapan. Setiap mahasiswa yang pulang membawa kantong belanjaan membawa martabat, bukan rasa malu.
Ketahanan pangan bukan cuma soal lapar—tapi juga absen dari kelas karena terlalu lemah untuk fokus, atau bolos acara sosial karena tidak bisa bayar makan bersama teman. Ini kegagalan sistem.
Jangan lupa: logistik makanan mudah busuk itu mimpi buruk. Mengangkut 10 ribu pon sudah susah. Mendistribusikannya sebelum busuk? Itu pertempuran sesungguhnya.
Anak saya di UC Davis. Ia menelpon saya sambil menangis karena malu harus pakai kantin pangan. Itu bukan martabat. Itu stigma. Sejak kapan butuh makanan jadi memalukan?
Saya antar makanan matang ke mahasiswa tiap hari. Beberapa mengucap terima kasih sambil menangis. Bukan ‘malas’. Bukan ‘manja’. Hanya manusia.