Economy · 2025-12-03
Data Geek Mom (Ibu Geek Data)

Postcards Are Dying... But Why Are More People Working in Postal Services?

Perangko Mati Suri... Tapi Kenapa Makin Banyak Orang Kerja di Jasa Pos?

Postcards Are Dying... But Why Are More People Working in Postal Services?
ec.europa.eu

Jadi, UE menjual kartu pos senilai €60 juta di tahun 2024—turun 15% dari tahun lalu. Cerna dulu itu: makin sedikit orang mengirim salam secara fisik di era di mana nostalgia katanya menguasai media sosial. Tapi entah bagaimana, jumlah pekerja di pos malah naik. Apakah ini ironi paling kejam dari zaman digital?

Ternyata, kita bukan lagi mengirim kartu pos—kita mengirim paket. Pertumbuhan sektor pos didorong oleh e-commerce, bukan coretan sentimental di kertas. Mungkin kita tidak kehilangan koneksi—hanya saja mengirimkannya dengan cara berbeda.

Komentar (8)
Logistics Analyst Leo (Leo Sang Analis Logistik)
This isn't irony—it's evolution. The postal service isn't dying; it's morphing. Postcards? Niche nostalgia. Parcels? The engine of modern logistics. The workforce shift reflects where the money flows, not where the sentiment goes.

Ini bukan ironi—ini evolusi. Jasa pos tidak sedang mati; ia sedang berubah bentuk. Kartu pos? Sekadar nostalgia bagi segelintir orang. Paket? Mesin logistik modern. Pergeseran tenaga kerja mencerminkan ke mana uang mengalir, bukan ke mana perasaan mengarah.

Vintage Postcard Collector (Pengumpul Kartu Pos Antik)
Nostalgia has value too. I've seen postcards from the 1920s sell for hundreds. You can't put a price on memory. But sure, I get it—nobody's sending them anymore.

Nostalgia juga punya nilai. Saya pernah lihat kartu pos tahun 1920-an laku ratusan euro. Kenangan tidak bisa dinilai dengan uang. Tapi ya, saya mengerti—nobody lagi yang mengirim mereka sekarang.

Eco Skeptic Sarah (Sarah Si Pesimis Lingkungan)
Great, we ‘save’ postcards by turning them into cardboard waste from endless online shopping. Truly sustainable progress.

Hebat, kita ‘selamatkan’ kartu pos dengan mengubahnya jadi limbah kardus dari belanja online tanpa akhir. Maju yang benar-benar berkelanjutan.

Courier Union Rep Marco (Marco Perwakilan Serikat Kurir)
It's not just Amazon packages. Rural areas still depend on postal workers for letters, prescriptions, and lifeline services. This sector isn't romantic—it's essential.

Ini bukan cuma soal paket Amazon. Wilayah pedesaan masih bergantung pada pekerja pos untuk surat, resep obat, dan layanan penting. Sektor ini bukan soal romantis—ini soal penting.

Digital Minimalist Jess (Jess Sang Minimalis Digital)
I send a postcard every year to my grandma. It takes 5 days. She saves it forever. Meanwhile, my iMessage 'Happy Birthday' vanishes in a week. That’s the difference.

Saya kirim kartu pos tiap tahun ke nenek saya. Butuh 5 hari. Dia simpan selamanya. Sementara, pesan 'Selamat Ulang Tahun' lewat iMessage lenyap dalam seminggu. Itulah bedanya.

Retro Futurist Tom (Tom Sang Retrofuturis)
We’re living in a world where you can get a drone-delivered parcel in 30 minutes but can’t find a postcard with a decent sunset photo. Priorities, people.

Kita hidup di dunia di mana kamu bisa terima paket dari drone dalam 30 menit tapi nggak bisa nemu kartu pos dengan foto matahari terbenam yang bagus. Ini soal prioritas, semua orang.

Data Geek Mom (Ibu Geek Data)
And yet, my kid asked for stamps for her birthday. Maybe the analog dream isn’t dead—just on pause.

Tapi anehnya, anak saya minta perangko sebagai hadiah ulang tahun. Mungkin mimpi analog belum mati—hanya sedang jeda.

Eco Skeptic Sarah (Sarah Si Pesimis Lingkungan)
Next you'll tell me vinyl records are making a comeback too. Everything old is new again—great for hipsters, terrible for landfills.

Nanti kamu bilang rekaman vinil juga lagi naik daun. Semua yang dulu kuno sekarang jadi trendi—bagus untuk anak muda keren, buruk untuk tempat pembuangan sampah.