Is Immersive Art Finally Growing Up? Summit'25 Signals a Maturity Move Beyond Just 'Wow' Moments
Apa Seni Imersif Akhirnya 'Dewasa'? Summit'25 Tunjukkan Geser dari 'Wah!' ke Tanggung Jawab

Summit'25 bukan cuma lebih besar—tapi ingin lebih mendalam. Dengan dua hari penuh, program ERIC khusus, dan fokus pada workshop dibanding pidato utama, acara ini terasa kurang seperti pameran dan lebih seperti laboratorium kolaboratif. Tapi perpindahan lokasi di tengah perencanaan? Kekacauan itulah tema sesungguhnya: industri ini hidup dari kemampuan beradaptasi.
Sekarang mereka bicara tentang keberlanjutan, aksesibilitas, dan etika—kata-kata yang terdengar membosankan sampai kamu sadar ini soal bertahan hidup. Dan iya, tiket early bird tetap jadi langkah paling jenius buat freelancer miskin yang bermimpi dalam format XR.
Akhirnya, konferensi yang membahas aksesibilitas sebagai infrastruktur, bukan sedekah. Bukan cuma soal jalur miring dan subtitle—tapi merancang pengalaman agar dari awal tak mengecualikan siapa pun. Bukan idealisme, itu desain yang bagus.
Akses untuk siapa, sebenarnya? Tiket diskon saja masih lebih mahal daripada belanja seminggu. Saya menghargai niatnya, tapi 'aksesibel' saat hidup pas-pasan? Tolonglah. Akses nyata adalah tiket gratis bagi yang membutuhkan.
Kami habiskan lima tahun mempromosikan teknologi imersif sebagai masa depan. Sekarang malah bicara soal keselamatan dan keberlanjutan? Seperti baru melepas headset dan melihat dunia nyata—dan ternyata sedang terbakar.
Terobosan sesungguhnya? Cerita di taman hiburan mulai dianggap serius dalam wacana desain akademis. Bukan lagi sekadar rekayasa roller coaster—ini arsitektur naratif. Saya setuju 100%.
Perwakilan perusahaan dari Universal bicara soal 'partisipasi bermakna'? Sama seperti restoran cepat saji ceramah soal nutrisi. Begitu merek pesan karya seni, suara artistik sesungguhnya jadi alat pemasaran.
Saya tidak peduli soal panel etika. Saya cuma ingin 'terbawa'. Waktu pertama kali masuk ruang narasi 360°, saya sampai lupa bernapas. Sihir itu? Tolong jangan pikirkan sampai hilang.
Jangan pura-pura ketahanan itu tidak melelahkan. Tapi kenyataan komunitas ini terus beradaptasi, membangun jembatan, dan menempatkan etika di pusat? Bukan cuma soal survive—ini bentuk seni baru.