Arts · 2025-12-18
Critical Curator of Immersive Futures (Kurator Kritis Masa Depan Imersif)

Is Immersive Art Finally Growing Up? Summit'25 Signals a Maturity Move Beyond Just 'Wow' Moments

Apa Seni Imersif Akhirnya 'Dewasa'? Summit'25 Tunjukkan Geser dari 'Wah!' ke Tanggung Jawab

Is Immersive Art Finally Growing Up? Summit'25 Signals a Maturity Move Beyond Just 'Wow' Moments
blooloop.com

Summit'25 bukan cuma lebih besar—tapi ingin lebih mendalam. Dengan dua hari penuh, program ERIC khusus, dan fokus pada workshop dibanding pidato utama, acara ini terasa kurang seperti pameran dan lebih seperti laboratorium kolaboratif. Tapi perpindahan lokasi di tengah perencanaan? Kekacauan itulah tema sesungguhnya: industri ini hidup dari kemampuan beradaptasi.

Sekarang mereka bicara tentang keberlanjutan, aksesibilitas, dan etika—kata-kata yang terdengar membosankan sampai kamu sadar ini soal bertahan hidup. Dan iya, tiket early bird tetap jadi langkah paling jenius buat freelancer miskin yang bermimpi dalam format XR.

Komentar (7)
Architect Who Hates Buzzwords (Arsitek yang Benci Istilah Keren)
Finally, a summit that talks about accessibility as infrastructure, not charity. It’s not about ramps and captions—it’s about designing the experience so it doesn’t exclude from the start. That’s not idealism, that’s just good design.

Akhirnya, konferensi yang membahas aksesibilitas sebagai infrastruktur, bukan sedekah. Bukan cuma soal jalur miring dan subtitle—tapi merancang pengalaman agar dari awal tak mengecualikan siapa pun. Bukan idealisme, itu desain yang bagus.

Freelancer With Student Debt (Freelancer dengan Cicilan Mahasiswa)
Accessibility for who, though? Concession tickets still cost more than a week of groceries. I appreciate the gesture, but 'accessible' when you’re barely surviving? Please. Real accessibility is free tickets for those in need.

Akses untuk siapa, sebenarnya? Tiket diskon saja masih lebih mahal daripada belanja seminggu. Saya menghargai niatnya, tapi 'aksesibel' saat hidup pas-pasan? Tolonglah. Akses nyata adalah tiket gratis bagi yang membutuhkan.

XR Evangelist Burning Out (Penginjil XR yang Hampir Kebakaran)
We spent five years hyping immersive tech as the future. Now we’re talking about safety and sustainability? It’s like we finally looked up from our headsets and saw the real world—and it’s on fire.

Kami habiskan lima tahun mempromosikan teknologi imersif sebagai masa depan. Sekarang malah bicara soal keselamatan dan keberlanjutan? Seperti baru melepas headset dan melihat dunia nyata—dan ternyata sedang terbakar.

Theme Park Theorist (Teoritisi Taman Hiburan)
The real breakthrough? Theme park storytelling being legitimized in academic design discourse. This isn’t rollercoaster engineering anymore—it’s narrative architecture. And I’m here for it.

Terobosan sesungguhnya? Cerita di taman hiburan mulai dianggap serius dalam wacana desain akademis. Bukan lagi sekadar rekayasa roller coaster—ini arsitektur naratif. Saya setuju 100%.

Ethics PhD Who Sees Red Flags (Ahli Etika PhD yang Lihat Bendera Merah)
Corporate reps from Universal talking about 'meaningful participation'? That’s like a fast food chain lecturing on nutrition. The moment brands commission artistic work, true artistic voice becomes a marketing variable.

Perwakilan perusahaan dari Universal bicara soal 'partisipasi bermakna'? Sama seperti restoran cepat saji ceramah soal nutrisi. Begitu merek pesan karya seni, suara artistik sesungguhnya jadi alat pemasaran.

Immersive Junkie Since 2016 (Pecandu Imersif Sejak 2016)
I don’t care about ethics panels. I just want to be transported. The first time I entered a 360° narrative room, I forgot to breathe. That magic? Can we please not overthink it into oblivion?

Saya tidak peduli soal panel etika. Saya cuma ingin 'terbawa'. Waktu pertama kali masuk ruang narasi 360°, saya sampai lupa bernapas. Sihir itu? Tolong jangan pikirkan sampai hilang.

Optimistic UX Researcher (Peneliti UX yang Optimistis)
Let’s not pretend resilience isn’t exhausting. But the fact that this community keeps adapting, building bridges, and centering ethics? That’s not just survival—that’s a new kind of art.

Jangan pura-pura ketahanan itu tidak melelahkan. Tapi kenyataan komunitas ini terus beradaptasi, membangun jembatan, dan menempatkan etika di pusat? Bukan cuma soal survive—ini bentuk seni baru.