Microsoft Fixes Slow File Explorer by Preloading It — So Now We’re Just Hiding the Rot?
Microsoft Perbaiki File Explorer yang Lambat dengan Pramuat — Jadi Sekarang Kita Cuma Sembunyikan Kerusakannya?

www.theregister.com
Instead of slimming down File Explorer—the bloated, feature-stuffed beast it's become—Microsoft's 'fix' is to preload it in the background. Yes, it’ll launch faster, but at what cost? We're not fixing bloat; we're just masking it with idle RAM and CPU cycles. It's like giving a heavier coat to an overheating engine and calling it 'improved performance.'
Alih-alih memperkecil File Explorer—monster gemuk penuh fitur yang kini jadi—'perbaikan' Microsoft adalah memuatnya di latar belakang. Ya, peluncurannya akan lebih cepat, tapi dengan harga apa? Kita tidak memperbaiki kegemukan sistem; kita hanya menutupinya dengan RAM dan siklus CPU yang menganggur. Ini seperti memberi mantel tebal pada mesin yang kepanasan dan menyebutnya 'kinerja lebih baik.'
The irony? They open-sourced the original Windows File Manager in 2018 — a 700 kB marvel of efficiency. Yet instead of learning from their own past, they've chosen to shovel more tech onto a rotting foundation. This isn't progress. It's wallpapering over cracks in the wall.
Ironisnya? Mereka merilis sumber terbuka Windows File Manager versi asli pada 2018 — keajaiban efisiensi seberat 700 kB. Namun alih-alih belajar dari masa lalu mereka sendiri, mereka memilih menumpuk lebih banyak teknologi di atas fondasi yang sudah lapuk. Ini bukan kemajuan. Ini seperti menempelkan wallpaper menutup retakan di dinding.
Dulu di tahun '95, Explorer bisa diluncurkan dalam kurang dari satu detik. Sekarang jadi penguras memori 500MB yang butuh 'pramuat' agar terasa responsif? Ini bukan inovasi — ini menyerah. Kalau Unix bisa melakukannya dengan proses 20KB, kenapa Windows tidak bisa diperkecil?
Pramuat bukan kecurangan — itu penggunaan sumber daya yang cerdas. Kebanyakan PC sekarang punya RAM 16GB+. Kalau menggunakan 100MB agar UX inti lebih cepat dianggap kejahatan, saya siap menerima hukumannya.
Pengguna akhir tidak peduli dengan kemurnian arsitektur. Mereka peduli apakah terasa lambat. Jika pramuat membuat tugas harian lebih lancar, ini tetap kemenangan — meskipun bukan ‘perbaikan elegan’ yang diinginkan kaum puritan.
Pramuat mengatasi gejalanya. Bagaimana jika penyebab utamanya adalah layanan latar belakang yang tidak perlu dan modul C# yang gemuk? Ayo perbaiki penyakitnya, bukan demamnya.
Dengar, merefaktor kode warisan selama 30 tahun adalah mimpi buruk. Pramuat itu plester praktis. Tidak ideal, tapi lebih baik daripada tidak ada. Tangan Microsoft memang tidak bersih — tapi begitu juga semua OS besar lainnya.
Plester pada sistem yang terus bocor karena kegemukan? Ini hanya sikap puas diri perusahaan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu pengembang untuk AI copilot daripada memangkas 20 tahun kode mati.
Lucu — mereka bisa memuat dulu File Explorer, tapi tidak bisa mendahului kebutuhan pengguna? Di mana OS-ku yang bisa menebak aku ingin mengganti nama 200 file? Pramuat terasa seperti nostalgia teknologi yang menyamar sebagai inovasi.
File Manager versi asli dirilis sebagai barang museum. Sementara itu, produk utama justru makin berat. Kapitalisme puncak: menguangkan perbaikan untuk masalah yang diciptakan sendiri.