Is Cooking Really Therapy? This Play Says Yes — And It's Blowing Audiences Away
Apakah Memasak Bisa Jadi Terapi? Drama Ini Bilang Iya — Dan Semua Penonton Terpukul

Drama perdana Sophia Griffin membawa kita langsung ke dapur rumah sakit aman, tempat makanan Karibia bukan cuma soal rasa—tapi alat bertahan hidup. Terapis Naomi mengadakan kelas memasak bukan untuk hiburan, tapi dengan harapan diam-diam bahwa mengaduk panci bisa menggugah sesuatu yang lebih dalam dalam diri pasien: memori, identitas, bahkan mungkin penebusan.
Tapi ini bukan drama kuliner menggemaskan yang bikin hangat hati. Para pria—Ty, Leroy, Daniel—membawa trauma seperti luka lama, dan Griffin piawai menunda pengungkapan kejahatan mereka. Kenapa? Agar kita melihat mereka sebagai manusia dulu. Baru kemudian kita tahu apa yang menghantui mereka, dan saat itu, kita sudah terlibat secara emosional. Ini pukulan telak yang bermaksud menyadarkan.
Drama ini menyoroti apa yang terus dikatakan data: lingkungan terapeutik lebih efektif daripada sistem hukuman. Tapi kita tetap lebih banyak danai penjara dibanding ruang pemulihan. Dapur Naomi bersifat simbolik—ini tempat seharusnya perawatan benar-benar terjadi, bukan di balik pintu baja dan keheningan.
Oke tapi bisakah kita bicara soal fakta bahwa kejahatan sesungguhnya adalah NHS belum juga mengadakan terapi lewat sesi jerk chicken?
Saya mengerti sisi artistiknya, tapi apakah ini terlalu sinematik? Terapi sungguhan tidak bergantung pada satu dapur simbolis. Penyembuhan itu kacau. Dan lambat. Ini terasa seperti makanan cepat saji emosional.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja di unit forensik, saya bisa bilang ini sangat dekat dengan kenyataan. Ritual kecil—memasak, menulis surat, berbagi cerita—bukan sekadar pelengkap. Mereka adalah tindakan merebut kembali kendali. Adegan dapur itu? Bikin merinding.
Ditetapkan di kota kelahiran saya dan menunjukkan sisi kota yang tak pernah kita bahas? Itu keberanian. Griffin tidak mundur—ia menempatkan kerumitan para pria ini di tengah-tengah sorotan. Dan Powell? Intensitas yang layak Oscar dalam setiap potongan bawang bombai.
Saya pernah berada di bangsal seperti ini. Mereka tidak menunjukkan betapa sulitnya meminta bantuan saat kamu bertahun-tahun berpura-pura kuat. Drama ini mengerti itu. Bukan soal keajaiban. Tapi momen-momen kecil koneksi.
Akhir yang tidak tuntas bukan kekurangan—itu justru intinya. Kehidupan nyata dalam krisis tidak bisa selesai dalam 90 menit. Kita pergi dengan perasaan ingin lebih? Bagus. Itu artinya kita peduli.