They named a newly discovered snake after Steve Irwin—what could go wrong?
Ular baru diberi nama Steve Irwin—apa yang bisa salah?

Jadi para ilmuwan menemukan spesies endemik lain di Kepulauan Nikobar—ular hitam mengilap tak berbisa—dan mereka menamainya Lycodon irwini sebagai penghormatan kepada Steve Irwin. Wajar. Tapi jujur saja: memberi nama ular jinak setelah Sang Pemburu Buaya itu ibarat memberi nama restoran vegan 'Anak Tukang Daging.' Puitis? Iya. Sarat ironi? Jelas sekali.
Tapi tetap saja, penghargaan layak diberi: Steve Irwin menginspirasi generasi. Memberi nama spesies baru yang rentan setelahnya mengirim pesan tersirat—we masih kehilangan keanekaragaman hayati, tapi juga menemukan keajaiban juga. Bayangkan dia sekarang, tersenyum lebar: 'Gile! Lihat keindahan ini!'
Setiap kali kita menamai spesies dengan nama selebriti, kita kehilangan sedikit martabat taksonomi. Tapi yaudah, 'Lycodon irwini' memang terdengar lebih keren daripada 'Lycodon nicobaricus'.
Yang penting adalah niatnya. Taksonomi bukan cuma kerja lab—ini bercerita. Menamai spesies dengan ikon membangun kedekatan publik. Jika 'L. irwini' membuat satu anak berkata 'Gile!', itu kemenangan bagi konservasi.
Bercerita? Lebih kayak taksonomi klikbait. Ilmuwan menyerahkan PR mereka ke nostalgia masa kecil. Besok kita dapat Homo trumpus atau Felis grimesii.
Anak saya yang berusia 7 tahun bertanya kenapa ularnya nggak dinamai Bindi. Jujur? Saya juga kepikiran, nak. Saya juga.
Masalah sesungguhnya bukan namanya. Tapi kita masih menemukan spesies di kawasan kaya keanekaragaman hayati sementara penggundulan hutan dan pariwisata merambat masuk. Saat kita selesai menamai mereka, mereka mungkin sudah punah.
Crikey irwini maju jadi presiden.
Tunggu, ada siput bernama Crikey irwini?! Anak saya bakal histeris.