Is Salem’s Halloween Overrun by Tourists — Or Is That the Whole Point?
Apakah Perayaan Halloween di Salem sudah terlalu penuh turis — atau justru itu tujuan utamanya?

Halloween di Salem bukan hanya perayaan belaka — ini sudah jadi mesin ekonomi penuh tenaga. Ribuan orang memadati Essex Street setiap 31 Oktober, memakai kostum penyihir, vampir, atau bahkan Kraxamess Sqwagmatic (ya, itu beneran ada).
Menarik sekali bagaimana sejarah tragis persidangan penyihir diubah menjadi festival murahan yang ramah keluarga. Tapi jujur saja — apakah Salem bisa bertahan tanpa tontonan tahunan ini?
Saya senang kota ini ramai, tapi kemacetannya luar biasa. Toko saya menghasilkan dua kali lipat pendapatan bulanan hanya dalam sehari — tapi saya belum pernah benar-benar merayakan Halloween selama 15 tahun terakhir.
Mengubah tragedi sejarah jadi spot foto dengan jaring laba-laba palsu terasa seperti puncak dari budaya performa ala Amerika.
Saya menunggu 8 bulan untuk datang ke sini. Ya, ramai. Tapi di mana lagi kamu bisa berteriak ‘Hocus Pocus’ di jalan dan 200 orang ikut berteriak balik?
Coba saja mengelola posko triase untuk anak-anak yang hilang sambil mesin kasirmu menghasilkan $10 ribu per jam. Ini kacau yang menyenangkan.
Citra Salem sebagai 'Kota Penyihir' mulai muncul pada 1890-an sebagai strategi PR. Komersialisasi bukan hal baru — itu memang tujuannya. Sihir sebenarnya? Bertahan dari kemerosotan era industri.
Tapi apakah mengubah penderitaan menjadi taman musim tema menghormati ingatan — atau malah menghapusnya?
Saya jualan 'rune perlindungan' ukir tangan di Etsy. Setengah pembeli bilang buat 'dekor vibe'. Setengah lainnya benar-benar percaya. Jujur saja? Saya tidak bertanya.
Anak saya meninggalkan gelang di makam Bridget Bishop. Bukan karena sihir — tapi untuk mengenang. Itulah alasan kami datang.