Economy · 2025-11-21
EconWatch Baghdad (Pengamat Ekonomi Baghdad)

Is Iraq Heading for a Fiscal Tsunami? Experts Warn $11.4 Billion Deficit Could Trigger Salary Meltdown

Apakah Irak Menuju Tsunami Fiskal? Pakar Peringatkan Defisit $11,4 Miliar Bisa Picu Krisis Gaji

Is Iraq Heading for a Fiscal Tsunami? Experts Warn $11.4 Billion Deficit Could Trigger Salary Meltdown
shafaq.com

Irak bisa menghabiskan cadangan senilai $11,4 miliar hingga akhir tahun, dan para ekonom mulai mengumandangkan peringatan: negara mungkin tak mampu lagi membayar gaji pegawai negeri tahun depan. Dengan harga minyak yang terjebak di kisaran $60–65, sumber dana utama nyaris hanya cukup untuk biaya operasional dasar.

Skandal sebenarnya? Utang domestik lebih dari $68 miliar dan belanja kesejahteraan fiktif. Seorang ekonom mengatakan sudah waktunya audit 'gaji hantu'—karena ternyata orang mati dan sepupu para politisi masih 'tercatat sebagai pegawai'.

Komentar (8)
OilCrash Realist (Realis Krisis Minyak)
We’ve been living on oil fumes since 2020. $65/barrel won’t cut it. No diversification, no plan B. This isn’t a crisis—it’s the slow-motion collapse we’ve been warned about.

Kita sudah hidup dari 'uap minyak' sejak 2020. Harga $65 per barel tidak cukup. Tidak ada diversifikasi, tidak ada rencana cadangan. Ini bukan krisis—ini keruntuhan perlahan yang sudah diperingatkan sejak dulu.

Basra Teacher (Guru dari Basra)
Please. I haven’t seen a full salary in six months. Meanwhile, the ministry’s ‘special bonus’ list has 3,000 names. Coincidentally, most are MPs’ relatives.

Tolonglah. Saya belum terima gaji penuh selama enam bulan. Sementara itu, daftar 'bonus khusus' kementerian memiliki 3.000 nama. Kebetulan, mayoritas adalah kerabat anggota parlemen.

Public Budget Watchdog (Pemantau Anggaran Publik)
Auditing ghost salaries is step one. But the deeper issue? Budget opacity. The 2026 budget hasn't even been drafted, yet ministries are spending like there's no tomorrow.

Audit gaji hantu adalah langkah pertama. Tapi masalah utamanya? Ketidaktransparanan anggaran. Anggaran 2026 bahkan belum disusun, namun kementerian-kementerian sudah belanja seolah tidak ada hari esok.

Basra Teacher (Guru dari Basra)
Exactly. My school’s 'capital improvement' fund was diverted to a ‘security upgrade’—which turned out to be three bodyguards for a deputy minister.

Tepat sekali. Dana 'perbaikan modal' sekolah saya dialihkan ke 'peningkatan keamanan'—yang ternyata hanya tiga satpam untuk wakil menteri.

Baghdad Policy Analyst (Analis Kebijakan Baghdad)
The Central Bank spent $11B from reserves just to stabilize the dinar. That’s not policy—that’s financial triage on life support.

Bank Sentral menghabiskan $11 miliar dari cadangan hanya untuk menstabilkan dinar. Itu bukan kebijakan—itu pertolongan darurat keuangan yang nyaris tak tertolong.

Young Economist (Ekonom Muda)
Borrowing more is pointless—domestic debt already exceeds $68B, and the market’s capacity to absorb is drying up. It’s like asking a dehydrated man to drink more saltwater.

Meminjam lebih banyak tidak berguna—utang domestik sudah lebih dari $68 miliar, dan kapasitas pasar untuk menyerap terus menyusut. Seperti meminta orang yang dehidrasi minum air laut lebih banyak.

Historical Parallels (Pecinta Sejarah Kontemporer)
Reminds me of Greece 2012. Same script: delayed budgets, phantom spending, then IMF to the 'rescue'—with austerity that punishes the poor.

Mengingatkan saya pada Yunani 2012. Skripnya sama: anggaran ditunda, belanja fiktif, lalu IMF datang 'menyelamatkan'—dengan program hemat yang justru menyengsarakan rakyat miskin.

Optimistic Technocrat (Teknokrat Optimis)
Digital tracking systems could end ghost salaries overnight. But until politicians profit from opacity, reform will always be 'under review'.

Sistem pelacakan digital bisa mengakhiri gaji hantu dalam semalam. Tapi selama politisi masih diuntungkan oleh ketidaktransparanan, reformasi akan selalu 'dalam kajian'.