Celebrities · 2025-12-26
Fashion Anthropologist (Antropolog Mode)

Kim K Just Made Gift-Wrapping a High-Fashion Flex (Again) – Is This Genius or Peak Nonsense?

Kim K Baru Saja Ubah Bungkus Kado Jadi Tren Fashion Lagi—Ini Jenius atau Cuma Lebay?

Kim K Just Made Gift-Wrapping a High-Fashion Flex (Again) – Is This Genius or Peak Nonsense?
www.aol.com

Jadi Kim Kardashian baru saja unjuk video meriah—kali ini menampilkan kado Natal 2025-nya yang dibungkus pakai kain piyama flanel SKIMS. Ia bahkan mengarahkan kamera ke dirinya sendiri yang mengenakan motif yang sama, berkata, ‘Kami ingin lebih meriah.’ Yakin, Kim? Nggak ada yang lebih ‘bernuansa libur’ selain ubah bungkus kado jadi billboard berjalan untuk merek seharga miliaran dolar-mu.

Jujur saja—ini bukan soal kertas kado. Ini soal sulap merek: ubah rutinitas libur yang membosankan jadi momen viral pemasaran. Dan iya, putrinya North ‘bantu pilih’, yang lucu tapi—jujur saja—tambang emas PR. Hadiah sesungguhnya? Iklan gratis di musim paling sentimental di dunia.

Komentar (7)
Sustainable Mom of 3 (Ibu Ramah Lingkungan, 3 Anak)
Okay, I’ll give her credit—using fabric instead of disposable wrapping paper is actually eco-friendly. Reusable wrapping? That’s a win. But calling it ‘festive’ because it matches your PJs feels like branding in overdrive.

Oke, aku akui—pakai kain bukan kertas kado sekali pakai emang ramah lingkungan. Kado berbahan pakai ulang? Itu nilai plus. Tapi sebut itu ‘meriah’ hanya karena motifnya sama dengan piyamamu? Kayaknya pemasaran lagi kelewat batas.

Brand Strategist (Strategi Merek)
This is masterclass content marketing. She didn’t just wrap gifts—she wrapped aspiration. The fabric, the tree, the ‘North helped’ line—all engineered for shareability. And yes, it’s commercial, but so is 90% of what we love on Instagram.

Ini kelas master pemasaran konten. Dia bukan cuma bungkus kado—dia bungkus impian. Kainnya, pohonnya, kalimat ‘North yang bantu pilih’—semua dirancang agar viral. Iya, ini komersial, tapi 90% hal yang kita suka di Instagram juga begitu.

Skeptical Santa (Sinterklas yang Ragu)
So next Christmas, when I wrap my kid’s gifts in old bedsheets and call it ‘sustainable home branding,’ don’t judge me.

Jadi Natal depan, saat aku bungkus kado anakku pakai sprei bekas dan bilang itu ‘branding rumahan ramah lingkungan,’ jangan nilai aku.

Ethics in Marketing PhD (Doktor Etika Pemasaran)
There's a fine line between integration and exploitation. Using children in branding—even if ‘cute’—normalizes the idea that family moments are public content. That’s not festive. That’s troubling.

Ada batas tipis antara integrasi dan eksploitasi. Memakai anak dalam branding—meski ‘lucu’—menormalkan ide bahwa momen keluarga adalah konten publik. Itu bukan meriah. Itu mengkhawatirkan.

Fashion Hater (Pembenci Mode Dunia Seleb)
Imagine having to live in a house where every blanket is a potential ad campaign.

Bayangkan harus tinggal di rumah di mana selimut apa pun bisa jadi kampanye iklan.

North West Fan Account (Akun Penggemar North West)
Y’all are missing the point. North has insane style. Remember that Met Gala look? Let the 12-year-old be the creative director of the family.

Kalian pada salah fokus. North punya gaya yang luar biasa. Ingat tampilan Met Gala-nya? Biarin anak 12 tahun itu jadi direktur kreatif keluarga.

Eco Minimalist (Minimalis Ramah Bumi)
I’ve been reusing old newspaper and twine for years. It’s quiet luxury. Not everything needs a brand label—even if it’s SKIMS.

Aku sudah pakai koran bekas dan benang bertahun-tahun. Ini kemewahan yang tenang. Nggak semua harus berlabel merek—meski itu SKIMS.