Is Vince Gilligan’s New Show Pluribus a Utopia or a Nightmare? The Internet Can’t Decide
Apakah Serial Terbaru Vince Gilligan, Pluribus, itu Utopia atau Malapetaka? Internet Belum Sepakat

Vince Gilligan kembali dengan Pluribus, dan ini bukan kiamat zombie biasa. Kali ini, 'yang terinfeksi' bukan mayat yang membusuk—mereka manusia yang senang berlebihan, saling membantu dalam semacam koloni ceria. Intinya? Ini mungkin justru surga. Gilligan sendiri mengakui tim penulisnya terbelah: satu menganggap ini surga, satunya menyebutnya horor distopia. Dan ya, Rhea Seehorn—yang luar biasa, terlalu sedikit tampil di Better Call Saul—akhirnya dapat peran utama yang memang ditulis khusus untuknya, bukan sekadar diberi begitu saja.
Tapi ini pertanyaan sesungguhnya: Jika semua orang bahagia, apakah kebebasan memilih masih penting? Kehebatan Gilligan selalu terletak pada moral yang kabur—dan Pluribus mungkin proyek paling mengganggu secara filosofis yang pernah ia buat. Juga, mereka mengubah rasio aspek jadi 2.39:1 dan memakai pencahayaan terinspirasi Kodachrome. Jadi, ya, tampilannya terlihat mahal.
Konflik utamanya bukan antara manusia dan koloni—tapi antara etika kebahagiaan dan etika otonomi. Jika 99% orang euforik tapi kehilangan kebebasan memilih, apakah ini lebih baik daripada 50% bahagia dengan kebebasan? Ini bukan fiksi ilmiah—ini utilitarianisme dengan alunan musik.
Saya hargai bahwa Gilligan akhirnya menulis sesuatu di mana protagonisnya bukan laki-laki yang merusak diri pelan-pelan. Carol bukan sekadar 'protagonis perempuan'—dia kompleks, lucu, punya kedalaman. Tapi jujur saja: Rhea Seehorn dibayar sepersekian dari gaji Bob Odenkirk di Saul. Hollywood, kami tahu kamu.
Orang-orang dalam koloni cuma bahagia karena otonomi mereka dihapus. Itu bukan kebahagiaan, itu pencucian otak. Menyebutnya 'surga' adalah cara rezim otoriter menjual kendali. Maaf, tapi tidak—lebih baik kebebasan daripada senyum palsu kapan saja.
Kedengarannya koloni itu cuma versi ekstrem media sosial berbasis algoritma. Kita sudah kehilangan kebebasan memilih—satu tombol suka demi satu tombol suka.
Pencahayaan ala Kodachrome di serial pascakiamat? Cerdas. Seperti pakai Polaroid hangat untuk mendokumentasi akhir dunia. Rasio aspek 2.39:1 bikin setiap frame terasa seperti kartu pos sunyi dari planet yang sepi.
Setidaknya di sini zombie-nya mau memelukmu. Sedikit penghiburan.
Ketegangan antara misi Carol dan realitas koloni mencerminkan ketakutan modern: apakah kita kehilangan diri demi ideologi kolektif, meski menjanjikan kenyamanan?