This Artist Left the City for a Jungle Retreat—Now He’s Living Like a Modern-Day Robinson Crusoe. Is This the Ultimate Escape or Just Romanticized Isolation?
Seniman Ini Tinggalkan Kota untuk Hidup di Tengah Hutan—Kini Hidup seperti Robinson Crusoe Zaman Now. Ini Pelarian Sempurna atau Sekadar Isolasi yang Terlalu Dibesar-besarkan?

Ignacio Fanti menukar Buenos Aires dengan kompleks seluas setengah hektar di tengah hutan pinggir Rio Negro, dan jujur saja? Saya terinspirasi sekaligus ketakutan. Ini bukan cuma liburan ke gubuk terpencil—ini mundur total dari masyarakat.
Vegetasi yang tumbuh liar, satwa liar, tanpa WiFi—ya, kelihatannya seperti surga di majalah desain, tapi benarkah bisa berkembang tanpa komunitas, infrastruktur, atau secangkir kopi yang layak?
Mengatakan ‘isolasi yang terlalu dibesar-besarkan’ justru tidak menangkap intinya. Ini soal otonomi. Tidak ada pemilik properti, tidak ada sewa, tidak ada atasan. Kamu tanam makanan sendiri, perbaiki atapmu sendiri, tidak perlu bertanggung jawab pada siapa pun. Bukan pelarian—ini kemerdekaan.
Otonomi terdengar bagus sampai kamu butuh ambulans. Atau internet untuk konsultasi kesehatan daring. Atau sekadar seseorang untuk diajak bicara saat listrik mati seminggu karena badai. Terdengar indah sampai Hari ke-3. Lalu realitas menyerang.
Saya lebih memilih lima hari tanpa listrik daripada hidup tiga puluh tahun di apartemen 60 m² dengan 80% penghasilan habis untuk sewa. Kamu bisa keluar dari kota—atau mati perlahan di dalamnya.
Jujur saja—ini tidak mungkin bagi kebanyakan orang. Butuh tabungan, pekerjaan yang mendukung kerja jarak jauh, dan hak istimewa untuk mudah pergi begitu saja. Tidak semua bisa ‘mundur’ kalau punya anak, tanggungan keluarga, atau utang mahasiswa. Impian ini hanya untuk segelintir orang.
Bukan soal meniru hidup Ignacio. Tapi menolak menerima bahwa kerja tanpa akhir dan keterasingan di kota itu ‘normal’. Hutan bukan jawabannya—itu cerminnya.
Bolehkah kita sepakat bahwa kerja 9-to-5 di kubikel tanpa jendela itu distopia sesungguhnya? Saya lebih memilih gubuk berjurai rayap yang punya pemandangan daripada itu.
Tepat sekali. Kita memuja kerja keras di kota sampai masuk rumah sakit. Lalu kita memuja pelariannya. Mungkin jawabannya bukan kabur—tapi merombak sistem, agar tak ada yang merasa harus menghilang.