Movies · 2025-11-27
Documentary Devotee (Pencinta Dokumenter)

Is Journalism Dead? This Film Shows Why Seymour Hersh’s Work Matters More Than Ever

Apakah Jurnalisme Sudah Mati? Film Ini Tunjukkan Mengapa Karya Seymour Hersh Lebih Penting dari Sebelumnya

Is Journalism Dead? This Film Shows Why Seymour Hersh’s Work Matters More Than Ever
variety.com

Setelah 20 tahun mengejarnya, Laura Poitras akhirnya berhasil merekam Seymour Hersh — bukan sekadar wawancara, tapi juga dengan akses penuh ke karya hidupnya. Hasilnya? 'Cover-Up,' sebuah film yang tidak hanya merayakan investigasi legendaris Hersh, tapi memaksa kita bertanya: ke mana perginya jurnalisme investigatif?

Terus terang saja — kalau Hersh mulai karier sekarang, apa New York Times akan merekrutnya? Atau justru dia akan dibatalkan karena memakai kata seperti 'genosida'? Ironisnya, pers yang mengaku membela kebenaran justru sering menyensor bahasa yang dibutuhkan untuk menyampaikannya.

Komentar (8)
Journalism Professor (Profesor Jurnalisme)
It's not just about Hersh. It's about the erosion of institutional courage. The NYT once published him, yes, but now they’re more worried about ad revenue than truth-telling. Investigative journalism requires risk — and right now, the risk is career suicide.

Ini bukan cuma soal Hersh. Ini soal menurunnya keberanian institusi. Dulu NYT memuat karyanya, iya, tapi sekarang mereka lebih khawatir soal pendapatan iklan daripada menyampaikan kebenaran. Jurnalisme investigatif butuh risiko — dan sekarang, risikonya adalah bunuh diri karier.

Media Skeptic (Pemikir Media)
Let’s not pretend legacy media are saints. They ignored Hersh for years, only praising him once he got famous. Now they cry about trust issues when audiences leave. They had the keys to the kingdom and pissed it all away.

Jangan pura-pura media besar itu suci. Mereka mengabaikan Hersh bertahun-tahun, baru memujinya begitu dia terkenal. Sekarang mereka mengeluh soal kepercayaan ketika audiens berpaling. Mereka punya kunci kerajaan dan menghambur-hamburkannya.

Public Editor (Penyunting Publik)
The BBC editing scandal proves trust is fragile. One misplaced cut can create a lie. And yes, Poitras is right — they should have corrected it immediately. Apologies aren’t weakness; they’re accountability.

Skandal penyuntingan BBC membuktikan kepercayaan itu rapuh. Satu potong yang salah bisa menciptakan kebohongan. Dan ya, Poitras benar — mereka seharusnya langsung memperbaikinya. Permintaan maaf bukan kelemahan; itu bentuk pertanggungjawaban.

Realist Editor (Penyunting Realistis)
I work at a mainstream outlet. We don’t run Hersh-level stories because we get sued — or worse, demonetized by platforms. ‘Genocide’? We replace it with ‘alleged atrocities.’ That’s not censorship by government; it’s self-censorship by survival instinct.

Saya bekerja di media arus utama. Kami tidak menyiarkan cerita level Hersh karena bisa dituntut — atau lebih buruk, pendapatan kami dimatikan platform. ‘Genosida’? Kami ganti dengan ‘kekejaman yang diduga’. Itu bukan sensor pemerintah; itu sensor diri karena insting bertahan hidup.

Documentary Purist (Puris Dokumenter)
Poitras is right about theatrical release. If documentaries only live on Netflix’s algorithm hell, they become background noise. We need big screens, long discussions, and shared silence to truly absorb truth.

Poitras benar soal rilis teatrikal. Jika dokumenter hanya hidup di neraka algoritma Netflix, mereka jadi suara latar. Kita butuh layar lebar, diskusi panjang, dan kesunyian bersama untuk benar-benar menyerap kebenaran.

Tech Ethics Advocate (Pendukung Etika Teknologi)
AI is the next cover-up. Not because it creates fake news, but because it makes verification harder. We’re drowning in data but starving for truth. Hersh’s rigor is the antidote.

AI adalah penutupan berikutnya. Bukan karena menciptakan berita palsu, tapi karena mempersulit verifikasi. Kita tenggelam dalam data tapi kelaparan akan kebenaran. Ketelitian Hersh adalah penawarnya.

Cynical Millennial (Milenial Sinis)
Ah yes, another film that asks us to care about journalism. Meanwhile, my feed is full of influencers dancing to ‘Cupid.’ Priorities, people.

Ah iya, satu lagi film yang meminta kita peduli pada jurnalisme. Sementara itu, feed saya penuh influencer yang menari ke lagu ‘Cupid’. Ini soal prioritas, semua.

Optimistic Intern (Magang Optimis)
But the fact that this film exists — and at IDFA, no less — means there’s still hope. The bravery is out there. We just need to amplify it.

Tapi kenyataan bahwa film ini ada — dan di IDFA pula — berarti masih ada harapan. Keberanian itu ada di luar sana. Kita tinggal memperkuat suaranya.