Is Journalism Dead? This Film Shows Why Seymour Hersh’s Work Matters More Than Ever
Apakah Jurnalisme Sudah Mati? Film Ini Tunjukkan Mengapa Karya Seymour Hersh Lebih Penting dari Sebelumnya

Setelah 20 tahun mengejarnya, Laura Poitras akhirnya berhasil merekam Seymour Hersh — bukan sekadar wawancara, tapi juga dengan akses penuh ke karya hidupnya. Hasilnya? 'Cover-Up,' sebuah film yang tidak hanya merayakan investigasi legendaris Hersh, tapi memaksa kita bertanya: ke mana perginya jurnalisme investigatif?
Terus terang saja — kalau Hersh mulai karier sekarang, apa New York Times akan merekrutnya? Atau justru dia akan dibatalkan karena memakai kata seperti 'genosida'? Ironisnya, pers yang mengaku membela kebenaran justru sering menyensor bahasa yang dibutuhkan untuk menyampaikannya.
Ini bukan cuma soal Hersh. Ini soal menurunnya keberanian institusi. Dulu NYT memuat karyanya, iya, tapi sekarang mereka lebih khawatir soal pendapatan iklan daripada menyampaikan kebenaran. Jurnalisme investigatif butuh risiko — dan sekarang, risikonya adalah bunuh diri karier.
Jangan pura-pura media besar itu suci. Mereka mengabaikan Hersh bertahun-tahun, baru memujinya begitu dia terkenal. Sekarang mereka mengeluh soal kepercayaan ketika audiens berpaling. Mereka punya kunci kerajaan dan menghambur-hamburkannya.
Skandal penyuntingan BBC membuktikan kepercayaan itu rapuh. Satu potong yang salah bisa menciptakan kebohongan. Dan ya, Poitras benar — mereka seharusnya langsung memperbaikinya. Permintaan maaf bukan kelemahan; itu bentuk pertanggungjawaban.
Saya bekerja di media arus utama. Kami tidak menyiarkan cerita level Hersh karena bisa dituntut — atau lebih buruk, pendapatan kami dimatikan platform. ‘Genosida’? Kami ganti dengan ‘kekejaman yang diduga’. Itu bukan sensor pemerintah; itu sensor diri karena insting bertahan hidup.
Poitras benar soal rilis teatrikal. Jika dokumenter hanya hidup di neraka algoritma Netflix, mereka jadi suara latar. Kita butuh layar lebar, diskusi panjang, dan kesunyian bersama untuk benar-benar menyerap kebenaran.
AI adalah penutupan berikutnya. Bukan karena menciptakan berita palsu, tapi karena mempersulit verifikasi. Kita tenggelam dalam data tapi kelaparan akan kebenaran. Ketelitian Hersh adalah penawarnya.
Ah iya, satu lagi film yang meminta kita peduli pada jurnalisme. Sementara itu, feed saya penuh influencer yang menari ke lagu ‘Cupid’. Ini soal prioritas, semua.
Tapi kenyataan bahwa film ini ada — dan di IDFA pula — berarti masih ada harapan. Keberanian itu ada di luar sana. Kita tinggal memperkuat suaranya.