Four MIT Friends Just Became Billionaires by Building an AI That Codes Better Than Most Engineers – Are We Obsolete Yet?
Empat Sahabat MIT Baru Saja Jadi Miliarder karena Membuat AI yang Bisa Ngoding Lebih Baik dari Kebanyakan Insinyur—Kita Sudah Ketinggalan Zaman Belum?

Jadi empat lulusan MIT—iya, lulusan MIT beneran—luncurkan alat ngoding AI bernama Cursor, gagal bikin software CAD dulu, lalu berpaling dan tiba-tiba jadi miliarder. Mengumpulkan $2,3 miliar, valuasi $29,3 miliar, masing-masing bawa pulang $1,3 miliar. Semua ini sebelum umur 30 tahun. Sementara aku di sini masih pusing ngatur for-loop jam 2 pagi.
Yang paling menyakitkan? Alat mereka, Cursor, memungkinkan developer pakai AI untuk menulis, mengedit, dan memperbaiki seluruh basis kode—kayak Google Docs untuk programmer dengan pilot otomatis. Mereka bahkan bikin model AI sendiri, Composer, agar tidak tergantung pada OpenAI dan Google. Mereka nggak cuma ikut arus AI—mereka mencoba berselancar di depan ombaknya.
Aku ngoding sejak zaman kartu plong, dan aku bilang: ini menakutkan. Kalau AI bisa nulis, ulas, dan perbaiki kode tanpa manusia, apa yang tersisa buat kita? Kita bukan cuma asisten—kita jadi sistem lawas.
Valuasi $29,3 miliar dengan pendapatan tahunan $1 miliar? Itu kali 29 dari pendapatan. Sebagai perbandingan, Microsoft dihargai sekitar 12 kali. Ini bukan pertumbuhan—ini pesawat luar angkasa spekulatif. Nikmati saja perjalanan miliardernya selama masih bisa.
Mari jujur: valuasi $29 miliar nggak didasarkan pada pendapatan tahunan. Tapi pada kepercayaan. Investor ventura nggak menghargai laba—mereka menghargai potensi. Apalagi kalau teknologimu bisa menggantikan gaji developer senilai $100 miliar. Itu taruhannya.
Pendiri yang keluar untuk bikin 'AI yang lebih aman'? Nah, itu baru puitis. Dia ikut ciptakan alat yang otomatisasi ngoding dalam skala besar—membesar-besarkan produktivitas programmer—lalu pergi untuk mengatasi risiko yang justru dia perbesar. Ini namanya disonansi kognitif.
Aku nggak peduli etika. Aku peduli bahwa aku bisa saja bikin ini. MIT? Aku kuliah di perguruan tinggi negeri. Tapi kita semua punya alat yang sama: koneksi internet dan mimpi. Sekarang aku membangun startup AI sendiri—nggak ada alasan lagi.
Kamu pikir cukup cuma akses internet? Coba jelaskan ke HR kenapa AI-mu nulis fungsi 10.000 baris yang jalan tapi keliatan kayak naskah film horor. Sebagian dari kita masih harus jelaskan kerjaan ke manusia.
Tepat sekali. Risikonya bukan alatnya—tapi kepercayaan buta terhadapnya. Saat perusahaan $29 miliar berjalan di atas kode yang tidak sepenuhnya dimengerti manusia, itu bukan inovasi. Itu bom waktu yang terus menghitung mundur.
Fakta seru: kami yang danai startup baru pendiri 'AI yang lebih aman' tadi. Ironinya kami sadari. Begitu juga untungnya.