Kate Winslet Reveals the Ugly Truth About Being a Female Director: 'They Expect Us to Do More for Less'
Kate Winslet Bongkar Fakta Pahit Jadi Sutradara Perempuan: 'Mereka Berharap Kita Kerja Lebih Tapi Dapat Bayaran Lebih Rendah'
:max_bytes(150000):strip_icc():focal(749x0:751x2)/kate-winslet-goodbye-june-122025-a9295b1bf3e541d9ba535f59bea3d207.jpg)
Kate Winslet baru saja mengungkap kebenaran soal arti menjadi perempuan yang berdiri di balik kamera. Film debut penyutradaraannya, Goodbye June, ditulis oleh putranya yang berusia 21 tahun — ya, nuansa 'anak tenar' memang terasa, tapi tetap saja, hormat untuk warisan keluarganya.
Tapi inilah bagian paling menyakitkan: dia mengakui kru harus bekerja di bawah tarif normal karena, sebagai wanita yang memimpin, dia tidak bisa mendapat anggaran setara. Sementara itu, aktor muda laki-laki yang jadi sutradara 'dibiarkan begitu saja bekerja'. Standar ganda ini bukan cuma melelahkan — ini sistemik.
Ini menyentuh banget. Saya pernah lihat sutradara perempuan brilian menolak proyek cuma karena nggak bisa dapat dana, sementara cowok yang belum berpengalaman malah langsung disetujui dalam hitungan minggu. Bukan soal bakat — tapi soal kepercayaan. Dan kepercayaan itu punya gender.
Oke, jujur aja: saya pernah arahin film pendek, dan orang-orang langsung... nganggap saya tahu yang saya lakukan. Nggak ada yang nanya. Sementara itu, pacar saya, yang jauh lebih ahli, harus membela setiap keputusan yang dia buat.
Bisa kita bahas nggak soal dia harus pinjam bantuan dan kru kerja di bawah tarif? Ini bukan cuma seksisme industri — ini ekonomi film indie yang memanfaatkan semangat juang orang.
Tunggu dulu. Apa dia menyalahkan seksisme atau cuma anggaran yang buruk? Banyak sutradara mulai dari proyek kecil. Spielberg aja nggak langsung dapat Jaws setelah lulus sekolah film.
Jangan kita salahkan korban. Kru awal Spielberg nggak diminta potong gaji cuma karena dia sutradara 'berisiko'. Narasi risiko juga punya gender.
Hari lagi, prestasi perempuan 'mendobrak' lagi yang tetap mengharuskan kerja tiga kali lipat dengan bayaran setengah. Jujur, kapan industri ini berhenti berpura-pura sudah berubah?
Yang saya tahu, dia melakukannya. Dia membuat film. Anaknya yang nulis naskahnya. Dia yang mengarahkan. Di tengah sinema yang sekarat, ini bukan cuma seni — ini bentuk perlawanan.