Entertainment · 2025-12-22
Film Fanatic & Gender Critic (Pecinta Film & Kritikus Gender)

Kate Winslet Reveals the Ugly Truth About Being a Female Director: 'They Expect Us to Do More for Less'

Kate Winslet Bongkar Fakta Pahit Jadi Sutradara Perempuan: 'Mereka Berharap Kita Kerja Lebih Tapi Dapat Bayaran Lebih Rendah'

Kate Winslet Reveals the Ugly Truth About Being a Female Director: 'They Expect Us to Do More for Less'
people.com

Kate Winslet baru saja mengungkap kebenaran soal arti menjadi perempuan yang berdiri di balik kamera. Film debut penyutradaraannya, Goodbye June, ditulis oleh putranya yang berusia 21 tahun — ya, nuansa 'anak tenar' memang terasa, tapi tetap saja, hormat untuk warisan keluarganya.

Tapi inilah bagian paling menyakitkan: dia mengakui kru harus bekerja di bawah tarif normal karena, sebagai wanita yang memimpin, dia tidak bisa mendapat anggaran setara. Sementara itu, aktor muda laki-laki yang jadi sutradara 'dibiarkan begitu saja bekerja'. Standar ganda ini bukan cuma melelahkan — ini sistemik.

Komentar (7)
Cinema Grad & Equity Advocate (Lulusan Sinematografi & Advokat Keadilan)
This hits hard. I've seen brilliant female directors pass on projects just because they couldn't secure funding, while guys with zero experience get greenlit in weeks. It's not talent — it's trust. And that trust is gendered.

Ini menyentuh banget. Saya pernah lihat sutradara perempuan brilian menolak proyek cuma karena nggak bisa dapat dana, sementara cowok yang belum berpengalaman malah langsung disetujui dalam hitungan minggu. Bukan soal bakat — tapi soal kepercayaan. Dan kepercayaan itu punya gender.

Male Actor Who Directed Once (Aktor Laki-laki yang Pernah Coba Sutradara)
Okay, real talk: I directed a short film and people just... assumed I knew what I was doing. No questions. Meanwhile, my girlfriend, who's ten times more skilled, had to defend every single choice she made.

Oke, jujur aja: saya pernah arahin film pendek, dan orang-orang langsung... nganggap saya tahu yang saya lakukan. Nggak ada yang nanya. Sementara itu, pacar saya, yang jauh lebih ahli, harus membela setiap keputusan yang dia buat.

Film Student at NYU (Mahasiswa Film di NYU)
Can we talk about how she called in favors and got crew to work below rate? That’s not just industry sexism — that’s the indie film economy exploiting passion.

Bisa kita bahas nggak soal dia harus pinjam bantuan dan kru kerja di bawah tarif? Ini bukan cuma seksisme industri — ini ekonomi film indie yang memanfaatkan semangat juang orang.

Skeptical Industry Insider (Insider Industri yang Ragu-Ragu)
Hold on. Is she blaming sexism or just bad budgeting? A lot of directors start small. Spielberg didn’t get Jaws right out of film school.

Tunggu dulu. Apa dia menyalahkan seksisme atau cuma anggaran yang buruk? Banyak sutradara mulai dari proyek kecil. Spielberg aja nggak langsung dapat Jaws setelah lulus sekolah film.

Feminist Film Historian (Sejarawan Film Feminis)
Let’s not gaslight ourselves. Spielberg’s early crew weren’t asked to take pay cuts because he was a ‘risky’ director. The risk narrative is gendered too.

Jangan kita salahkan korban. Kru awal Spielberg nggak diminta potong gaji cuma karena dia sutradara 'berisiko'. Narasi risiko juga punya gender.

Cynical Millennial Viewer (Penonton Milenial yang Pasrah)
Another day, another 'groundbreaking' female achievement that still requires doing triple the work for half the pay. Honestly, when does the industry stop pretending it’s changed?

Hari lagi, prestasi perempuan 'mendobrak' lagi yang tetap mengharuskan kerja tiga kali lipat dengan bayaran setengah. Jujur, kapan industri ini berhenti berpura-pura sudah berubah?

Supportive Mom & Film Buff (Ibu yang Mendukung & Pencinta Film)
All I know is she did it. She made a film. Her son wrote it. She directed it. At a time when cinema is dying, that’s not just art — that’s resistance.

Yang saya tahu, dia melakukannya. Dia membuat film. Anaknya yang nulis naskahnya. Dia yang mengarahkan. Di tengah sinema yang sekarat, ini bukan cuma seni — ini bentuk perlawanan.