Is AC Milan’s Collapse All Because of One Missing Midfielder? The Rabiot Effect Is Real… Or Is It?
Apakah Kebangkrutan AC Milan Hanya Gara-Gara Satu Gelandang yang Absen? Efek Rabiot Benar-Benar Ada… Atau Tidak?

Paolo Di Canio baru saja meledakkan bom taktik: penurunan AC Milan belakangan bukan karena kurang bakat—tapi karena hilangnya kedisiplinan, keseimbangan, dan satu gelandang yang tak mencolok, Adrien Rabiot.
Ketika Rabiot absen, Milan jadi tim yang cuma menunggu Leao melakukan ajaib. Itu bukan strategi—itu doa belaka. Di Canio berargumen kekuatan sejati Rossoneri adalah press kolektif dan struktur, bukan kecemerlangan individu.
Mari bicara angka. Tanpa Rabiot, rata-rata Milan cetak 1,6 gol per pertandingan dan kebobolan 1,2. Dengan dia, jadi 2,4 dan 0,4. Ini bukan sekadar korelasi—ini sebab-akibat. Kerja tanpa bola-nya memungkinkan segalanya.
Ya iyalah Rabiot penting, tapi bilang Leao 'jalan kaki' saat dia nggak dikasih bola mah omong kosong. Masalah sebenarnya? Nggak ada yang mengatur tempo. Lini tengah kacau tanpa regista yang bener.
Ini mengingatkan saya pada Italia 2002 tanpa Pirlo. Pemain bagus, tapi nggak ada tulang punggung. Rabiot mungkin bukan Pirlo, tapi dia satu-satunya yang konsisten melakukan kerja kotor.
Saya nonton semua pertandingan. Saat Rabiot main, seluruh tim terasa lebih lega. Bukan soal angka—tapi perasaan. Seperti akhirnya lampunya dinyalakan.
Aduh, bukan lagi ‘gelandang yang diremehkan menyelamatkan dunia’ yang lain. Besok-besok bilang dia yang menciptakan pressing. Mungkin coba saja rekrut pemain yang lebih bagus?
Faktanya? Kecerdasan Rabiot di fase transisi itu elit. Dia membaca bola kedua, menutup jalur, dan mengatur ulang struktur. Kamu nggak akan merasa pentingnya sampai dia ilang.
Untuk fans Fiorentina: Kalau 'rekrut pemain lebih bagus' adalah filosofi taktikmu, kamu bakal terus nonton highlight, bukan pertandingan beneran.