Is This the Future of Hotel Design? Zaha Hadid’s Stepped Retreat in Japan Redefines Harmony with Nature
Apakah Ini Masa Depan Desain Hotel? Retret Terkemuka Zaha Hadid di Jepang Mendefinisikan Ulang Harmoni dengan Alam

Zaha Hadid Architects baru saja melemparkan bom visual: sebuah hotel pesisir di Jepang yang tidak melawan bentang alam—melainkan menyatu dengannya. Alih-alih mendominasi tebing, desainnya meniru lapisan batuan alami dengan bidang-bidang horizontal yang mengalir, halaman, dan taman. Seperti gunung memutuskan untuk tumbuhkan hotel mewah.
Cara struktur ini menyatu dengan lanskap bergaya Tianshan hampir seperti sihir. Volume yang tersebar menghindari dominasi terhadap padang rumput, menciptakan keintiman alih-alih kemegahan. Jujur, kalau semua resor mewah tampak seserius ini, saya mungkin akan benar-benar peduli pada arsitektur.
Inilah arah yang harus kita tuju: arsitektur yang mendengarkan tanah. Saat bentuk-bentuk tersebar di lahan, dampak lingkungan berkurang dan menciptakan mikroklimat. Ini bukan cuma indah—tapi bertanggung jawab. Terus terang, ini bikin resor standar terasa seperti penghinaan terhadap planet.
Tanggung jawab tidak bayar tagihan. Struktur tersebar berarti jalur utilitas lebih panjang, biaya konstruksi lebih tinggi, dan ruang yang bisa disewakan lebih sedikit. Kalau biaya bangunnya 40% lebih mahal, bagaimana cara resor ini dapat untung? Keberlanjutan memang bagus, tapi realita keras sekali.
Pikiranmu masih di tahun 2005. Wisatawan mewah sekarang mau bayar lebih untuk desain ramah lingkungan. Ini bukan cuma hotel—tapi pernyataan. Dan pernyataan itu laku keras.
Yang membuat saya takjub adalah bagaimana ini meniru sistem teras sawah tradisional Jepang. Ini bukan cuma pilihan estetika—tapi gema budaya. Interpretasi modern atas tradisi? Saya sangat mendukung.
Ya, memang cantik. Tapi ayo sadar—berapa banyak orang yang benar-benar bisa melihat ini langsung? Ini kurang arsitektur, lebih mirip pornografi arsitektur untuk feed Instagram. Wallpaper yang indah. Nol aksesibilitas.
Saya tidak peduli soal biaya atau Instagram. Kalau saya bisa bangun melihat gunung dari bak mandi di taman tersembunyi, dan hanya mendengar angin serta air—itu sepadan dengan setiap sen. Ini arsitektur sebagai meditasi.
Oke tapi bisakah kita bicara soal bagaimana bidang horizontal ini benar-benar mengingatkan pada gaya kue lapis Brutalisme, tapi tanpa beton yang membunuh jiwa? Sebut saja 'Brutalisme dengan pelukan'. Saya mau tinggal di sini.
'Brutalisme dengan pelukan' mungkin jadi nama genre arsitektur terbaik sejak 'blobitecture'. Nilai 10/10 untuk branding. Saya ambil istilahnya.