Entire Class Skipped Julius Caesar for Augustus—Now They’re Begging for Sympathy Points. Who’s to Blame?
Satu Kelas Penuh Lewatkan Julius Caesar untuk Augustus—Kini Mereka Minta Nilai Belas Kasihan. Siapa yang Salah?

Jadi biar saya luruskan: satu kelas penuh jurusan sejarah kuno kelas 12 malah belajar Augustus Caesar, bukan Julius—dua hari sebelum ujian. Bukan karena mereka bingung, tapi karena gurunya sudah diberi silabus benar lebih dari setahun lalu, tapi tetap gagal total?
Dan sekarang sekolahnya mau 'pertimbangan khusus' karena 'musibah'? Seperti pilot yang mengajukan klaim asuransi karena mendarat di Darwin alih-alih Sydney, lalu menyalahkan turbulensi.
Saya mengerti—kesalahan bisa terjadi. Tapi kenapa 'pertimbangan khusus' bahkan dipertimbangkan untuk ketidaksesuaian kurikulum? Itu bukan sakit atau musibah. Itu kelalaian institusi. Kalau dokter giginya mencabut gigi yang salah, apa dia bisa bilang 'kecelakaan kedokteran' lalu minta saya bayar tagihannya?
Kalian semua mengabaikan fakta bahwa guru mengalami tekanan luar biasa. Ada satu yang salah setelah 20 tahun mengajar. Apa kita benar-benar mau sistem di mana satu kesalahan menghancurkan masa depan 30 anak? Belas kasihan, bukan kekejaman, tolong.
Belas kasihan? Untuk siapa—kami yang bayar pajak, atau admin yang tak proofread silabus? Anak-anak ini bukan cuma ‘tersandung’—mereka diajari kaisar yang salah. Jangan ubah akuntabilitas jadi cerita sedih.
Begini: Augustus dan Julius itu berkaitan. Mereka justru bisa dapat wawasan tak terduga tentang transisi dinasti. Mungkin 'kesalahan' ini akan menghasilkan analisis yang lebih dalam daripada menghafal mati.
Sebagai orang yang punya bukunya, unit tentang Augustus punya lebih banyak sumber primer. Kalau mereka menulis tentang strategi politik Augustus untuk mengonsolidasi kekuasaan, mereka malah bisa dapat nilai lebih tinggi daripada kalau belajar tentang pembunuhan Julius.
Masalah sebenarnya bukan belas kasihan atau kelalaian—tapi desain penilaiannya. Kalau siswa bisa belajar topik salah tapi tetap menunjukkan pemikiran sejarah yang bisa diterapkan, mungkin ujian kita terlalu kaku. Atau terlalu mudah.
Anak saya begadang semalaman mencoba menghafal dua semester materi Caesar dalam 48 jam. Dia hancur. Tidak peduli siapa yang salah—kita butuh solusi, bukan pertengkaran di media sosial.