Is the Climate Crisis the Progressive Weapon Against Right-Wing Populism? Miliband Says Yes — But Are We Listening?
Apakah Krisis Iklim Jadi Senjata Progresif Lawan Populisme Kanan? Miliband Bilang Iya — Tapi Apa Kita Mendengar?

Ed Miliband melemparkan tantangan: krisis iklim bukan isu politik yang kalah — ini justru teriakan perlawanan progresif terakhir melawan kemunculan populisme kanan-ekstrem. Sementara tokoh seperti Farage mendorong nostalgia akan batu bara dan penyangkalan, Miliband berargumen masyarakat justru menginginkan aksi, bukan kemunduran.
Dia tidak salah: diam progresif soal iklim adalah anugerah bagi populis. Tapi pertanyaan sebenarnya adalah apakah kebijakan hijau bisa menawarkan bukan sekadar harapan, tapi juga pekerjaan dan keamanan nyata — karena itulah yang sebenarnya diperhatikan pemilih saat listrik padam atau tagihan menumpuk.
Cara pandang Miliband sangat brilian. Aksi iklim bukan cuma soal moral — ini juga peledak ekonomi. Fakta bahwa energi terbarukan mendapat investasi 2x lipat dari bahan bakar fosil membuktikan pasar sudah memberi suara. Ini bukan aktivisme; ini kapitalisme yang berubah arah.
Mudah bagi elite kota bicara soal pertanian surya. Saya peduli soal memanaskan rumah di musim dingin. Kebijakan hijau yang mengabaikan realitas biaya hidup pasti gagal.
Argumen biaya hidup di pedesaan memang valid, tapi jangan berpura-pura energi terbarukan belum memangkas biaya energi rumah tangga di Jerman dan Portugal. Pompa panas modern bekerja bahkan di iklim dingin — ini soal peluncuran dan edukasi, bukan kegagalan teknologi.
Kita terus memperdebatkan tagihan energi di Inggris sementara orang di Somalia berjalan 10km untuk air. Krisis iklim bersifat global, tapi bebannya tidak dibagi rata. Itu tidak adil — ini kekerasan.
Tepat sekali. Negara maju suka menargetkan iklim tapi memblokir pendanaan iklim. Mereka mengklaim memimpin sambil menolak membiayai komunitas yang paling terdampak. Kepemimpinan tanpa sumber daya hanyalah seni pertunjukan.
"Seni pertunjukan" — sempurna. Tapi jangan lupa peran pasar. Modal swasta tak menunggu pemerintah. Dari surya di Maroko hingga baja hijau di Swedia, transisinya sudah menguntungkan.
Semua idealisme ini menyentuh. Tapi kita harus realistis: pemilih menghukum partai karena lonjakan harga, bukan karena gagal menyelamatkan Maladewa. Harapan itu bagus, tapi tidak membayar uang sewa.
Memang benar — harapan saja tak cukup memperbaiki segalanya. Tapi putus asa justru anugerah terbesar bagi pelobi bahan bakar fosil. Kita sedang mengorganisir, mogok, memilih. Masa depan bukan olahraga penonton.