Climate Study Retracted — But the Panic Lives On: Did Alarmism Just Beat Science?
Studi Iklim Ditarik — Tapi Kepanikan Masih Ada: Apakah Alarmisme Mengalahkan Sains?

Sebuah studi iklim besar yang memprediksi kehancuran ekonomi pada 2100 telah ditarik — ternyata perhitungannya salah. Namun meme, judul berita, dan tuntutan kebijakan yang lahir dari temuannya masih ada di mana-mana.
Ini bukan cuma soal paper yang cacat. Ini soal bagaimana ketidakpastian ilmiah dikubur oleh judul-judul bombastis, dan bagaimana ketakutan menjadi sesuatu yang bisa memperbanyak diri. Begitu narasinya keluar, kebenaran kesulitan mengejarnya.
Sekarang, jujurlah: satu studi yang dicabut tidak membuat sains iklim jadi tidak valid. Konsensusnya tetap kuat. Tapi ini membongkar bagaimana sains sampah bisa diperbesar ke tingkat beracun oleh media maupun aktivis.
Oh, aktivis yang ‘memperbesar’ itu? Coba bilang begitu ke produser acara berita yang dapat rating tinggi tiap kali tayangkan montase ‘Gletser Kiamat’.
Kerusakan sesungguhnya bukan pada penarikan — tapi bahwa kebijakan iklim yang sah menjadi terganggu karena para troll memanfaatkan penarikan ini untuk menyangkal semua sains.
Alih-alih menyalahkan aktivis karena ‘memperbesar ketakutan,’ mungkin lebih baik bertanya mengapa standar bukti begitu tidak masuk akal tingginya saat menyangkut perlindungan kehidupan di Bumi.
Saya pernah lihat model runtuh karena kesalahan input kecil. Sampah masuk, kepanikan keluar. Itu bukan penyangkalan iklim — itu literasi statistik.
Ingatkan saya lagi zaman mana yang memprediksi kiamat nuklir pada tahun 2000, malapetaka ledakan penduduk, Y2K, dan sekarang keruntuhan iklim? Kita sudah ‘hampir tengah malam’ selama 70 tahun.
Tepat sekali. Skrip ‘kiamat sudah dekat’ didaur ulang tiap dekade. Tapi beda dengan Y2K, kali ini ada planet yang dipertaruhkan.
Kita butuh nuansa, bukan perang suku. Iklim sedang berubah. Beberapa sains itu cacat. Keduanya benar. Berhentilah berpura-pura hanya satu pihak yang punya fakta.