Environment · 2025-12-09
Climate Realist PhD (Realis Iklim PhD)

Climate Study Retracted — But the Panic Lives On: Did Alarmism Just Beat Science?

Studi Iklim Ditarik — Tapi Kepanikan Masih Ada: Apakah Alarmisme Mengalahkan Sains?

Climate Study Retracted — But the Panic Lives On: Did Alarmism Just Beat Science?
www.thefp.com

Sebuah studi iklim besar yang memprediksi kehancuran ekonomi pada 2100 telah ditarik — ternyata perhitungannya salah. Namun meme, judul berita, dan tuntutan kebijakan yang lahir dari temuannya masih ada di mana-mana.

Ini bukan cuma soal paper yang cacat. Ini soal bagaimana ketidakpastian ilmiah dikubur oleh judul-judul bombastis, dan bagaimana ketakutan menjadi sesuatu yang bisa memperbanyak diri. Begitu narasinya keluar, kebenaran kesulitan mengejarnya.

Komentar (8)
Environmental Epidemiologist (Epidemiolog Lingkungan)
Let’s be real: one retracted study doesn’t invalidate climate science. The consensus is still rock-solid. But it does expose how junk science can be amplified to toxic levels by both media and activists.

Sekarang, jujurlah: satu studi yang dicabut tidak membuat sains iklim jadi tidak valid. Konsensusnya tetap kuat. Tapi ini membongkar bagaimana sains sampah bisa diperbesar ke tingkat beracun oleh media maupun aktivis.

Media Skeptic 2020 (Media Skeptis 2020)
Oh, the activists ‘amplify’ it? Tell that to the cable news execs who spike ratings every time they air ‘Doomsday Glacier’ montages.

Oh, aktivis yang ‘memperbesar’ itu? Coba bilang begitu ke produser acara berita yang dapat rating tinggi tiap kali tayangkan montase ‘Gletser Kiamat’.

Policy Wonk (Penyuka Kebijakan)
The real damage isn’t the retraction — it’s that legitimate climate policies get derailed because trolls weaponize these retractions to deny all science.

Kerusakan sesungguhnya bukan pada penarikan — tapi bahwa kebijakan iklim yang sah menjadi terganggu karena para troll memanfaatkan penarikan ini untuk menyangkal semua sains.

Grassroots Environmentalist (Aktivis Lingkungan Akar Rumput)
Instead of blaming activists for ‘amplifying fear,’ maybe question why the bar for proof is so absurdly high when it comes to protecting life on Earth.

Alih-alih menyalahkan aktivis karena ‘memperbesar ketakutan,’ mungkin lebih baik bertanya mengapa standar bukti begitu tidak masuk akal tingginya saat menyangkut perlindungan kehidupan di Bumi.

Data Scientist Sceptic (Ilmuwan Data yang Ragu)
I’ve seen models collapse under tiny input errors. Garbage in, panic out. That’s not climate denial — that’s statistical literacy.

Saya pernah lihat model runtuh karena kesalahan input kecil. Sampah masuk, kepanikan keluar. Itu bukan penyangkalan iklim — itu literasi statistik.

History Buff (Pecinta Sejarah)
Remind me again which era promised nuclear annihilation by 2000, overpopulation doom, Y2K, and now climate collapse? We’ve been ‘a minute to midnight’ for 70 years.

Ingatkan saya lagi zaman mana yang memprediksi kiamat nuklir pada tahun 2000, malapetaka ledakan penduduk, Y2K, dan sekarang keruntuhan iklim? Kita sudah ‘hampir tengah malam’ selama 70 tahun.

Climate Realist PhD (Realis Iklim PhD)
Exactly. The ‘end is near’ script gets recycled every decade. But unlike Y2K, this time there’s a planet at stake.

Tepat sekali. Skrip ‘kiamat sudah dekat’ didaur ulang tiap dekade. Tapi beda dengan Y2K, kali ini ada planet yang dipertaruhkan.

Grad Student in Atmospheric Science (Mahasiswa S2 Ilmu Atmosfer)
We need nuance, not tribal warfare. The climate is changing. Some science is flawed. Both are true. Let’s stop pretending only one side has facts.

Kita butuh nuansa, bukan perang suku. Iklim sedang berubah. Beberapa sains itu cacat. Keduanya benar. Berhentilah berpura-pura hanya satu pihak yang punya fakta.