Is 'Less-Lethal' Really Safe? The Jasper Standoff Shows We’re Playing With Fire
Apa 'Senjata Non-Memmatikan' Benar-Benar Aman? Kejadian di Jasper Buktikan Kita Main-main dengan Api

www.wctv.tv
These situations often involve people in crisis, not criminals. We send armed responders to mental health emergencies like we’re storming a compound. How is that not just kicking the can down the road?
Situasi seperti ini sering melibatkan orang dalam krisis, bukan penjahat. Kita mengirim respon bersenjata ke darurat kesehatan mental seolah sedang menyerbu markas teroris. Lalu bagaimana ini bukan sekadar menunda masalah?
Sebagai orang yang pernah berada di lokasi kejadian seperti ini, saya bisa bilang: de-eskalasi hanya bekerja jika pihak yang terlibat kooperatif. Kalau seseorang menyandera diri dengan senjata dan menolak komunikasi, kita tidak bisa cuma bergandengan tangan dan menyanyi kumbaya.
Kita menggunakan respons paramiliter untuk kegagalan pekerjaan sosial. Ini bukan tugas polisi—ini tugas merespons trauma. Melatih petugas menangani krisis kesehatan mental seperti operasi taktis hanya menciptakan lebih banyak korban.
Jadi kita bayar untuk perlengkapan polisi lebih banyak, pelatihan, senjata… tapi nol konselor krisis? Kenapa kita membiayai gejalanya, bukan akar masalahnya?
Tepat sekali. Kita cuma menempel plester di luka tembakan dan menyebutnya inovasi keamanan publik.
Gampang mengkritik dari kursi empuk. Saya pernah lihat negosiator bicara dua jam—terus orang itu mengeluarkan senjata. Kami punya kewajiban melindungi. Kadang paksaan adalah pilihan terakhir.
Ron, saya hargai pengalamanmu. Tapi ‘pilihan terakhir’ tidak boleh jadi alasan standar untuk eskalasi rutin. Rekaman kamera tubuh menunjukkan tembakan senjata non-memmatikan saat penyerahan diri—dua kali tahun lalu. Itu pola, bukan kejadian langka.
Saya tinggal dua blok dari rumah itu. Takut anak-anak saya keluar dan melihat senjata. Lagi. Kapan kita berhenti jadi medan perang?
Jane, kata ‘lagi’ itu lebih menyakitkan daripada angka statistik mana pun.