Ohio Colleges Defy Reading Law: Is ‘Science of Reading’ a Revolution or a Takeover?
Perguruan Tinggi Ohio Menentang Aturan Bacaan: Apakah 'Ilmu Membaca' Ini Revolusi atau Kudeta?

Jadi sepuluh sekolah pelatihan guru terbesar di Ohio gagal audit karena hanya menggunakan satu buku teks usang atau menyebut 'three-cueing' dalam kuliah? Jujur saja, bukan karena mereka menentang sains—tapi karena pendidikan tinggi sudah mengajarkan literasi 'cara lama' selama 40 tahun. Melepas kebiasaan institusional seperti itu tak bisa diselesaikan dalam satu semester.
Gubernur DeWine bilang ini 'kewajiban moral'—ya, anak-anak pantas mendapat pengajaran membaca terbaik. Tapi mengancam tutup seluruh program keguruan hanya karena satu bagian silabus tak sesuai? Ini bukan reformasi. Ini situasi sandera.
Sebagai orang yang dua dekade membersihkan kekacauan dari 'balanced literacy' di kelas dua SD, saya bilang: puji Tuhan. Anak-anak tidak belajar karena kami membiarkan mereka menebak kata-kata seolah sedang main kuis 'Wheel of Fortune'.
Kami ganti satu buku teks semalam dan dosen merevisi satu mata kuliah. Jika hanya itu yang dibutuhkan, kami bersyukur atas kejelasan ketentuannya. Ayo benahi, bukan lawan.
Audit ini lebih tentang sinyal politik daripada keketatan ilmiah. Anda tidak bisa membakukan pedagogi seperti desain pabrik. Mengajar adalah seni yang dipandu sains—bukan sebaliknya.
Ketika administrator dipecat dan beban kerja dosen melonjak demi kepatuhan, tapi penerbit buku teks tak kena sanksi? Ya, inilah reformasi untuk 1% teratas.
Kami sudah memperbaikinya, dan kami tidak mencari pujian. Beri kami waktu dan dukungan, bukan ancaman.
Anak saya kelas tiga tidak bisa membaca Harry Potter. Sekarang sekolahnya pakai fonik. Dia bisa membaca buku bab sendiri. Teruskan, Ohio. Anak-anak kita pantas mendapatkannya.
Dulu saya mengajar 'three-cueing'. Lalu saya baca penelitiannya. Kini saya sadar kami melatih anak-anak jadi tukang tebak yang buruk. Bukan pembaca. Mengapa kami butuh waktu begitu lama?