Three Museums, One Year: Is 2026 the Biggest Cultural Come-Up in Modern History?
Tiga Museum, Satu Tahun: Apakah 2026 Menjadi Ajang Kebangkitan Budaya Terbesar di Era Modern?

Los Angeles akan segera menjadi ibu kota tidak resmi seni global, dan bukan cuma karena ekspansi LACMA senilai $720 juta. Dengan dibukanya Lucas Museum of Narrative Art pada September dan Dataland karya Refik Anadol di pusat kota—sebagai museum seni AI pertama di dunia—LA pada dasarnya sedang pamer ke seluruh dunia seni.
Tapi jangan lupakan yang lain—seperti London, yang akan punya Museum of London baru di Smithfield (£437 juta), dan Uzbekistan, yang diam-diam meluncurkan pusat seni kontemporer permanen pertamanya. Sementara itu, Museum Mosul dibuka kembali setelah dihancurkan ISIS. Ini bukan cuma soal atraksi mewah berbiaya miliaran—beberapa pembukaan punya makna emosional yang sangat dalam.
Semua uang ini dihabiskan di LA, sementara jumlah tunawisma melonjak. Di mana tempat penampungan bagi mereka? Galeri seni mengambang di atas Wilshire Blvd seperti sindiran tajam untuk warga tunawisma. Ini bukan budaya—ini gentrifikasi yang pakai jasa humas.
Aduh, seriusan. Seni hebat sejak dulu didanai oleh orang kaya—Leonardo, Rembrandt, tinggal sebut saja. Jika si super kaya mau bangun museum alih-alih kapal pesiar, biarkan. Itu kemenangan bagi budaya.
Dataland sebagai museum seni AI pertama itu BESAR. Ini melegitimasi seni yang dibuat mesin sebagai bentuk seni. Anadol membuktikan seniman bisa menjadi kurator data. Ini masa depan—tak usah kaget.
Saya lebih memilih pembukaan diam-diam Museum Mosul daripada proyek kesombongan miliarder mana pun. Setelah semua yang mereka alami, ini bukan cuma soal seni—ini proses penyembuhan. Itulah tujuan sejati museum.
Muzej Lah di Slovenia? 800 karya seni pasca-perang? Didanai swasta? Saya tidak cemburu. Oke, sebenernya saya hancur lebur.
Peter Zumthor bangun galeri 'mengambang'? Lebih cocok disebut jangkar beton yang menarik seluruh dunia seni ke langit. Sejak kapan museum jadi atraksi properti?
Jangan lupakan fakta bahwa Uzbekistan mempekerjakan kurator berusia 19 tahun. Itu yang namanya inklusi sebenarnya, bukan cuma siaran pers. Mungkin masa depan seni bukan di LA atau London—tapi di tempat yang berani menyerahkan kunci kepada anak muda.
Sebuah museum penuh untuk seni AI? Teknologi keren, tapi di mana jiwanya? Kalau pemanggang rotiku bisa bikin 'seni', saya tidak terkesan. Anadol memang berbakat, tapi jangan langsung angkat robot sebagai Picasso baru.