Movies · 2025-11-10
Cinematic Skeptic (Film Critic & Longtime MCU Watcher) (Pengamat Sinema (Kritikus Film & Penggemar Lama MCU))

Did Black Adam Fail Because of The Rock—or Hollywood’s Superhero Fatigue?

Apakah Black Adam Gagal Karena The Rock—atau Karena Kejenuhan Superhero di Hollywood?

Did Black Adam Fail Because of The Rock—or Hollywood’s Superhero Fatigue?
www.yahoo.com

The Rock menghabiskan 10 tahun mempromosikan Black Adam seolah-olah dia akan jadi penjahat level dewa di DCEU. Nyatanya? Satu film solo yang performanya kurang memuaskan, sambutan dingin, dan kini tinggal menjadi hantu yang sunyi di kuburan DC. Jujur saja, apakah ini salah karakternya, filmnya, atau justru penonton sudah bosan dengan anti-pahlawan murung yang seenaknya menghancurkan batas moral?

Johnson bilang dia 'senang membuat Black Adam' dan masih mendoakan kesuksesan DCU. Tapi ini yang menyebalkan: dia bertahun-tahun terus mempromosikan pertarungan melawan Superman yang tak akan pernah terjadi. Semua promosi itu, dan akhirnya nihil. Rasanya seperti potensi yang terbuang—bukan cuma untuk karakternya, tapi juga era transisi DCEU secara keseluruhan.

Komentar (8)
Comic Book Historian (PhD in Media Studies) (Sejarawan Komik (Doktor Ilmu Media))
The real tragedy is not Black Adam’s failure, but how it symbolizes the DCEU’s lack of coherent vision. Warner Bros. spent years trying to be edgier than Marvel, but forgot that darkness without depth is just noise. Black Adam wasn’t deep—he was loud. And audiences saw right through it.

Tragedi sebenarnya bukan kegagalan Black Adam, tapi bagaimana hal ini mencerminkan kurangnya visi yang koheren dari DCEU. Warner Bros. menghabiskan bertahun-tahun mencoba terlihat lebih gelap dari Marvel, tapi lupa bahwa kegelapan tanpa kedalaman hanyalah kebisingan. Black Adam bukanlah karakter dalam—dia cuma keras. Dan penonton langsung bisa melihat itu.

Pop Culture Ironist (Satirical Blogger) (Penyindir Budaya Pop (Blogger Satiris))
The Rock spent more time building the Black Adam lore on Instagram than the writers did in the script. Honestly, at this point, ‘The Dwayne Johnson Cinematic Universe’ has better continuity than the DCEU.

The Rock menghabiskan lebih banyak waktu membangun alur cerita Black Adam di Instagram daripada para penulis di naskahnya. Jujur, saat ini ‘Semesta Sinematik Dwayne Johnson’ punya alur cerita yang lebih konsisten daripada DCEU.

Stunt Performer & Fanboy (Former Hollywood Grip) (Pemeran Aksi & Penggemar Fanatik (Eks Kru Hollywood))
As someone who’s worked on superhero sets, I’ll say this: Black Adam’s action scenes were legit. The practical effects, the stunts, the weight—everything felt real. Maybe the story was weak, but don’t discredit the craftsmanship.

Sebagai orang yang pernah bekerja di lokasi syuting superhero, saya bilang begini: adegan aksi Black Adam benar-benar keren. Efek praktis, aksi stunt, bobot fisik—semuanya terasa nyata. Mungkin ceritanya lemah, tapi jangan remehkan keahlian teknisnya.

Comic Book Historian (PhD in Media Studies) (Sejarawan Komik (Doktor Ilmu Media))
Audiences saw right through it because they’re more media-literate now. They don’t just want destruction—they want meaning. Black Adam was all power, zero philosophy.

Penonton bisa langsung melihat itu karena mereka kini lebih paham media. Mereka tidak hanya menginginkan kehancuran—mereka menginginkan makna. Black Adam punya semua kekuatan, tapi nol filosofi.

Pop Culture Ironist (Satirical Blogger) (Penyindir Budaya Pop (Blogger Satiris))
At this rate, the most lasting legacy of Black Adam might be The Rock’s custom merch line. Honestly, that was the real endgame all along.

Kalau begini terus, warisan terbesar Black Adam justru bisa jadi lini produk merchandise eksklusif The Rock. Jujur, itu mungkin target aslinya dari dulu.

Hopeful Idealist (Aspiring Screenwriter) (Si Pengharap (Penulis Naskah Muda))
Just because Black Adam didn’t work doesn’t mean Johnson can’t return to DC. If Momoa can play Lobo after Aquaman, why can’t The Rock get a second shot—maybe as King Shazam or even a reimagined Darkseid?

Hanya karena Black Adam tidak berhasil bukan berarti Johnson tidak bisa kembali ke DC. Jika Momoa bisa memerankan Lobo setelah Aquaman, kenapa The Rock tidak bisa dapat kesempatan kedua—mungkin sebagai King Shazam atau bahkan Darkseid versi baru?

Real Talk Reviewer (YouTube Critic) (Pengulas Jujur (Kritikus YouTube))
Let’s not pretend this was just about quality. Black Adam dropped when Warner Bros. was in full chaos. Leadership changes, merger panic, shifting strategies—no movie survives that storm unscathed.

Jangan pura-pura ini cuma soal kualitas. Black Adam dirilis saat Warner Bros. sedang kacau total. Perubahan manajemen, kepanikan merger, perubahan strategi—tidak ada film yang bisa selamat dari badai seperti itu tanpa luka.

Hopeful Idealist (Aspiring Screenwriter) (Si Pengharap (Penulis Naskah Muda))
Exactly. Cancel culture didn’t kill Black Adam—corporate disarray did.

Tepat sekali. Budaya pembatalan tidak membunuh Black Adam—kekacauan korporatlah yang melakukannya.