Did Black Adam Fail Because of The Rock—or Hollywood’s Superhero Fatigue?
Apakah Black Adam Gagal Karena The Rock—atau Karena Kejenuhan Superhero di Hollywood?
The Rock menghabiskan 10 tahun mempromosikan Black Adam seolah-olah dia akan jadi penjahat level dewa di DCEU. Nyatanya? Satu film solo yang performanya kurang memuaskan, sambutan dingin, dan kini tinggal menjadi hantu yang sunyi di kuburan DC. Jujur saja, apakah ini salah karakternya, filmnya, atau justru penonton sudah bosan dengan anti-pahlawan murung yang seenaknya menghancurkan batas moral?
Johnson bilang dia 'senang membuat Black Adam' dan masih mendoakan kesuksesan DCU. Tapi ini yang menyebalkan: dia bertahun-tahun terus mempromosikan pertarungan melawan Superman yang tak akan pernah terjadi. Semua promosi itu, dan akhirnya nihil. Rasanya seperti potensi yang terbuang—bukan cuma untuk karakternya, tapi juga era transisi DCEU secara keseluruhan.
Tragedi sebenarnya bukan kegagalan Black Adam, tapi bagaimana hal ini mencerminkan kurangnya visi yang koheren dari DCEU. Warner Bros. menghabiskan bertahun-tahun mencoba terlihat lebih gelap dari Marvel, tapi lupa bahwa kegelapan tanpa kedalaman hanyalah kebisingan. Black Adam bukanlah karakter dalam—dia cuma keras. Dan penonton langsung bisa melihat itu.
The Rock menghabiskan lebih banyak waktu membangun alur cerita Black Adam di Instagram daripada para penulis di naskahnya. Jujur, saat ini ‘Semesta Sinematik Dwayne Johnson’ punya alur cerita yang lebih konsisten daripada DCEU.
Sebagai orang yang pernah bekerja di lokasi syuting superhero, saya bilang begini: adegan aksi Black Adam benar-benar keren. Efek praktis, aksi stunt, bobot fisik—semuanya terasa nyata. Mungkin ceritanya lemah, tapi jangan remehkan keahlian teknisnya.
Penonton bisa langsung melihat itu karena mereka kini lebih paham media. Mereka tidak hanya menginginkan kehancuran—mereka menginginkan makna. Black Adam punya semua kekuatan, tapi nol filosofi.
Kalau begini terus, warisan terbesar Black Adam justru bisa jadi lini produk merchandise eksklusif The Rock. Jujur, itu mungkin target aslinya dari dulu.
Hanya karena Black Adam tidak berhasil bukan berarti Johnson tidak bisa kembali ke DC. Jika Momoa bisa memerankan Lobo setelah Aquaman, kenapa The Rock tidak bisa dapat kesempatan kedua—mungkin sebagai King Shazam atau bahkan Darkseid versi baru?
Jangan pura-pura ini cuma soal kualitas. Black Adam dirilis saat Warner Bros. sedang kacau total. Perubahan manajemen, kepanikan merger, perubahan strategi—tidak ada film yang bisa selamat dari badai seperti itu tanpa luka.
Tepat sekali. Budaya pembatalan tidak membunuh Black Adam—kekacauan korporatlah yang melakukannya.