Is America’s Consumer Doom Loop Finally Cracking? Inflation Fears Ease—But Can Hope Survive 16.8% Tariffs?
Apakah Lingkaran Setan Konsumen Amerika Akhirnya Mulai Pecah? Kekhawatiran Inflasi Mereda—Tapi Harapan Bisa Bertahan Melawan Tarif 16,8%?

Indeks sentimen konsumen Michigan naik tipis ke 53,3—melebihi perkiraan ekonom tapi tetap sangat terpuruk. Untuk konteks, dulu angka 70+ adalah hal biasa. Yang bikin geleng kepala? Ekspektasi inflasi justru turun ke 4,1%, terendah sejak Trump mulai membebani tarif. Ironisnya: kebijakan yang katanya 'melindungi' ekonomi justru kini terasa seperti jangkar paling berat.
Ayo jujur—tarif bukan cuma kena impor; tapi juga kena pilihan konsumen. Tarif tinggi artinya lebih sedikit produk di rak, waktu tunggu lebih lama, dan kenaikan harga tersembunyi. Namanya juga pajak siluman. Saat AS menetapkan tarif 16,8%, yang bayar bukan Tiongkok—tapi keluarga Amerika di Walmart.
Oh ayolah. Anda kira keluarga di Ohio peduli 'pilihan konsumen'? Mereka peduli pekerjaan. Tarif Trump selamatkan industri baja. Tanpa tarif, tidak ada pabrik, tidak ada gaji. Anda membela barang plastik murahan ketimbang mata pencaharian rakyat Amerika.
Saya bukan orang kaya. Saya belanja di Walmart. Tapi harganya naik untuk popok, pasta, dan sayuran kalengan. Bilang saya bagaimana tarif melindungi keluarga saya saat saya harus memilih antara kacang dan tisu toilet.
Ini teriakan deja vu 1930-an. Apakah ada yang ingat Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley? Tarif rata-rata AS menyentuh 16,8%—sama seperti sebelum Depresi Hebat. Dulu kita mulai perang dagang dan terjerembab lebih dalam dalam krisis. Apakah ini jurus yang ingin kita ulangi?
Sentimen 53,3? Masih di bawah hampir semua data dari 2000–2020 kecuali 2008 dan 2020. Orang bukan cuma kesal—mereka pesimistis secara struktural. Ini bukan suasana hati sesaat; ini norma ekonomi baru.
Kalian terlalu pesimistis sampai bikin sedih. Inflasi turun, sentimen naik, pekerjaan stabil. Trennya sebenarnya hijau. Belajarlah menerima kemenangan, dong. Ekonomi bukan drama TikTok.
Data berbicara: ekspektasi inflasi turun adalah kemenangan bagi kredibilitas The Fed. Tapi kesenjangan sentimen mengungkap kebenaran lebih dalam—orang tidak merasa pemulihan itu. Kebijakan bisa perbaiki angka, tapi tidak kepercayaan.