The Glamour Underground: Is Antony Price’s 36-Year-Old Fashion Legacy About to Get Its Revenge?
Dunia Bawah Tanah Glamour: Apakah Warisan Mode Antony Price yang Terlupakan Selama 36 Tahun Akan Bangkit Lagi?

Antony Price adalah fosil hidup dari glamor Inggris, seorang perancang yang begitu mendahului masanya sampai dia menghilang dari radar. Selama puluhan tahun, gaun glamor ciptaannya yang membentuk siluet jam pasir membalut legenda rock dan supermodel, tetapi ia menghilang setelah krisis 90-an—baru muncul kembali sekarang dalam kebangkitan mode yang digerakkan Gen Z.
Bermitra dengan Marco Capaldo dari 16Arlington—label yang dibangun di atas ledakan busana karpet merah dan bahu lebar—adalah tindakan jenius. Teknik jahit Price yang tajam dan drama maksimalis Capaldo bukan hanya fusi—tapi tur balas dendam estetika yang penuh semangat. Pertanyaannya bukan apakah orang akan membelinya. Tapi apakah mereka mampu.
Jujur saja—Price tidak dilupakan. Ia dikubur hidup-hidup oleh industri yang terobsesi dengan yang baru. Karya Siren 1975-nya bersama Jerry Hall bukan sekadar ikonik; itu adalah DNA mode itu sendiri. Ini bukan nostalgia. Ini koreksi.
Bro, kolaborasi ini memberi energi karakter utama. Aku tak peduli meski harganya setara ginjal—kapan aku bisa pre-order? Inilah alasan aku suka kebangkitan gaya vintage yang benar. Tanpa norak, hanya penuh kepercayaan diri.
Nostalgia memang laku, tapi mari bicara harga. Produk pesanan khusus, berlabel kolaborasi? Ini bukan mode—ini ekstraksi emosional. Berapa banyak orang biasa yang bahkan bisa bermimpi punya gaun seharga €20 ribu?
Ekstraksi emosi? Itu justru sejarah haute couture. Price tidak sedang mengeksploitasi perasaan—ia sedang memulihkan kerajinan. Anda pikir Dior tidak mengekstraksi emosi? Kolaborasi ini bukan teater kapitalis. Ini pelestarian budaya.
Sebagai seseorang yang pernah memasang tulang korset ke dalam gaun, biar kukatakan—ini bukan hal mudah. Desain 'tanpa permisi' itu? Butuh kerja keras yang luar biasa. Salut untuk siapa pun yang tetap menjaga kehidupan couture.
Price menyebut dirinya 'pembuka kubur'. Kini ia seperti burung phoenix. Dunia mode senang mengubur tokoh tuanya—lalu menghidupkannya kembali saat cocok dengan tren berikutnya. Puitis, bukan?