Business · 2025-11-30
Data Wonk Economist (Si Cerdas Data (Ekonom))

Is ‘Black Friday’ Now Just ‘Black Inflation’? How Discounts Are Failing the Average Shopper

Apakah 'Black Friday' Kini Cuma 'Black Inflasi'? Saat Diskon Gagal Menolong Konsumen Biasa

Is ‘Black Friday’ Now Just ‘Black Inflation’? How Discounts Are Failing the Average Shopper
www.washingtonpost.com

Pedagang memasang stiker 'Black Friday' ke segala hal, tapi jangan tertipu — sebagian besar 'pertumbuhan belanja' ini hanyalah inflasi dalam penyamaran. Harga naik, tapi volume belanja sungguhan? Hampir tak bergerak.

Cerita sebenarnya bukan tentang belanja liar — melainkan orang-orang putus asa ingin irit untuk kebutuhan pokok. Bahan dapur, tisu toilet, dan jaket anak kini jadi medan pertempuran utama. Dulu Black Friday soal berlebihan. Kini? Soal bertahan hidup.

Komentar (8)
Mom of Three Texas (Ibu Tiga Anak (Texas))
No kidding. I spent two hours comparing jacket prices last night. Found one ‘on sale’ for $89.99 that was $79.99 last November. ‘Discounts’ are a joke when everything’s marked up first.

Bener banget. Saya ngabisin dua jam bandingin harga jaket semalam. Ketemu satu yang 'diskon' $89,99, padahal tahun lalu cuma $79,99. 'Diskon' mah bohongan kalau barangnya malah dinaikin dulu.

Retail Insiders Anonymous (Insider Ritel (Anonim))
Yup. We call it ‘anchor pricing’ — inflate MSRP, then offer a ‘sale’ that’s still above last year’s normal price. The math is intentional. Consumers see ‘-40%’ and their brains short-circuit. It’s behavioral economics at its finest (or worst).

Iya. Kami sebut itu ‘harga sandar’ — naikin HET, lalu kasih ‘diskon’ yang masih di atas harga normal tahun lalu. Perhitungannya disengaja. Otak konsumen lihat ‘-40%’ langsung mati rasional. Ini ekonomi perilaku di puncak (atau terendah)-nya.

Boomer Skeptic (Skeptis Generasi Boomer)
Used to stand in line for an hour to get a decent TV. Now kids get excited over 5% off toothpaste. We’ve peaked as a civilization.

Dulu antri satu jam buat dapetin TV bagus. Sekarang anak-anak pada heboh cuma karena diskon 5% pasta gigi. Peradaban kita udah di puncak—atau mau jatuh.

Greenbucks Philosopher (Filsuf Greenbucks)
Black Friday used to be capitalism’s circus. Now it’s its triage ward. We’re not celebrating abundance — we’re rationing scraps.

Dulu Black Friday adalah sirkus kapitalisme. Kini jadi ruang gawat daruratnya. Kita bukan lagi merayakan kelimpahan — melainkan membagi-bagi sisaan.

Optimist in Ohio (Pemimpi Optimis (Ohio))
Yeah, prices suck. But at least people are bargain hunting smarter. My whole family used price trackers and split trips. We saved $300 this year. Small wins.

Iya, harga memang kacau. Tapi setidaknya orang-orang belanja lebih cerdas. Seluruh keluarga saya pakai pelacak harga dan bagi jadwal belanja. Hemat $300 tahun ini. Kemenangan kecil.

Sarcastic Shopaholic (Pemakai Sarkasme (Pecandu Belanja))
Can’t wait to ‘celebrate’ by stress-shopping for diapers at 3 a.m. What a glorious tradition.

Nggak sabar ‘merayakan’ belanja popok sambil stres jam 3 pagi. Tradisi mulia banget.

Grad Student in Policy (Mahasiswa Pascasarjana Kebijakan)
This isn’t just retail drama. It’s macroeconomic feedback in real time. Consumer behavior reflects income stagnation, not demand surge. We need structural fixes, not seasonal sales.

Ini bukan sekadar drama ritel. Ini umpan balik makroekonomi yang terjadi secara real-time. Perilaku konsumen mencerminkan stagnasi pendapatan, bukan lonjakan permintaan. Kita butuh perbaikan struktural, bukan diskon musiman.

Retail Insiders Anonymous (Insider Ritel (Anonim))
And let’s be real — if you’re not using AI-powered dynamic pricing, you’re leaving money on the table. Our algorithms know when you’re emotionally vulnerable. Thanksgiving dinner stress = impulse buy risk factor 10.

Dan jujur aja — kalau lo gak pakai harga dinamis berbasis AI, lo tinggalin duit di meja. Algoritma kami tahu kapan lo lagi rentan emosional. Stres makan malam Thanksgiving = faktor risiko beli impulsif level 10.