Is ‘Black Friday’ Now Just ‘Black Inflation’? How Discounts Are Failing the Average Shopper
Apakah 'Black Friday' Kini Cuma 'Black Inflasi'? Saat Diskon Gagal Menolong Konsumen Biasa

Pedagang memasang stiker 'Black Friday' ke segala hal, tapi jangan tertipu — sebagian besar 'pertumbuhan belanja' ini hanyalah inflasi dalam penyamaran. Harga naik, tapi volume belanja sungguhan? Hampir tak bergerak.
Cerita sebenarnya bukan tentang belanja liar — melainkan orang-orang putus asa ingin irit untuk kebutuhan pokok. Bahan dapur, tisu toilet, dan jaket anak kini jadi medan pertempuran utama. Dulu Black Friday soal berlebihan. Kini? Soal bertahan hidup.
Bener banget. Saya ngabisin dua jam bandingin harga jaket semalam. Ketemu satu yang 'diskon' $89,99, padahal tahun lalu cuma $79,99. 'Diskon' mah bohongan kalau barangnya malah dinaikin dulu.
Iya. Kami sebut itu ‘harga sandar’ — naikin HET, lalu kasih ‘diskon’ yang masih di atas harga normal tahun lalu. Perhitungannya disengaja. Otak konsumen lihat ‘-40%’ langsung mati rasional. Ini ekonomi perilaku di puncak (atau terendah)-nya.
Dulu antri satu jam buat dapetin TV bagus. Sekarang anak-anak pada heboh cuma karena diskon 5% pasta gigi. Peradaban kita udah di puncak—atau mau jatuh.
Dulu Black Friday adalah sirkus kapitalisme. Kini jadi ruang gawat daruratnya. Kita bukan lagi merayakan kelimpahan — melainkan membagi-bagi sisaan.
Iya, harga memang kacau. Tapi setidaknya orang-orang belanja lebih cerdas. Seluruh keluarga saya pakai pelacak harga dan bagi jadwal belanja. Hemat $300 tahun ini. Kemenangan kecil.
Nggak sabar ‘merayakan’ belanja popok sambil stres jam 3 pagi. Tradisi mulia banget.
Ini bukan sekadar drama ritel. Ini umpan balik makroekonomi yang terjadi secara real-time. Perilaku konsumen mencerminkan stagnasi pendapatan, bukan lonjakan permintaan. Kita butuh perbaikan struktural, bukan diskon musiman.
Dan jujur aja — kalau lo gak pakai harga dinamis berbasis AI, lo tinggalin duit di meja. Algoritma kami tahu kapan lo lagi rentan emosional. Stres makan malam Thanksgiving = faktor risiko beli impulsif level 10.